Macam-Macam Jenis Painkiller (Obat Pereda Nyeri) dan Cara Pakainya yang Aman

(0)
28 Sep 2020|Anita Djie
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Kegunaan obat pereda nyeri alias painkiller adalah untuk menghilangkan rasa sakitPainkiller adalah obat pereda nyeri yang mudah didapat di apotek
Apa yang biasanya Anda lakukan untuk meredakan sakit kepala atau sakit gigi? Kebanyakan orang biasanya langsung minum ibuprofen atau paracetamol yang dibeli di warung atau toko obat. Kedua obat ini adalah golongan obat pereda nyeri (painkiller) taraf ringan yang biasanya tidak perlu ditebus dengan resep dokter.Sementara itu, untuk kasus nyeri hebat seperti dalam pengobatan pascaoperasi mungkin butuh jenis obat penghilang rasa sakit yang efeknya lebih kuat — seperti morfin.

Seperti namanya, obat pereda nyeri (painkiller) adalah golongan obat yang bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit. Obat penghilang rasa sakit disebut juga analgesik.Tergantung dari jenis obat dan dosis yang digunakan, painkillers dapat membantu menyembuhkan nyeri dari taraf ringan hingga berat.Golongan obat penghilang rasa sakit itu sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

1. Obat antinyeri nonsteroid (OAINS atau NSAID)

Obat antinyeri nonsteroid (OAINS atau NSAID) adalah golongan painkiller yang membantu meredakan rasa sakit akibat peradangan.Beberapa contoh obat penghilang rasa sakit golongan NSAID adalah ibuprofen, aspirin, asam mefenamat, diklofenak, dan naproxen.Obat ini mampu meredakan sakit gigi, sakit kepala, demam, nyeri otot, dan nyeri sendi ringan. Aspirin khususnya juga dapat membantu mencegah serangan jantung pada orang yang memiliki penyakit jantung koroner dan mereka yang berisiko tinggi terkena stroke atau serangan jantung.Obat penghilang rasa sakit golongan NSAID bekerja menghambat enzim dalam tubuh memproduksi dan menyebarkan hormon prostaglandin yang memicu peradangan.Seperti obat pada umumnya, golongan pereda nyeri ini juga memiliki risiko efek sampingnya masing-masing.Konsumsi NSAID secara berlebih, sembarangan, atau dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan gangguan pencernaan, iritasi atau perdarahan lambung, stroke pendarahan (hemoragik), dan bahkan kerusakan pada ginjal.Sementara itu, aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak karena berisiko menimbulkan sindrom Reye.

2. Paracetamol

Paracatamol atau acetaminophen adalah jenis obat painkiller yang bekerja menghentikan produksi senyawa kimia dalam otak untuk memberi tahu tubuh bahwa kita merasakan sakit.Paracetamol juga mengurangi demam dengan memengaruhi area otak yang mengatur suhu tubuh. Berbeda dengan NSAID, paracetamol tidak menghentikan proses peradangan yang memicu rasa nyeri. Paracetamol mengubah persepsi otak terhadap rasa sakit.Paracetamol umumnya tidak menimbulkan efek samping terhadap pencernaan seperti golongan NSAID. Akan tetapi konsumsi acetaminophen secara berlebih atau bersamaan dengan minuman beralkohol dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati.

3. Opioid

Opioid atau opiat alias opium adalah obat pereda rasa sakit (painkiller) golongan keras.Beberapa contoh obat pereda nyeri golongan opiat adalah fentanyloxycodone, hydrocodone, codeine, meperidine, dan morfin (morphine). Golongan obat opiat juga disebut sebagai psikotropika. Obat ini memiliki dosis yang lebih kuat untuk memunculkan efek pereda nyeri yang lebih cepat. Obat opioid menghilangkan rasa sakit dengan menghalangi sinyal saraf penerima rasa sakit dan menimbulkan sensasi menyenangkan.Golongan obat opioid biasanya digunakan untuk meredakan nyeri taraf hebat, seperti pascaoperasi atau rasa sakit parah dan berkelanjutan akibat penyakit nyeri kronis.Berbeda dari obat obat NSAID dan paracetamol yang bisa dibeli tanpa resep, obat ini hanya bisa digunakan atas izin serta pengawasan ketat dari dokter.Pasalnya, penggunaan obat-obatan golongan ini secara sembarang atau jangka panjang tanpa pengawasan dapat menyebabkan ketergantungan.Selain risiko ketergantungan, efek samping lain dari obat painkiller keras ini yang harus diwaspadai adalah menghentikan pernapasan.Obat antinyeri jenis opioid juga dapat menyebabkan kantuk, konstipasi, pusing, berkeringat, gatal-gatal, mual, penurunan daya tahan tubuh, hingga depresi.

Klasifikasi penggolongan obat pereda nyeri (painkiller)

Penggolongan obat pereda nyeri pada umumnya terbagi menjadi tiga tingkatan, dari tingkat ringan hingga tingkat keras, berdasarkan seberapa kuat kemampuannya dan risiko efek sampingnya.Berikut adalah klasifikasi obat painkiller:
  • Tingkat 1: paracetamol, dan golongan OAINS seperti aspirin, naproxen, diklofenak, celecoxib dsb
  • Tingkat 2: kodein, dihidikodein, tramadol
  • Tingkat 3: morfin, fentanyl, tramadol, oxycodone
Obat golongan opioid pada umumnya adalah obat penghilang nyeri paling ampuh. Patokan obat dalam golongan ini adalah morfin – sedangkan obat opioid lain memiliki efek di bawah atau di atasnya.Obat dengan efek paling ringan adalah kodein, yang biasanya diresepkan bersama dengan acetaminophen untuk menghilangkan nyeri, misalnya, saat operasi gigi. Efek kodein hanya sekitar 1/10 dari morfin. Sementara itu, obat yang lebih kuat dari kodein adalah hidromorfon dan oksimorfon.Namun, opioid paling kuat dalam dunia medis adalah fentanyl. Fentanyl yang diberikan dalam bentuk suntikan memunculkan efek pereda nyeri 70-100 kali lebih kuat daripada morfin. Oleh karena efek kuatnya ini, fentanyl menjadi obat painkiller yang paling rentan disalahgunakan.Mengonsumsi obat painkiller, terutama jenis opioid yang golongan keras, secara berlebih dapat membangun toleransi terhadap efek obat. Seiring waktu, dosis rendah obat tidak akan ampuh meredakan nyeri.Oleh karena itu, Anda akan terus-menerus meningkatkan dosis yang lebih tinggi. Hal inilah yang menimbulkan ketergantungan atau kecanduan obat.

Bagaimana cara mengonsumsi obat painkiller yang aman?

Secara umum painkiller adalah jenis obat antinyeri yang aman dan serba bisa. Akan tetapi, obat penghilang rasa sakit tidak boleh dikonsumsi sembarangan.Berkat kemampuan hebatnya meredakan sakit, golongan obat ini sangat rentan disalahgunakan. Risiko efek samping lainnya dari obat pereda nyeri juga tidak bisa diabaikan begitu saja.Mengonsumsi obat painkiller dengan aman tidaklah sulit. Pada dasarnya, membaca label atau petunjuk penggunaan pada bungkusan obat atau mengikuti instruksi dari dokter sudah bisa mencegah Anda dari penyalahgunaan obatpereda nyeri.Risiko efek samping dan komplikasi pun dapat diturunkan dengan mulai mengonsumsi dosis terendah.Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu atau mengonsumsi obat-obatan lainnya, beritahukan kepada dokter sebelum mengonsumsi obat painkiller yang diberikan.Anda juga bisa langsung bertanya kepada dokter mengenai interaksi obat, efek samping, dan apa-apa saja yang perlu diperhatikan saat mengonsumsi obat painkiller.Jika Anda diresepkan obat pereda nyeri, jangan berhenti mengonsumsi obat di tengah jalan atau mengubah dosisnya sendiri. Tetap ikuti petunjuk yang disarankan atau yang dianjurkan oleh dokter.Selain itu, jangan mengonsumsi obat antinyeri miliki orang lain dan selalu beritahukan kepada dokter jika Anda mengalami efek samping seusai mengonsumsi obat painkiller.Anda tidak perlu harus selalu berpaling ke obat pereda nyerisaat mengalami rasa sakit. Ada alternatif lain yang mungkin bisa membantu Anda untuk meredakan rasa nyeri, seperti pelatihan psikis untuk mengurangi rasa sakit dengan mengganti pola pikir, dan sebagainya.
hidup sehatpenyalahgunaan obatpola hidup sehat
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/painkillers-staying-safe-2615367
Diakses pada 23 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/pain-management/pain-medication-side-effects#1
Diakses pada 23 Desember 2019
Drugs.com. https://www.drugs.com/drug-class/nonsteroidal-anti-inflammatory-agents.html
Diakses pada 20 Maret 2020
RxList. https://www.rxlist.com/pain_medications/drug-class.htm
Diakses pada 20 Maret 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait