Gangguan Mental Ini Sering Dijadikan Lagu, Apa Itu Stockholm Syndrome?

Sering dijadikan lagu dari musisi mancanegara, apa itu stockholm syndrome?
Pertama kali ditemukan pada tahun 1973 di Stockholm, Swedia. Apa itu stockholm syndrome?

Mulai dari Muse, Blink-182 hingga One Direction, banyak sekali musisi mancanegara yang suka menamai karyanya dengan judul Stockholm syndrome. Sebenarnya, itu adalah nama dari gangguan mental yang diidap beberapa orang di dunia. Apa itu Stockholm syndrome?

Sindrom ini pertama kali muncul pada tahun 1973, di saat dua pria sedang berusaha mencuri bank di Stockholm, ibu kota Swedia. Kala itu, empat karyawan bank harus disandera selama enam hari di dalam lemari besi bank. Di sanalah sindrom "mencurigakan" mulai muncul.

Apa itu Stockholm syndrome?

Terjebak bersama dua orang pencuri bank di dalam tempat sempit mulai memberikan efek samping terhadap keempat sandera.

Menurut para psikiater, beberapa sandera ini malah menunjukkan perasaan positif kepada para pencuri, seakan setuju dengan tindakan kriminal tersebut. Sejak saat itu, dunia medis mengenal karakteristik psikologis ini dengan nama Stockholm syndrome.

Gejala awal Stockholm syndrome dapat terlihat saat seseorang yang sedang menjadi sandera penculikan atau hal kriminal lainnya, menunjukkan keakrabannya dengan si penyandera. Tidak hanya itu, bahkan pengidap Stockholm syndrome bisa menggantukan dirinya kepada sang penyandera.

Hal ini bisa terjadi karena rasa takut dan depresi, membuat pengidap Stockholm syndrome kehilangan kemampuan untuk peduli terhadap diri sendiri. Alhasil, penderita Stockholm syndrome akan merasa “haus” perhatian dari penyandera.

Gejala Stockholm syndrome

Satu kasus lagi yang menggambarkan karakteristik psikologis pengidap Stockholm syndrome dapat dilihat dari kasus Patty Hearst, seorang aktris Amerika Serikat, yang pernah diculik oleh selama 9 bulan lamanya.

Padahal, ia punya kesempatan untuk kabur atau meminta tolong. Namun, ia malah terdiam dan tetap bertahan dengan sang penyandera secara sukarela. Bahkan, ia sampai ikut ke dalam kelompok orang jahat tersebut, dan membantu mereka melakukan pencurian bank.

Berikut ini ialah beberapa karakteristik utama yang menggambarkan ciri-ciri penderita Stockholm syndrome.

  • Memiliki perasaan positif terhadap penyandera, seperti rasa simpati dan setuju dengan tindakan tindakan melawan hukum yang dilakukan penyandera
  • Perasaan negatif, seperti amarah dan tak percaya, terhadap lembaga penegak hukum. Bahkan, menurut Federal Bureau of Investigation (FBI), penderita Stockholm syndrome merasa bahwa polisi bisa membahayakan nyawa mereka
  • Tidak bersikap kooperatif terhadap pihak yang berwenang dan otoritas pemerintah lainnya untuk menangkap para penculik atau penyandera
  • Tidak mau menyelamatkan diri atau kabur dari penyanderaan
  • Merasa bahwa para penyandera adalah korban. Karena ini, pengidap Stockholm syndrome bisa menyelamatkan para penyandera dari pihak berwenang.

Tidak ada kriteria yang jelas untuk mengidentifikasi Stockholm syndrome. Namun, gejalanya juga hampir mirip seperti gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Penyebab Stockholm syndrome

Sampai saat ini, para peneliti masih belum bisa menemukan jawaban tepat terkait mengapa Stockholm syndrome bisa muncul dan teridap oleh seseorang. Namun, seorang psikiater dari Minnesota, Amerika Serikat, Steve Norton, menegaskan bahwa Stockholm syndrome adalah cara dan strategi bertahan hidup yang didasari oleh tingkat ketakutan, ketergantungan dan trauma akan situasi.

Beberapa kondisi di bawah ini juga diyakini bisa menyebabkan munculnya Stockholm syndrome dalam diri seseorang.

  • Korban merasa adanya ancaman terhadap keberlangsungan hidup mereka di tangan para penyanderanya.
  • Korban merasa adanya kebaikan kecil yang datang dari para penculiknya, seperti memberi makanan dan tidak menyakiti.
  • Korban terisolasi dari sudut pandang pihak lain selain sudut pandang milik penyandera.
  • Korban merasa tidak bisa kabur dari situasi mereka.

Satu penjelasan yang mungkin bisa menjabarkan bagaimana Stockholm syndrome dapat diderita seseorang, yakni dengan melihat bahwa para penyandera bisa saja mengancam untuk membunuh korban, yang akhirnya menyebabkan rasa takut.

Akan tetapi, jika para penyandera bersikap baik kepada korban, seperti tidak menyakiti atau memberi makan, bisa saja, korban merasa “bersyukur” dan mulai menunjukkan gejala Stockholm syndrome.

Perlu diketahui, Stockholm syndrome tidak hanya terjadi pada situasi penyanderaan saja, tapi juga bisa muncul dalam sebuah hubungan, anak yang mendapatkan perlakuan tak wajar dari orangtuanya, hingga lingkungan kerja yang toxic.

Bagaimana Stockholm syndrome dapat diobati?

Memahami karakteristik Stockholm syndrome memungkinkan Anda mendiagnosis orang-orang yang mengidapnya. TIdak hanya itu, Anda juga bisa melakukan beberapa hal untuk membantunya, seperti:

  • Memberikan psikoedukasi mengenai Stockholm syndrome terhadap pengidapnya. Ingat, ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Memahami Stockholm syndrome bisa membantu Anda memulihkan kondisi para pengidapnya.
  • Jangan mencoba meyakinkan pengidap Stockholm syndrome tentang kejahatan dari penyandera mereka. Hal ini dianggap bisa lebih membela orang jahat yang telah menyenderanya.
  • Tanya kepada korban mengenai sudut pandangnya terhadap kondisi tersebut. Selain itu, tanyakan tentang langkah yang seharusnya dilakukan.
  • Tunjukan rasa peduli dengan mendengar keluh-kesah para pengidap Stockholm syndrome. Jangan dengan mudah menilai mereka dengan label yang buruk.
  • Korban Stockholm syndrome perlu mendapat semangat untuk bisa membuat keputusan sendiri, terkait situasinya dengan sang penyandera. Jangan datang dan langsung memberikan saran mengenai hal yang harus dilakukan. Langkah ini hanya akan membuat rasa percaya diri sang pengidap Stockholm syndrome berkurang.

Dengan mengetahui Stockholm syndrome dan memahami perilaku para korbannya, Anda diharapkan bisa melihat serta mendiagnosis para pengidapnya di dalam kehidupan sehari-hari.

Berhadapan dengan para pengidap Stockholm syndrome tidaklah mudah. Di saat pikiran mereka sudah tertuju pada sang penyandera, Anda harus bisa meyakinkan bahwa kebenaran tidak ada di tangan orang jahat yang telah menyanderanya.

Jika ada teman atau keluarga yang mengalami Stockholm syndrome, ada baiknya langsung mendampinginya ke psikiater, agar mereka bisa berkeluh-kesah tanpa harus takut dicap buruk. Psikiater tahu yang harus dilakukan, untuk bisa menghilangkan Stockholm syndrome dalam diri seseorang.

Livescience. https://www.livescience.com/65817-stockholm-syndrome.html

Diakses pada 28 Oktober 2019

 

Medicine Net. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=24038

Diakses pada 28 Oktober 2019

 

Good Theraphy. https://www.goodtherapy.org/blog/why-stockholm-syndrome-happens-and-how-to-help-0926184

Diakses pada 28 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed