Manfaat sperma untuk kesehatan kulit wajah tidaklah benar
Kandungan protein dan berbagai vitamin menyebabkan banyak orang mengira bahwa sperma bermanfaat untuk kesehatan wajah

Beberapa dari Anda mungkin pernah mendengarkan informasi mengenai manfaat sperma untuk wajah. Sekilas, hal ini terdengar aneh tetapi apakah faktanya benar demikian?

Fakta manfaat sperma untuk wajah

Karena kandungan sperma yang memiliki banyak protein dan berbagai vitamin, beberapa orang menganggap air mani dapat digunakan untuk menyehatkan kulit wajah. Lalu informasi mulai menyebar dari mulut ke mulut.

Manfaat sperma dalam menghilangkan jerawat juga diyakini karena kandungan spermine dalam sperma bersifat antioksidan dan antiradang sehingga mampu membasmi benjolan-benjolan jerawat yang mengganggu.

Namun, sayangnya, hal ini tidaklah benar dan penggunaan sperma pada muka malah dapat menimbulkan efek samping yang tidak menyenangkan. Tidak ada riset ilmiah yang mendukung manfaat sperma untuk wajah yang satu ini dan tentunya akan lebih baik jika Anda membeli obat jerawat di apotek yang mengandung benzoil peroksida atau asam salisilat.

Selain itu, manfaat sperma untuk wajah yang juga dipercaya adalah mencegah penuaan dini. Serupa dengan menanggulangi jerawat, senyawa spermine dalam sperma diyakini dapat menjadi antioksidan yang menghilangkan kerutan di wajah.

Meskipun spermine berasal dari spermidine yang ditemukan mampu memperlambat proses penuaan ketika disuntikkan ke dalam sel kulit, tetapi penelitian masih belum menemukan efeknya ketika dioleskan begitu saja pada kulit.

Lantas, bagaimana dengan kandungan nutrisi dan mineral dalam sperma yang dapat menutrisi kulit? Sayangnya, tidak terdapat senyawa bernutrisi dalam sperma yang mampu membantu menjaga kesehatan kulit Anda.

Sperma memang mengandung protein dan urea yang baik untuk kulit. Sayangnya, jumlah kandungan tersebut tidak cukup banyak untuk memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan kulit wajah.

Selain itu, meskipun terdapat senyawa zinc yang dapat memperbaiki sel kulit dan meningkatkan produksi kolagen dalam sperma, tetapi kandungan zinc akan jauh lebih efektif jika dikonsumsi secara oral daripada dioleskan. Oleh karenanya, lebih baik Anda mengonsumsi suplemen zinc atau makanan yang tinggi zinc daripada menaruh sperma di wajah Anda.

Apa risiko yang bisa dialami ketika sperma dioleskan di wajah?

Penggunaan sperma pada kulit wajah dapat memiliki efek samping dan risiko yang buruk, beberapa di antaranya adalah:

  • Penyakit menular secara seksual

Tidak hanya tidak bermanfaat bagi wajah, sperma juga dapat menjadi mediator untuk menularkan infeksi penyakit menular secara seksual saat dioleskan di wajah, seperti gonore, klamidia, dan herpes. Ketiga penyakit menular secara seksual ini dapat masuk melalui hidung, mulut, dan terutama mata.

Beberapa infeksi yang dapat terjadi di mata adalah herpes okular yang memicu peradangan di mata dan kehilangan penglihatan, serta klamidia konjungtivitis yang memicu keluarnya kotoran mata, sensasi panas, dan kemerahan pada mata.

  • Dermatitis atopik

Pada beberapa orang, protein dalam sperma dapat memicu reaksi alergi yang ringan sampai parah. Alergi ringan yang dapat dialami bisa berupa dermatitis atopik yang ditandai dengan rasa gatal, pembengkakan, dan kemerahan pada kulit wajah.

Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan wajah?

Alih-alih menaruh sperma di muka, lebih baik Anda menjaga kesehatan mata dengan mengonsumsi makanan yang bernutrisi imbang dan menurunkan tingkat stres Anda.

Memilih perawatan wajah yang sesuai dengan tipe kulit dan rutin menggunakan pelembab adalah salah satu cara untuk menjaga agar kulit tetap lembap dan mulus. Hindari terpapar sinar matahari terlalu lama dan gunakan tabir surya minimal SPF 30 dan jangan merokok sebagai langkah pencegahan penuaan dini.

Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter kulit mengenai alternatif lain yang dapat diambil untuk memiliki kulit yang indah dan sehat.

Healthline. https://www.healthline.com/health/is-sperm-good-for-skin#protein
Diakses pada 5 Februari 2020

Mayo Clinic. mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/in-depth/skin-care/art-20048237
Diakses pada 5 Februari 2020

Nature. https://www.nature.com/articles/ncb1975
Diakses pada 5 Februari 2020

Artikel Terkait