Memiliki anak gemuk mungkin menjadi keinginan semua orang tua, tapi jangan salah persepsi, anak gemuk belum tentu sehat
Setiap orangtua pasti ingin punya anak yang sehat

Kalimat-kalimat seperti “Wah, anaknya gemuk sekali dan sehat!” atau “Kok anaknya kurus? Kurang sehat, ya?” sudah jadi hal biasa yang didengar para orangtua. Komentar-komentar seputar berat badan buah hati, entah itu anak gemuk atau kurus kadang selalu diangkat jadi topik utama ketika bertemu orang lain.

Padahal, anak gemuk tidak selalu berarti sehat. Indikator sehat tidaknya anak bukan hanya sekadar berapa angka yang ditunjukkan timbangan. Tapi ada banyak sekali faktor lain.

Bahkan, anak gemuk bisa terancam mengalami obesitas. Ketika berat badan mereka terlalu berlebihan, kesehatannya bisa terganggu.

Anak gemuk belum tentu sehat

Memang sangat menyenangkan melihat anak gemuk dengan pipi tembam yang menggemaskan. Namun sayangnya, hal ini tidak akan lagi menyenangkan apabila kelebihan berat badan berlangsung dalam jangka waktu lama.

Sebenarnya bukan perkara mudah menentukan kapan seorang anak gemuk disebut mengalami obesitas. Satu hal yang pasti, anak gemuk akan tetap kelebihan berat badan apabila energi yang dikeluarkan lebih sedikit ketimbang yang dikonsumsi.

Kabar baiknya, anak gemuk tidak perlu diet. Mereka hanya perlu tumbuh lebih tinggi sehingga dapat mencapai indeks massa tubuh (IMT) yang ideal. Pastikan konsumsi makanannya seimbang dan mewakili setiap porsi nutrisi yang diperlukan.

Cara menjaga berat badan anak tetap sehat

Bagi orangtua, memberikan makanan untuk anak merupakan prioritas utama. Memang penting, namun tidak dengan terus-menerus memberi mereka makan setiap kali meminta.

Hal ini juga berlaku sejak anak masih bayi hingga tumbuh menjadi balita. Orangtua perlu membangun pola makan dan rutinitas yang teratur, didukung dengan beberapa metode lain.

Beberapa di antaranya adalah:

1. Beri ASI

Jika memungkinkan, berikan ASI pada anak hingga usianya menginjak 2 tahun. Air susu ibu dirancang sempurna untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Selain itu, tak ada istilah terlalu banyak atau kelebihan ASI pada bayi dan anak-anak.

2. Perbanyak buah dan sayur

Tentu dengan pilihan rasa yang manis dan beragam, sereal kerap jadi menu favorit anak-anak. Namun akan lebih baik jika mengurangi sereal dan menggantinya dengan banyak buah dan sayuran.

Meski demikian, sebaiknya berikan buah dan sayuran dalam olahan aslinya. Jangan memberikan olahan jus yang sudah dikemas menjadi minuman dalam kemasan.

3. Menangis belum tentu lapar

Penting untuk orangtua baru, bayi menangis belum tentu berarti mereka lapar. Ada banyak alasan mereka menangis selain ingin makan atau minum. Ketika anak menangis, sebisa mungkin cari tahu apa penyebabnya. Buat mereka merasa nyaman.

Cara ini dapat menghindarkan anak dari pola yang salah. Jika setiap kali menangis anak diberi makanan, mereka bisa salah menangkap bahwa itulah yang diperlukan saat merasa lelah atau bosan.

4. Tidak makan berlebihan

Sebaiknya hindari obsesi ingin memberi makan anak dalam porsi besar. Memang memuaskan rasanya ketika masakan yang sudah dibuat dengan susah payah bisa habis tuntas tanpa bersisa.

Namun masalahnya, hal yang tidak kalah penting adalah membaca sinyal ketika anak merasa kenyang. Ketika mereka tidak lagi antusias dengan makanan di depannya, jangan paksakan untuk menghabiskan makanan.

5. Banyak bergerak

Anak gemuk bisa juga terjadi karena jarang bergerak atau beraktivitas. Bahkan sejak bayi sudah kuat menyangga lehernya sendiri, saat itulah mereka sudah bisa mulai ‘berolahraga’. Contohnya dengan tummy time, merangkak, hingga mereka bisa berjalan dan berlari.

Ada banyak stimulus yang bisa dilakukan orangtua untuk membuat anak mereka aktif bergerak dan mengantisipasi anak gemuk karena kelebihan berat badan.

6. Kurangi konsumsi gula

Siapa anak yang tidak suka makanan manis? Bahkan orang dewasa saja suka. Meski demikian, ada baiknya tidak terlalu banyak memberikan makanan atau camilan manis seperti biskuit dan cokelat untuk anak-anak gemuk. Hal ini juga berlaku untuk minuman yang diberi pemanis buatan.

7. Kurangi garam 

Sama seperti gula, garam juga bisa sama berbahayanya. Makanan di restoran atau makanan siap saji biasanya tinggi kandungan gula dan garam. Jika indra perasa mereka terbiasa dengan makanan yang gurih, maka bukan tidak mungkin itulah yang akan selalu mereka minta.

Akan jauh lebih baik memberikan makanan olahan rumahan yang sehat dan terjamin kebersihannya. Jika tidak ada tenaga atau waktu untuk melakukannya, cari alternatif katering untuk anak yang benar-benar terpercaya.

8. Hindari distraksi saat makan

Sebaiknya hindari distraksi seperti menonton televisi atau gadget terutama bagi anak yang sudah bisa makan sendiri (usia balita). Makan sembari melakukan aktivitas lain akan meningkatkan risiko overeating atau makan terlalu banyak. Lagi-lagi, pola ini harus dibangun sejak dari lingkungan keluarga.

Tidak perlu repot-repot menghitung berapa kalori yang diberikan untuk anak setiap kali mereka makan. Anak-anak gemuk maupun kurus pun belum benar-benar bergantung pada hitungan indeks massa tubuh (IMT).

Aspek paling krusial adalah membangun pola makan dan lingkungan yang mendukung mereka mendapatkan berat badan ideal. Bukan hanya saat masih kecil, namun hingga sepanjang hidup mereka. Pola makan yang sehat dan tepat menjadi bekal bagi mereka.

Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/blog/6-ways-to-help-keep-your-baby-at-a-healthy-weight-2017041111575
Diakses pada 10 Juli 2019

Stanford Children’s Health. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=a-chubby-baby-is-not-a-sign-of-obesity-1-3034
Diakses pada 10 Juli 2019.

NHS. https://www.nhs.uk/live-well/healthy-weight/overweight-children-2-5/
Diakses pada 10 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed