MSG: Meningkatkan Nafsu Makan, Tetapi Selalu Disalahkan

Keamanan MSG sering dipertanyakan walaupun sudah banyak penelitian yang membuktikan
Sehat atau tidaknya MSG masih banyak diperdebatkan

Monosodium glutamate (MSG), yang juga dikenal sebagai micin, merupakan penyedap rasa yang paling banyak digunakan di dunia – mengingat rasa gurih yang diciptakan tidak dapat diperoleh dari makanan lain. Awalnya, rasa yang diciptakan MSG ini disebut sebagai umami oleh orang Jepang, yang kemudian disebut sebagai “gurih” di Indonesia.

Penelitian yang berhasil membuktikan efek berbahaya MSG membuat banyak peneliti lain tertarik untuk mempelajari efek samping MSG secara lebih mendalam. Efek neurotoksik pada otak, obesitas, gangguan sistem metabolik, chinese restaurant syndrome, dan efek pada organ kelamin banyak dihubungkan dengan konsumsi MSG dalam pola makan. Meskipun demikian, apakah benar MSG merupakan penyebab dari berbagai gangguan kesehatan ini? Berikut ulasannya untuk Anda.

Sejarah MSG

Asam glutamat pertama kali ditemukan pada tahun 1866 oleh seorang ahli kimia Jerman, Karl Heinrich Ritthausen, dari gluten gandum dengan asam sulfur. Puluhan tahun berselang, Kikunae Ikeda dari Universitas Imperial Tokyo mengisolasi asam glutamat sebagai perasa di tahun 1908 dari rumput laut, yang kemudian disebut sebagai umami.

Ikeda menyadari bahwa dashi (kaldu Jepang) memiliki rasa unik yang belum pernah dijelaskan secara ilmiah. Untuk memverifikasi rasa baru ini, ia kemudian mempelajari sifat dari garam glutamat.

Seiring berjalannya waktu, ia menemukan bahwa natrium glutamat (sodium glutamate) merupakan bentuk senyawa yang paling mudah larut, enak dimakan, dan paling mudah dikristalkan. Inilah mengapa ia menyebut produknya sebagai ‘monosodium glutamate’, dan mendaftarkan paten untuk memproduksi MSG. Di tahun 1909, Suzuki bersaudara mulai memproduksi MSG secara komersil dengan merek Aji-no-moto (penyedap rasa).

Keamanan MSG Menurut FDA

Seiring dengan banyaknya konsumsi dan penggunaan MSG di dunia, banyak yang mulai mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan, seperti penurunan fungsi otak, gangguan sistem metabolik tubuh, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, banyak penelitian tidak dapat membuktikan berbagai efek samping tersebut dan penelitian yang dilakukan hanya semakin membuktikan tingkat keamanan MSG.

Badan pengawas makanan dan obat-obatan Amerika Serikat (FDA) bahkan menganugerahkan MSG sebagai penyedap rasa yang ‘secara umum diakui aman’. Dengan pengakuan tersebut, FDA menempatkan MSG dalam kategori yang sama dengan garam, gula, rempah-rempah, dan vitamin.

Meskipun demikian, sama seperti penyedap rasa lainnya, FDA menambahkan bahwa MSG dinyatakan aman jika ‘dikonsumsi dengan dosis yang sewajarnya’. Peneliti di Slovakia menyatakan bahwa 16 mg/kg berat badan per hari merupakan batas aman konsumsi MSG pada manusia. Ini berarti, jika berat badan Anda adalah 50 kg, Anda boleh mengonsumsi MSG sebanyak 8 gram per hari.

MSG dan Kinerja Otak

Popularitas MSG sebagai penyedap rasa tidak hanya menimbulkan kontroversi seputar keamanannya tetapi juga mengenai efeknya terhadap kinerja otak. Terdapat rumor yang menyatakan bahwa MSG dapat membuat seseorang menjadi lebih lemot dan kurang cerdas.

Sebuah penelitian menemukan bahwa konsumsi MSG tidak berbahaya bagi otak manusia karena selaput pembatas antara otak dan darah tidak memungkinkan glutamat untuk masuk ke dalam otak.

Penelitian tersebut juga menambahkan bahwa glutamat dalam MSG hanya akan masuk ke dalam otak jika kadar glutamat dalam darah meningkat. Hal tersebut hanya terjadi saat MSG yang dikonsumsi melebihi batas normalnya.

Hal ini juga didukung oleh penelitian lain yang menjelaskan bahwa konsumsi MSG secara berlebihan dapat meningkatkan kadar glutamat dalam tubuh yang dapat merusak sel-sel otak.

Menariknya, terdapat penelitian yang menemukan bahwa mengonsumsi MSG dapat meningkatkan fungsi otak. Penelitian ini dilakukan oleh peneliti asal Jepang yang menuliskan bahwa konsumsi MSG dapat meningkatkan nafsu makan dan fungsi otak pada penderita dementia.

Akan tetapi, masih terdapat penelitian yang juga menemukan bahwa konsumsi MSG dapat menurunkan fungsi otak meskipun dalam kadar yang rendah. Oleh karenanya, efek MSG terhadap otak manusia masih perlu penelitian lebih lanjut.   

Chinese Restaurant Syndrome: Reaksi Alergi Terhadap MSG

Berbagai masakan Cina terkenal mengandung MSG sebagai senyawa penambah rasa utama. Individu yang sensitif mungkin dapat mengalami sakit kepala, pusing, berkeringat, sakit perut, dan urtikaria dalam beberapa jam setelah mengonsumsi MSG.

Jika dikonsumsi secara berlebihan, MSG dapat menyebabkan angioedema. Gejala penyakit ini timbul sekitar 8-16 jam setelah konsumsi MSG dan mungkin akan terus berlangsung selama 24 jam, sebagaimana yang pernah dilaporkan di Australia.

Angioedema di daerah uvula atau pembengkakan di daerah tenggorokan bisa berakibat fatal dan menyebabkan kematian – inilah mengapa diagnosis dan terapi yang tepat waktu akan sangat berguna untuk menghindari kasus kematian.

Chinese restaurant syndrome pertama kali disebut oleh Dr. Robert Ho Man Kwok di tahun 1968. Penyebab utamanya belum diketahui, tetapi penelitian pada hewan telah menunjukkan adanya efek neurotoksik dan neuroeksitatori pada sistem saraf manusia.

Dalam penelitian lain, kajian sistematik yang dilakukan oleh Obayashi dan Nagamura dalam mengevaluasi hubungan sebab-akibat antara MSG dan sakit kepala tidak memiliki temuan yang jelas dan masih perlu diteliti lebih lanjut.

Meskipun demikian, konsumsi MSG dalam jumlah besar tanpa makanan padat (seperti dalam sup) dianggap berisiko tinggi dalam menyebabkan sakit kepala dan gejala-gejala lainnya.

Bera, T.K., Kar, S.K., Yadav, P.K., Mukherjee, P., Yadav, S., & Joshi, B. (2017). Effects of monosodium glutamate on human health: A systematic review. World Journal of Pharmaceutical Sciences, 5(5), 139-144.

EJCN. https://www.nature.com/articles/s41430-018-0349-x#ref-CR21

Fernstorm, J.D. (2018). Monosodium in the diet does ot raise brain glutamate concentrations or disrupt brain functions. Annals of Nutrition and Metabolism, 73, 43-52. doi: 10.1159/000494782

FDA. https://www.fda.gov/food/ingredientspackaginglabeling/foodadditivesingredients/ucm094211.htm

Harvard Journal. https://dash.harvard.edu/bitstream/handle/1/8846733/Sing05.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Husarova, V., & Ostatnikova, D. Monosodium glutamate toxic effects and their implications for human intake: A review. JMED Research, 2013, 1-12. doi:  10.5171/2013.608765 

Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/320191030_Effects_of_monosodium_glutamate_MSG_on_human_health_a_systematic_review

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/food-science/glutamic-acid 

Springer Open. https://ejfs.springeropen.com/articles/10.1186/s41935-018-0038-x

Diakses pada 21 Januari 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed