Orang apatis umumnya bersikap tak peduli dan acuh
Orang yang apatis akan bersikap acuh tak acuh

Istilah apatis mungkin sudah tidak asing lagi di telinga Anda karena sering berseliweran, baik itu di media sosial atau dalam percakapan sehari-hari. Apatis berasal dari bahasa Yunani, yaitu aphates yang secara harfiah berarti tanpa perasaan. 

Terkadang, seseorang akan menunjukkan sikap apatis ketika dirinya kehilangan motivasi atau tidak tertarik. Namun, ini juga dapat menjadi gejala dari gangguan neurologis dan kejiwaan.

Tanda-tanda apatis

Apatis adalah suatu kondisi di mana seseorang bersikap acuh tak acuh, tidak peduli, dan tidak responsif pada aspek emosional, fisik, maupun kehidupan sosial. Dengan kata lain, ia cenderung tak ingin melibatkan dirinya dalam apa pun. Oleh sebab itu, orang yang apatis akan menunjukkan tanda-tanda berikut:

  • Kurang upaya atau semangat untuk melakukan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari
  • Bergantung pada orang lain dalam merencanakan suatu hal
  • Tidak memiliki keinginan untuk mempelajari hal-hal baru
  • Tidak peduli dengan kegiatan atau masalah diri sendiri
  • Tidak merasakan emosi apa pun ketika hal baik atau hal buruk terjadi
  • Tidak tertarik atau termotivasi untuk melakukan suatu hal dan cenderung tanpa tujuan
  • Menghabiskan lebih banyak waktu sendirian, misalnya dengan menonton televisi, bermain game, atau berselancar di internet tanpa memikirkan apa pun
  • Tak dapat mengabdikan diri atau berkomitmen untuk hal apa pun
  • Acuh tak acuh ketika bertemu orang baru atau mencoba hal baru
  • Ekspresi wajah tak berubah atau terlihat datar.

Untuk bisa disebut sebagai apatis, gejala-gejala yang dialami harus cukup parah atau sering terjadi sehingga memengaruhi kehidupan sosial, pekerjaan, ataupun aspek lain dalam hidup Anda. 

Penyebab apatis

Adanya masalah pada area di otak depan yang mengendalikan emosi, tujuan, dan perilaku Anda dapat menyebabkan apatis. Kondisi ini juga kerap menjadi salah satu gejala pertama penyakit Alzheimer yang merupakan bentuk lain dari demensia. Apatis bahkan juga dapat menjadi gejala dari berbagai masalah lainnya, seperti:

  • Cedera otak akibat pukulan keras
  • Gangguan depresi persisten
  • Stroke
  • Penyakit Parkinson
  • Skizofernia
  • Penyakit Huntington
  • Demensia frontotemporal
  • Progressive supranuclear palsy
  • Demensia vaskuler.

Akan tetapi, perlu Anda ketahui bahwa apatis juga dapat terjadi tanpa kondisi medis yang mendasarinya. Kondisi ini kerap dihubungkan dengan gaya hidup yang bermasalah, seperti kurang tidur, pola makan yang buruk, dan kurang olahraga. 

Selain itu, apatis juga dikaitkan dengan kelenjar tiroid atau sistem limbik yang tak berfungsi dengan baik, gangguan bipolar, dan penggunaan obat-obatan tertentu, seperti halnya obat penghilang rasa sakit. 

Di samping itu, beberapa hal lain dapat memicu Anda menjadi apatis, seperti memiliki pikiran negatif tentang diri sendiri, merasakan kekecewaan yang dalam, dan bosan dengan rutinitas sehari-hari. 

Pada waktu tertentu, remaja juga cenderung mengalami apatis. Akan tetapi, jika sikap emosional dan apatis pada remaja terjadi dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat dianggap tidak normal karena adanya kemungkinan masalah lain yang mendasari dalam dirinya. 

Cara mengatasi apatis

Sebagai cara menangani kondisi apatis yang parah, kunjungi psikiater. Dokter mungkin akan meresepkan obat sesuai dengan kondisi yang menyebabkannya. Obat yang mungkin akan diresepkan oleh dokter, yaitu:

  • Antidemensia yang digunakan untuk mengobati penyakit Alzheimer, seperti donepezil, galantamine, dan rivastigmine
  • Antidepresan, seperti paroxetine, sertraline, dan bupropion
  • Sirkulasi otak dan stimulan metabolisme untuk gejala stroke, seperti nicergoline
  • Stimulan dopamin yang digunakan untuk mengobati penyakit Parkinson, seperti ropinirole
  • Antipsikotik yang digunakan untuk mengobati skizofrenia
  • Psikostimulan, termasuk methylphenidate, pemoline, dan amfetamin, yang digunakan untuk mengobati apatis tanpa penyebab mendasar yang diketahui.

Beberapa terapi potensial, seperti stimulasi elektroterapi kranial atau terapi stimulasi kognitif, mungkin diperlukan untuk apatis kronis. Anda juga dapat melakukan beberapa langkah berikut untuk mengatasi sikap apatis:

  • Dorong diri Anda untuk bergaul dan menghabiskan waktu bersama teman-teman
  • Lakukan berbagai hal yang pernah Anda sukai, seperti menonton konser atau film bersama orang terkasih
  • Mengambil kelas terapi seni atau musik
  • Cobalah untuk berolahraga setiap hari
  • Memberi reward pada diri sendiri ketika menyelesaikan suatu kegiatan
  • Tidur dengan cukup setiap malam
  • Bergabunglah dengan pendukung orang-orang apatis yang ingin menjadi lebih baik.

Dengan melakukan berbagai hal tersebut, maka diri Anda akan terdorong untuk menghilangkan sikap apatis sedikit demi sedikit. Seiring berjalannya waktu, mungkin saja sikap apatis yang Anda miliki akan sirna.

Healthline. https://www.healthline.com/health/apathy#outlook
Diakses pada 30 Maret 2020

Web MD. https://www.webmd.com/mental-health/what-is-apathy#1-2
Diakses pada 30 Maret 2020

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/evolution-the-self/201604/the-curse-apathy-sources-and-solutions
Diakses pada 30 Maret 2020

Artikel Terkait