Apa itu Cyberbullying dan Bagaimana Mengajari Anak untuk Tidak Melakukannya?


Cyberbullying adalah perilaku tidak terpuji, dan memiliki efek mengerikan bagi korbannya. Bagaimana cara kita mencegah anak menjadi pelaku atau korbannya?

0,0
15 Oct 2019|Arif Putra
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Cyberbullying adalah tindakan merisak dan mengejek orang lain, melalui internet dan perangkatnyaPelaku cyberbullying atau perisakan siber bisa semua kalangan, termasuk Buah Hati Anda
Seperti bullying atau perisakan biasa, cyberbullying juga harus terus diperangi. Cyberbullying pun bisa dialami semua kalangan, termasuk tokoh publik sekalipun.Sebagai orangtua, Anda memiliki tanggung jawab yang besar, dalam mengontrol cara anak untuk menggunakan Internet serta perangkatnya. Sebab, bukan tak mungkin, anak Anda juga terlibat sebagai pelaku cyberbullying. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), kasus cyberbullying sering kali terjadi di kalangan anak remaja yang masih sekolah.

Apa itu cyberbullying dan bagaimana tindakan ini dilakukan?

Cyberbullying adalah penyalahgunaan Internet untuk melecehkan, mengancam, mempermalukan, dan mengejek orang lain. Tidak seperti bullying atau perisakan fisik maupun verbal, cyberbullying tidak membutuhkan pertemuan tatap muka, serta tanpa melibatkan kekuatan fisik.Cyberbullying adalah tindakan perisakan yang bisa dilakukan semua orang, asal mereka memiliki koneksi internet serta perangkat seperti telepon pintar. Orang yang melakukan cyberbullying bisa bersifat anonim, sehingga mereka kerap tak memiliki rasa khawatir untuk teridentifikasi.Tindakan cyberbullying juga bisa terjadi 24 jam atau sepanjang waktu. Selain itu, sebagai dampaknya, korban akan terus mengalami perisakan di berbagai tempat, tidak hanya di dunia maya, melainkan juga kehidupan nyata.Perisakan siber atau cyberbullying dapat dilakukan semua umur, termasuk anak laki-laki maupun anak perempuan. Anak laki-laki lebih sering melakukan cyberbullying melalui aktivitas sexting, atau dengan cara mengirimkan ancaman fisik.Di sisi lain, anak perempuan melakukan cyberbullying dengan melontarkan kebohongan, gosip, dan rumor, atau menyebarkan rahasia orang lain.Walau begitu, salah satu yang kerap terjadi adalah, para pengguna Internet bisa bertukar peran dalam perisakan siber. Di satu waktu mereka bisa menjadi korban cyberbullying, tapi ada pula risiko mereka untuk menjadi pelaku perisakan siber.

Cara mengatasi cyberbullying agar anak tidak menjadi korban dan pelakunya

Bukan tak mungkin, putra putri Anda menjadi pelaku cyberbullying dan melecehkan orang lain di Internet. Terlebih, anak-anak saat ini, generasi Z (dikenal dengan digital native), mahir Internet dan perangkat aksesnya.Berikut ini ajakan yang bisa Anda sampaikan pada anak-anak, dalam mengajarkan mereka etika di media sosial, serta mencegah agar tidak menjadi pelaku cyberbullying.

1. Perlakukan orang sebagaimana kamu ingin diperlakukan

Sampaikan kepada anak-anak, aturan ini berlaku di kehidupan nyata, maupun di dunia maya. Dorong anak untuk senantiasa bertanya pada diri sendiri, mengenai efek yang akan mereka rasakan, apabila menerima pesan-pesan negatif dari orang lain.Apabila timbul masalah dalam lingkungan pertemanan mereka, ingatkan anak untuk menerapkan pentingnya diskusi sehat. Sampaikan bahwa konfrontasi dengan ujaran negatif di jejaring sosial bukanlah solusi dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

2. Saring sebelum sharing

Ajarkan Buah Hati untuk senantiasa berhati-hati dalam mengirimkan pesan, maupun berkomentar melalui media dan jejaring sosial. Anak-anak harus diingatkan, begitu mereka mengklik tombol “kirim”, akan sulit untuk menarik hal yang telah diucapkan tersebut.Sampaikan pula, untuk berhati-hati dalam mengirimkan candaan kepada penerima pesan. Sebab, ada kalanya penerima pesan memiliki persepsi yang berbeda dalam memandang candaan yang dikirimkan.Misalnya, anak Anda mungkin belum memahami bahwa komentar mengenai fisik seseorang, sebaiknya tidak lelucon. Terlebih bagi orang lain, komentar itu dapat menjadi sangat menyakitkan.

3. Hanya kirimkan pesan-pesan yang positif

Dorong Buah Hati Anda untuk selalu menyaring isi pesan yang hendak disampaikan. Ingatkan mereka untuk tidak mengirimkan kata-kata kasar, tidak sopan, sindiran, hingga kebohongan seperti hoaks, rumor, dan gosip.Anda disarankan untuk memperkenalkan cyberbullying beserta dampaknya, serta mengajarkan mereka untuk merespons aksi perisakan tersebut.

4. Jangan ikuti teman yang melakukan bully

Adanya grup chat mungkin menjadi daya tarik bagi Si Kecil, dalam mengakses aplikasi jejaring sosial. Anak mungkin tidak menjadi pelaku cyberbullying. Namun bukan mustahil, perilaku tersebut menular dari teman-temannya yang lain.Sampaikan kepada Si Kecil, apabila percakapan bersama teman-temannya sudah mengarah ke perisakan siber, bicarakan kepada Anda sebagai orangtua.

5. Mempelajari bahasa anak muda

Terkadang, anak remaja akan menggunakan bahasa gaul untuk melakukan tindakan cyberbullying. Masalahnya, orangtua tidak mengerti arti dari berbagai bahasa gaul anak muda masa kini. Maka dari itu, untuk mencegah supaya anak Anda tidak menjadi korban cyberbullying, ada baiknya Anda juga mempelajari berbagai bahasa anak muda.Dengan begitu, ketika Anda melihat ada komentar-komentar di kolom komentar akun Instagram atau Facebook anak, Ayah dan Bunda bisa tahu apa arti dari bahasa gaul anak muda tersebut. Jika memang ada tanda-tanda tindakan cyberbullying, Anda bisa langsung mengambil tindakan.

6. Raih kepercayaan anak

Anak Anda mungkin pernah menjadi korban cyberbullying, namun ia terlalu takut atau malu untuk melapor pada kedua orangtuanya.Agar anak mau bercerita dengan jujur, cobalah raih kepercayaan mereka. Pastikan kepada mereka bahwa Anda akan menjaga "kerahasiaan" informasi tentang contoh cyberbullying yang diutarakan oleh anak.Jika anak Anda sudah berani menceritakan pengalamannya menjadi korban atau pernah menjadi saksi dari kasus cyberbullying, barulah orangtua dapat melakukan tindakan untuk melawan cyberbullying itu.

7. Ajari anak sopan santun

Cara mengatasi cyberbullying selanjutnya ialah mengajari anak sopan santun. Setiap orangtua tentu tidak mau anaknya menjadi pelaku cyberbullying. Maka dari itu, cobalah minta anak untuk berperilaku baik dan sopan santun di media sosial.Ajarkan ia untuk berkata dengan halus dan lembut ketika ingin memberikan komentar terhadap foto temannya di Instagram atau Facebook. Selain itu, ajari mereka untuk tidak mengunggah hal-hal yang menjelekkan sesuatu atau seseorang. Hal-hal inilah yang nantinya akan terhindar dari tindakan cyberbullying.

8. Aktif di acara sekolah dan lingkungan sekitar

Biasanya, pihak sekolah atau masyarakat setempat suka mengadakan acara untuk membahas tindakan cyberbullying. Jika memang Anda menemukan acara seperti ini, datanglah ke sana dan berpartisipasi.Berbincanglah dengan tetangga atau orangtua murid lainnya agar bisa mendapatkan solusi dari tindakan cyberbullying. Berkerja sama dengan pihak lain akan mempermudah upaya orangtua dalam memerangi cyberbullying.

Efek samping cyberbullying

Menurut UNICEF, terdapat beberapa efek samping dari cyberbullying yang harus diwaspadai, di antaranya:
  • Merugikan kesehatan mental

Seseorang dapat merasa kesal, sedih, malu, dan bahkan marah saat dirinya menjadi korban cyberbullying. Hal ini dianggap bisa berdampak buruk pada kesehatan mental.
  • Berdampak buruk pada kesehatan emosional

Secara emosional, cyberbullying dapat membuat seseorang merasa malu dan kehilangan keinginan untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya ia sukai. Jika tak ditangani, kesehatan emosionalnya dapat terganggu.
  • Berdampak buruk pada kesehatan fisik

Tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan mental dan emosional saja, cyberbullying juga bisa mengganggu kesehatan mental, seperti kelelahan (karena kurang tidur), sakit kepala, hingga nyeri perut.Kabar buruknya, korban cyberbullying sering kali dijadikan bahan becandaan oleh orang-orang di sekitarnya. Hal ini dapat membuat si korban malu untuk membicarakan masalahnya dan meminta tolong.Maka dari itu, penting bagi kita untuk melihat ciri-ciri korban cyberbullying dan membantunya untuk mencari solusi terbaik.

Catatan dari SehatQ

Semua orang dapat menjadi korban cyberbullying. Pelakunya juga bisa dekat dengan kehidupan Anda, termasuk Si Kecil yang mulai mahir dalam mengakses internet. Anda sebagai orangtua, memegang peranan besar untuk mengajarkan anak mengenai etika dalam bermedia sosial, serta mencegah agar mereka tidak menjadi pelaku cyberbullying.Jika anak Anda pernah menjadi korban kasus cyberbullyng di Indonesia dan menunjukkan keluhan medis, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga!
tips parentingmedia sosial
Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/abuse/bullying-and-cyberbullying.htm
Diakses pada 15 Februari 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/cyberbullying.html
Diakses pada 15 Februari 2019
Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/things-to-teach-your-kids-about-digital-etiquette-460548
Diakses pada 15 Februari 2019
Psych Central. https://psychcentral.com/blog/10-ways-parents-can-help-prevent-cyberbullying#3
Diakses pada 22 Februari 2021
UNICEF. https://www.unicef.org/end-violence/how-to-stop-cyberbullying
Diakses pada 24 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait