Apakah Depresi Menular? Ini Penjelasannya


Tidak kasat mata, tapi sama sekali tidak boleh diremehkan. Masalah kesehatan mental seperti depresi termasuk di dalamnya. Menariknya, bisa saja mood dan gejala depresi menular kepada orang lain.

0,0
01 Aug 2021|Azelia Trifiana
Depresi dapat menularDepresi dapat menular
Tidak kasat mata, tapi sama sekali tidak boleh diremehkan. Masalah kesehatan mental seperti depresi termasuk di dalamnya. Menariknya, bisa saja mood dan gejala depresi menular kepada orang lain. Fenomena ini serupa dengan bagaimana seseorang bisa tertular keinginan untuk bunuh diri.Pola ini sangatlah menarik. Bahkan, para peneliti mencurahkan waktu dan ilmu mereka untuk mengulik soal apakah depresi menular atau tidak. Faktor lain yang turut berperan dalam hal ini adalah koneksi, interaksi sosial, hingga emosi.

Fenomena depresi menular

Penelitian pada awal tahun 2013 lalu menemukan bahwa emosi, pola perilaku, dan juga mood bisa menular antara satu orang dan lainnya. Bahkan, bukan hanya pada orang yang berada di satu lingkaran pertemanan atau kerabat dekat saja. Sebagian besar riset menemukan bahwa pengaruh ini bisa mencapai tiga tingkat.Artinya, apabila ada teman Anda yang memiliki teman, dan temannya lagi mengalami depresi, risiko untuk merasakan hal yang sama tetap ada. Ini juga berlaku pada fenomena konsumsi alkohol, obat, nafsu makan, dan rasa kesepian.Lihat saja bagaimana perilaku merokok juga menular. Kecenderungan seseorang mulai atau berhenti merokok bisa saja berkaitan erat dengan bagaimana lingkungan di sekitarnya, seperti yang dikulik oleh tim peneliti Harvard Medical School.Bukan hanya itu saja, fenomena bunuh diri juga bisa terjadi dalam kelompok. Sebuah studi pada tahun 2004 mengungkapkan bahwa memiliki teman yang bunuh diri meningkatkan risiko munculnya suicidal thought atau bahkan percobaan bunuh diri. Hal ini berlaku baik pada perempuan maupun laki-laki.

Bagaimana penularannya?

Tentu depresi menular tidak sesederhana karena ada kontak langsung atau menggunakan barang pribadi bersama-sama. Emosi memang bisa menular, namun caranya bisa terjadi lewat hal-hal berikut:
  • Komparasi sosial

Baik di dunia nyata maupun media sosial, kerap kali seseorang tanpa sadar membandingkan dirinya dengan orang lain. Evaluasi pun muncul berdasarkan komparasi semacam ini. Ketika terjebak dalam pola pikir negatif, terkadang ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental dan meningkatkan risiko mengalami depresi
  • Interpretasi emosi

Emosi dan bahasa tubuh teman akan menjadi sinyal dan sumber informasi otak Anda. Bukan hanya saat berinteraksi langsung, namun juga lewat interaksi di dunia maya. Dengan segala ambigu yang menyertai komunikasi tidak langsung, ini bisa menyebabkan interpretasi informasi dan emosi salah kaprah.
  • Empati

Memiliki rasa empati adalah hal yang baik. Namun ketika Anda terlalu fokus dan berusaha menempatkan diri seperti posisinya saat itu, justru ini bisa menjadi celah depresi menular.Perlu digarisbawahi bahwa menemani atau berinteraksi dekat dengan orang depresi secara otomatis akan membuat Anda mengalami hal yang sama. Hanya saja, risiko untuk mengalaminya lebih tinggi terutama apabila Anda berada dalam kondisi rentan.

Siapa yang rentan depresi?

Oleh sebab itu, penting mengenali siapa saja yang berisiko lebih tinggi mengalami depresi, seperti:
  • Pernah mengalami depresi atau gangguan mood
  • Riwayat keluarga mengalami depresi
  • Pengasuhan masa kecil oleh orangtua yang depresi
  • Mengalami perubahan besar dalam hidup
  • Mencari kepastian dan sangat bergantung pada orang lain
  • Mengalami stres kronis
  • Aspek kognitifnya rentan
  • Menderita penyakit kronis
  • Memiliki neurotransmitter yang tidak seimbang

Media sosial juga turut berperan

Remaja dan perempuan adalah pihak yang lebih rentan menularkan sekaligus tertular emosi dan gejala depresi. Jika dikerucutkan kemungkinannya, depresi menular lebih mungkin terjadi apabila orang-orang di sekitar Anda mengalaminya.Mereka adalah salah satu dari orangtua, anak, pasangan, teman sekamar, dan sahabat. Jangan salah, teman di dunia maya juga turut berperan dalam kesehatan mental Anda. Media sosial dengan segala pengaruhnya dapat menjadi media penularan depresi.Ini terbukti dari penelitian Cornell University di Ithaca, New York yang menemukan bahwa ketika informasi yang dibaca di media sosial cenderung negatif, orang yang bersangkutan akan mengunggah hal cenderung negatif pula. Fenomena ini berlangsung layaknya magnet.Sebaliknya ketika ada lebih banyak berita positif, emosi orang yang membacanya pun turut membaik.

Kenali gejala depresi menular

Setelah memahami bagaimana mekanisme depresi menular, saatnya mengulik gejalanya. Contohnya adalah:
  • Merasa pesimis
  • Didominasi pikiran negatif
  • Merasa tidak berdaya
  • Mudah tersinggung
  • Merasa gelisah
  • Cemas berlebih
  • Merasa sedih
  • Merasa bersalah
  • Mood swing
  • Muncul suicidal thought
Ketika gejala di atas semakin tidak terkendali bahkan sampai mengganggu produktivitas, jangan tunda untuk mencari bantuan. Sampaikan apa yang dirasakan sejelas-jelasnya agar tahu apakah sedang mengalami depresi atau tidak.Terlebih, terkadang tidaklah mudah berbicara tentang gejala-gejala depresi ini. Sifatnya abstrak. Tidak kasat mata. Jadi, susah-susah gampang mengenali apa yang sedang dirasakan.Jadi, memang idealnya bicarakan dengan pakarnya yang bisa membantu validasi emosi dan perasaan dengan akurat. Ketika gejala depresi ini muncul setelah melihat media sosial, ada baiknya mencoba digital detox dan lihat perubahannya.Untuk berdiskusi lebih lanjut tentang apakah Anda rentan tertular atau bahkan tanpa disadari menyebabkan depresi menular, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
depresigangguan mentalkesehatan mental
Healthline. https://www.healthline.com/health/is-depression-contagious
Diakses pada 17 Juli 2021
Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. https://www.pnas.org/content/111/24/8788.short
Diakses pada 17 Juli 2021
Stat Med. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3830455/
Diakses pada 17 Juli 2021
The New England Journal of Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3830455/
Diakses pada 17 Juli 2021
American Journal of Public Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1449832/
Diakses pada 17 Juli 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait