Efek vaksin menyebabkan autis pada anak-anak sering meresahkan orangtua
Polemik vaksin memang seakan tiada habisnya

Polemik vaksin memang seakan tiada habisnya, dimulai dari keresahan akan kehalalan kandungan vaksin hingga desas-desus vaksin menyebabkan autis. Pahami dulu secara seksama supaya Anda dan buah hati bisa mendapatkan fakta sebenarnya untuk mengambil keputusan vaksinasi.

Mengenal Autis dan Efek Vaksin

Autis dikenal sebagai kelainan pertumbuhan pada anak yang berkaitan dengan interaksi sosial, minimnya komunikasi dan gejala lainnya. Autis sering terdeteksi pada anak-anak usia balita, dan juga lebih sering menimpa pada anak lelaki dibandingkan dengan perempuan - sesuai temuan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Hingga saat ini, penyebab autis pada anak-anak secara pasti masih menjadi misteri medis. Namun pendapat populer oleh para ahli sering mengacu pada kombinasi genetik dan faktor-faktor lingkungan sebagai penyebab autis pada umumnya.

Sedangkan efek vaksin sebagai penyebab autis pada anak-anak sendiri masih tidak bisa dikonfirmasi. Menurut Barbara Loe Fisher, salah satu penemu dan ketua National Vaccine Information Center Amerika Serikat, efek vaksin dipercayai sebagai pemicu pada beberapa kasus autis jenis “regresif”. Ini artinya kalau pada beberapa kasus tertentu, ada anak yang menunjukkan kemunduran perkembangan setelah mendapatkan suntikan vaksin.

Hal ini juga didukung oleh riset Paul Shattock, seorang ahli biokimia dan farmasi yang menjadi penemu Autism Research Unit di University of Sunderland, Inggris. Beberapa penemu juga mempercayai adanya kaitan antara autis dan vaksin MMR melalui riset yang mereka lakukan.

Pro Vaksin Secara Medis

Berbeda dengan pendapat oleh Fisher ataupun Shattock, badan kesehatan di Amerika Serikat seperti CDC, Departemen Kesehatan USA, Institut Nasional Kesehatan Anak, Institut Kesehatan Nasional, Badan Pediatrik Amerika Serikat dan Komite Keselamatan Obat-obatan di United Kingdom seluruhnya menolak hasil riset yang mengaitkan antara efek vaksin dengan autis pada anak-anak.

Hipotesis bahwa vaksin menyebabkan autis dinyatakan tidak benar dan tidak berdasar sama sekali oleh beberapa badan kesehatan dunia dengan reputasi terpercaya ini. Pihak CDC juga terus melakukan banyak evaluasi berkelanjutan untuk terus mempelajari korelasi antara efek vaksin dan autis.

Kesimpulan

Beberapa orang tua dari anak penderita autis, termasuk Fisher dan Shattock, tetap berprinsip bahwa vaksin menyebabkan autis. Namun perlu diperhatikan kalau evaluasi atau riset yang dilakukan hanyalah menggunakan sampel dalam jumlah kecil, terutama terkait ketidakteraturan pada sistem imunisasi dan saraf anak-anak. Artinya? Masih banyak faktor yang tidak diikutsertakan dalam riset mereka ini.

Secara garis besarnya, para ahli kesehatan sendiri termasuk tim periset dari Rumah Sakit Anak di Newark, New Jersey, tetap lebih memilih pro vaksin karena yakin akan manfaatnya yang lebih besar dibandingkan dengan risiko autis yang belum tentu benar adanya.

Jika anak-anak melewatkan vaksin wajib seperti MMR, maka hal ini bisa berpotensi pada risiko yang serius dan bahkan mengancam keselamatan jiwa mereka, seperti encephalitis atau radang otak yang berakibat fatal.

Bahkan penyakit campak yang terkesan sepele juga punya risiko kerusakan otak hingga kematian. Penyakit gondong bisa mengakibatkan kehilangan pendengaran dan meningitis/infeksi otak. Terakhir, Rubella bisa mengakibatkan cacat pada anak atau bahkan kematian bayi di dalam kandungan. Padahal, vaksin MMR terjadwal bisa mencegah terjangkitnya seluruh penyakit mematikan ini dengan efektif.

Kesimpulan akhirnya: Hingga saat ini, belum ada riset yang cukup untuk membuktikan kalau vaksin menyebabkan autis.

Hingga hadirnya riset terpercaya yang mengemukakan hubungan langsung antara efek vaksin dengan autis, orang tua dianjurkan untuk mengikuti nasehat medis atau kedokteran yaitu  memberikan vaksin imunisasi secara terjadwal untuk si buah hati

Artikel Terkait

Banner Telemed