Mampu Menjaga Tubuh dari Penyakit, Apa Itu Vaksin?

Vaksin adalah langkah paling efektif untuk mencegah penyakit yang biasanya diberikan sejak usia bayi
Vaksin adalah cara paling efektif untuk mencegah penyakit infeksi

Mendengar kata vaksin atau vaksinasi sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Apalagi bagi para ibu yang baru memiliki bayi. Namun, masih banyak pula orang yang belum begitu memahami apa fungsi vaksin sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya. Satu hal yang pasti, pemberian vaksin adalah salah satu langkah perlindungan diri paling penting dan efektif terhadap penularan penyakit infeksi.

Setidaknya ada 25 jenis penyakit infeksi mematikan, seperti tetanus, campak, hingga polio dan kanker serviks, yang bisa dihindari melalui pemberian vaksin.

Apa itu vaksin?

Manusia sejatinya memiliki sistem imun yang berfungsi untuk melawan organisme asing seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang masuk ke dalam tubuh.

Namun, sistem imun manusia mungkin tidak cukup siap atau kuat untuk melawan jenis penyakit tertentu. Di sinilah vaksin memegang peranan penting dalam pencegahan penyakit.

Vaksin adalah zat yang terbuat dari mikroba penyebab penyakit untuk membantu tubuh membangun kekebalan terhadap serangan penyakit tersebut.

Mikroba dalam kandungan vasin adalah versi yang sudah mati atau dilemahkan. Beberapa vaksin hanya mengandung sebagian dari kuman penyakit. Vaksin tertentu dapat terbuat dari racun atau protein yang biasanya diproduksi oleh kuman dan sudah dilemahkan.

Setelah divaksinasi, Anda akan mengembangkan kekebalan terhadap penyakit itu tanpa harus terpapar oleh biang penyakitnya terlebih dahulu.

Metode pemberian vaksin disebut dengan vaksinasi. Vaksinasi biasanya dilakukan di rumah sakit, klinik, atau puskesmas setempat.

Bagaimana cara kerja vaksin?

Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana vaksin bisa melindungi kita dari penyakit kalau isinya adalah biang penyebab penyakit tersebut?

Seperti yang telah dijelaskan di atas, mikroba yang terkandung dalam vaksin adalah versi yang sudah dilemahkan atau bahkan mati (inaktif) agar tidak menyebabkan penyakit begitu masuk ke dalam tubuh. 

Cara kerja vaksin pada dasarnya adalah untuk melatih tubuh menciptakan kekebalan baru terhadap penyakit. Versi jinak dari agen penyebab penyakit ini akan membantu tubuh kita mengenali versi jahatnya dan melatih sistem imun untuk melawannya.

Dalam tubuh, mikroba kandungan vaksin akan berperan sebagai antigen. Antigen adalah zat yang dapat merangsang sistem imun untuk menghasilkan antibodi sebagai bentuk perlawanan. Antibodi diproduksi oleh sel dalam sistem imun tubuh yang bernama limfosit.

Antibodi inilah yang kemudian melawan antigen dan memproteksi tubuh agar tidak mengalami infeksi.

Setelah itu, banyak dari antibodi akan rusak. Namun karena sudah terlatih, sel-sel kekebalan tubuh akan tetap mengingat bagaimana cara memproduksi antibodi spesifik tersebut ketika sewaktu-waktu diperlukan. 

Maka ketika kemudian hari Anda terpapar oleh versi jahat dari biang penyebab penyakit yang sama, sistem imun tubuh sudah bisa mengenalinya dan memproduksi antibodi dengan cepat.

Antibodi akan menghancurkan antigen tersebut bahkan sebelum menyebar dan menyebabkan infeksi.

Jenis vaksin berdasarkan kandungannya

Tanpa Anda sadari, sebenarnya ada beberapa jenis vaksin – dengan satu tujuan, yaitu memandu sistem imun untuk melawan beberapa jenis virus atau bakteri serta penyakit yang disebabkannya.

Saat peneliti menciptakan vaksin, mereka mempertimbangkan:

  • Bagaimana sistem imun merespon virus atau bakteri
  • Siapa yang membutuhkan vaksinasi
  • Teknologi atau mekanisme pemberian terbaik

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, peneliti membagi vaksin menjadi 4 jenis utama, yaitu:

1. Vaksin hidup

Vaksin hidup adalah metoe vaksinasi yang berisi bentuk virus atau bakteri dilemahkan.

Mekanisme vaksin ini menciptakan kondisi yang mirip dengan infeksi sebenarnya. Maka itu, vaksin ini berguna untuk mencegah dan menciptakan respon imun yang sangat kuat dan jangka panjang.

Hanya dengan 1-2 dosis vaksin dapat memberikan Anda dan keluarga perlindungan seumur hidup.

Vaksin hidup biasanya digunakan untuk melawan infeksi:

Meski demikian,vaksin jenis ini tidak boleh diberikan untuk Anda yang memiliki gangguan sistem imun atau yang pernah melakukan transplantasi organ karena kandungan biang penyakitnya masih hidup.

2. Vaksin mati atau tidak aktif

Kebalikan dari vaksin hidup, vaksin tidak aktif mengandung bakteri atau virus yang sudah mati.

Vaksin jenis ini biasanya tidak memberikan perlindungan sekuat vaksin hidup. Maka dari itu, Anda mungkin perlu melakukan beberapa kali vaksin agar kebal terhadap penyakit.

Vaksin mati biasanya digunakan untuk mencegah:

3. Vaksin subunit, rekombinan, polisakarida, dan konjugat

Vaksin ini adalah jenis vaksinasi yang menggunakan hanya bagian spesifik dari bakteri atau virus – seperti protein, gula, atau kapsida virus.

Karena kandungannya spesifik, respon kekebalan yang dihasilkan pun sangat kuat sehingga dapat diberikan kepada semua yang membutuhkan. Efek perlindungan juga tercipta pada orang-orang yang memiliki gangguan sistem imun dan masalah kesehatan jangka panjang lainnya.

Vaksin subunit, rekombinan, polisakarida, dan konjugat digunakan untuk melindungi dari:

  • Penyakit Hib (Haemophilus influenzae type b)
  • Hepatitis B
  • HPV (Human papillomavirus)
  • Batuk rejan (bagian dari vaksin kombinasi DTaP)
  • Penyakit akibat pneumokokus
  • Penyakit akibat meningokokus
  • Herpes zoster (Shingles)

Namun, sama seperti vaksin mati, vaksin jenis ini juga harus diberikan beberapa kali untuk menjaga efek kekebalannya.

4. Vaksin toksoid

Vaksin toksoid biasanya menggunakan toksin (bagian beracun) dari bakteri atau virus yang menyebabkan penyakit.

Vaksin ini menciptakan imunitas ke bagian dari bakteri atau virus yang menyebabkan penyakit, bukan terhadap bakteri atau vaksin itu sendiri.

Seperti jenis vaksin lain, Anda mungkin membutuhkan beberapa kali dosis pemeliharaan agar terus mendapat perlindungan terhadap penyakit.

Vaksin toksoid digunakan untuk mencegah penyakit:

Efek samping vaksin

Walau dikenal sebagai “tameng” dari berbagai macam penyakit, vaksin adalah jenis obat yang memiliki efek samping seperti pengobatan lainnya.

Biasanya efek samping dari vaksinasi cukup ringan dan cepat mereda sendirinya. Beberapa efek samping vaksin yang umum adalah:

  • Bengkak, ruam dan rasa nyeri di area tubuh bekas suntikan vaksin
  • Merasa lelah
  • Otot dan sendi nyeri
  • Sakit kepala
  • Demam ringan atau anas dingin

Efek samping ini terjadi akibat dimulainya proses “pembangunan” sistem kekebalan tubuh untuk bisa melawan penyakit.

Pada kasus yang langka, vaksinasi dapat memunculkan efek samping cukup serius. Akan tetapi, risiko ini sangat kecil dan kejadiannya juga sangat jarang. Tercatat bahwa hanya sekitar 1-2 kasus efek samping berat yang ditemukan, dari 1 juta vaksin yang disuntikkan.

Tidak ada alasan bagi Anda untuk menghindari vaksin jika takut akan risiko efek sampingnya. Vaksin akan selalu diuji untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya, agar bisa diterima oleh anak-anak dan kelompok usia lainnya.

Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya konsultasi dulu ke dokter sebelum mendapatkan vaksin. Jika Anda atau anak Anda telah terbukti memiliki alergi terhadap kandungan tertent dalam vaksin, pastikan hal ini diketahui oleh dokter atau tenaga medis yang berkaitan.

Pemberian vaksin juga biasanya direkomendasikan saat tubuh dalam keadaan fit, tidak sedang sakit untuk menghindari risiko efek sampingnya.

Vaksin adalah perlindungan massal dari pandemi

Vaksin adalah obat yang dapat mencegah manusia dari berbagai macam risiko penyakit infeksi serius.

Vaksinasi adalah cara yang terbukti paling aman dan efektif untuk menjaga Anda dan keluarga dari penyakit.

Vaksinasi rutin dan tepat waktu sejak dini memberikan proteksi jangka panjang bagi anak dari penyakit yang berpotensi mengancam jiwa.

Tak hanya melindungi keluarga sendiri. Vaksinasi juga mampu memberikan perlindungan secara massal untuk masyarakat di suatu wilayah. Fungsi vaksin ini disebut dengan herd immunity. Apa maksudnya?

Beberapa orang di wilayah tersebut mungkin belum bisa divaksinasi. Entah karena masih terlalu kecil, sistem kekebalan tubuhnya kelewat lemah, atau karena hal tertentu lainnya. 

Akan tetapi, mereka tetap bisa mendapat perlindungan terhadap penyakit tertentu ketika sebagian besar orang di wilayah tersebut sudah mendapatkan vaksin.

Semakin banyak orang yang divaksin akan membantu membangun "payung kekebalan" yang semakin lebar untuk membantu meminimalisir penyebaran infeksi di wilayah tersebut.

Dengan kata lain, mereka yang tak bisa divaksin tetap bisa terhindar dari penyakit. Itulah kenapa pemberian vaksin adalah salah satu langkah yang paling penting untuk mencegah pandemi penyakit.

Web MD. https://www.webmd.com/cold-and-flu/qa/what-is-the-definition-of-vaccine
Diakses pada 5 November 2019

WHO. https://www.who.int/topics/vaccines/en/
Diakses pada 5 November 2019

Live Science. https://www.livescience.com/32617-how-do-vaccines-work.html
Diakses pada 5 November 2019

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/vaccines/parents/why-vaccinate/vaccine-decision.html
Diakses pada 5 November 2019

Vaccine Gov. https://www.vaccines.gov/basics/types
Diakses pada 20 Maret 2020

Artikel Terkait