Stroke Hemoragik, Penyakit Mematikan yang Bisa Datang Tiba-tiba

Stroke perdarahan biasanya terjadi karena hipertensi dan kelainan pembuluh darah
Stroke hemoragik atau stroke perdarahan terjadi akibat kebocoran setidaknya satu pembuluh darah di otak.

Stroke hemoragik atau stroke perdarahan adalah penyakit yang sangat berbahaya. Angka penderita penyakit ini, cenderung meningkat seiring maraknya gaya hidup yang kurang sehat.

Sebenarnya, seperti apa penyakit stroke hemoragik ini? Apa saja penyebabnya dan cara menanganinya, apabila stroke menyerang secara tiba-tiba.

Apa yang Dimaksud dengan Stroke Hemoragik?

Stroke perdarahan atau stroke hemoragik terjadi akibat bocornya satu atau lebih pembuluh darah di dalam otak, yang mengakibatkan darah keluar melalui pembuluh yang bocor ke sekeliling jaringan otak dan terakumulasi. Akibatnya, jaringan otak di sekitarnya akan tertekan.

Apa Penyebab Stroke Perdarahan?

Hipertensi dan kelainan pembuluh darah menjadi penyebab utama utama stroke perdarahan. Sementara itu, pemakaian obat-obatan tertentu, penyakit otak lain seperti tumor otak dengan perdarahan, atau penyakit tubuh lain yang beresiko memicu perdarahan otak (misalnya demam berdarah), juga menjadi faktor penyebab stroke hemoragik.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi, lebih banyak dialami pria daripada wanita. Sebenarnya, hipertensi dapat dicegah dah diatasi, sebelum berujung pada stroke.

Kelainan pembuluh darah akibat faktor genetik yang bisa mengakibatkan stroke perdarahan adalah aneurisma, arteriovenous malformation (AVM), serta dural arteriovenous fistulae (Dural AV Fistula)

Aneurisma:

Aneurima adalah pelebaran abnormal atau penggelembungan arteri, akibat melemahnya dinding pembuluh darah. Kelainan ini sering terjadi karena variasi bentuk pembuluh darah di otak. Pada lansia, bagian yang menggelembung tersebut lama-kelamaan akan semakin besar dan ada bagian yang menipis, sehingga mudah bocor, dan mengakibatkan perdarahan otak. Berbeda dari pasien hipertensi, persentase pasien aneurisma wanita lebih tinggi, dibandingkan dengan pasien pria.

Di negara maju, screening terhadap kondisi otak dan pembuluh darah umumnya dilakukan ketika seseorang mencapai usia 50-an, sebagai upaya deteksi dan pencegahan diri aneurisma, sebelum pembuluh darah pecah. Pasien yang mengalami berbagai gejala penyakit di otak, umumnya direkomendasikan untuk menjalani screening dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Magnetic Resonance Angiography (MRA), untuk memberi gambaran tentang pembuluh darah arteri. Apabila dokter menemukan adanya aneurisma otak, maka pengobatan harus dilakukan sebelum aneurisma tersebut pecah. Sehingga, hasilnya akan jauh lebih baik, dibanding pengobatan yang dijalankan setelah aneurisma pecah.

Arteriovenous Malformation (AVM):

AVM merupakan kelainan kongenital (bawaan sejak lahir), ketika pembuluh darah arteri dan vena saling berhubungan tanpa adanya pembuluh darah kapiler. Akibatnya, rentan terjadi pecahnya pembuluh darah di otak, atau sumsum tulang belakang.

Meski jarang terjadi, AVM berpotensi menimbulkan gejala neurologi yang serius, bahkan berisiko mengakibatkan cacat dan kematian, apabila pembuluh darah AVM tersebut pecah. Sebagian besar pasien AVM yang mengalami pecah pembuluh darah, berada pada usia dewasa muda. Gejalanya adalah sakit kepala yang disertai kejang pada usia dewasa.

Dural Arteriovenous Fistulae (Dural AV Fistula):

Dural AV fistula adalah kelalaian struktur hubungan pembuluh darah arteri dan vena, pada membran pelindung bagian luar otak dan tulang belakang (dura). Kelainan ini menyebabkan darah mengalir di luar jalur yang normal. Jika volume darah yang mengalir berjumlah besar, maka kondisi ini berisiko menyebabkan pecahnya pembuluh darah, terutama pada pasien dewasa muda.

Selain disebabkan oleh faktor bawaan lahir (kongenital), dural AV fistula juga dapat disebabkan oleh cedera kepala, infeksi, gumpalan darah di otak, atau operasi otak.

Sejauh ini, stroke perdarahan akibat kelainan pembuluh darah tidak dapat dicegah, karena merupakan kelainan bawaan atau kongenital. Langkah antisipasi yang dapat dilakukan adalah dengan menjalani deteksi dini dengan MRI, CT Scan, atau Digital Subtraction Angiography (DSA). Dengan demikian, penanganan yang tepat bisa dilakukan, jika dokter menemukan kelainan pada pembuluh darah.

Bagaimana Cara Mencegah Stroke Perdarahan?

Pencegahan stroke perdarahan dapat dilakukan pada stroke yang disebabkan oleh hipertensi. Namun sayangnya, hipertensi sering diremehkan, sehingga akhirnya tidak terkontrol dan menyebabkan pecahnya pembuluh darah.

Dalam jangka panjang, hipertensi akan menyebabkan perubahan pada struktur dinding pembuluh darah. Akibatnya, pembuluh darah lebih rentan terhadap kebocoran. Mencegah terjadinya hipertensi merupakan cara yang paling baik dan murah.

Pola hidup sehat, seperti diet sehat dan teratur, berolahraga, menjaga berat badan, dan cukup istirahat, dapat mencegah terjadinya hipertensi. Jika Anda berusia di atas 50 tahun, jalani medical check-up secara teratur.

Jika telah memiliki penyakit hipertensi, maka Anda sebaiknya menjalani pengobatan secara teratur dan memeriksa tekanan darah dengan rutin. Hal ini menjadi satu-satunya cara untuk mencegah stroke perdarahan otak.

Dokter akan merekomendasikan beberapa cara untuk mengontrol tekanan darah. Tak jarang, pasien harus minum obat seumur hidup. Ada mitos menyesatkan yang mengatakan, konsumsi obat hipertensi terus-menerus, akan menyebabkan kerusakan ginjal.

Padahal tekanan darah yang tidak terkontrol, dapat mengakibatkan ginjal menjadi terganggu, atau justru gangguan ginjal tertentulah, yang mengakibatkan hipertensi. Jadi, kerusakan ginjal bukan muncul karena terus-menerus mengonsumsi obat hipertensi.

Bagaimana Cara Menangani Stroke Perdarahan?

Setiap penyebab stroke perdarahan, membutuhkan penanganan berbeda. Namun yang pasti, segera kunjungi rumah sakit jika Anda maupun orang terdekat, mengalami gejala stroke.

Jangan tunda lagi, sebab setiap menit sangat berarti untuk menyelamatkan jaringan otak. Sesampaiknya di rumah sakit, tim medis bisa menentukan stroke yang terjadi, entah itu akibat perdarahan atau sumbatan pembuluh darah otak.

Stroke Akibat Hipertensi

Setelah tim medis memberikan penanganan awal di unit gawat darurat, maka melalui anamnesis (wawancara riwayat penyakit dalam keluarga), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dapat menentukan jenis stroke yang terjadi. Sebagai gold standard, pemeriksaan penunjang untuk stroke perdarahan adalah CT Scan kepala. Dengan pemeriksaan CT Scan tersebut, volume dan lokasi perdarahan bisa diketahui.

Pasien stroke hemoragik bisa menjalani perawatan melalui operasi tanpa operasi. Tindakan medis yang akan dijalani pasien, ditentukan berdasarkan usia, aneurisma, maupun AVM yang dideteksi tim medis.

Usia:

Usia pasien, volume darah, lokasi perdarahan, dan jangka waktu terjadinya stroke, ikut menentukan langkah penanganan yang tepat. Jika diperlukan, pasien menjalani operasi untuk menyelamatkan fungsi otak dan nyawanya.

Dokter spesialis bedah saraf lah yang akan menentukan kebutuhan terhadap operasi tersebut. Apabila pasien memerlukan operasi, maka dokter akan menjelaskan tujuan serta kemungkinan hasil operasinya. Dokter pun akan menentukan waktu terbaik untuk operasi. Sebab, operasi belum tentu harus dijalankan secepatnya.

Aneurisma:

Aneurisma dapat mengakibatkan Subarachnoid Hemorrhage, dengan gejala sakit kepala hebat (pasien sering mengeluh sakit kepala terhebat yang dialami sepanjang hidupnya). Gejala tersebut sering disertai dengan kakunya leher bagian belakang (kuduk), dan muntah. Bila kebocoran pertama hanya sedikit, gejala yang timbul seringkali salah diinterpretasikan sebagai gejala stres dan sakit lambung.

Sehingga setelah berobat ke dokter, pasien akan dipulangkan. Padahal, gejala tersebut merupakan kebocoran darah ke rongga subarachnoid. Bila bocornya darah tersebut disebabkan oleh aneurisma otak, maka risiko kebocoran kedua kalinya sangat besar.

Pada umumnya, pasien akan datang kembali ke rumah sakit dengan kondisi yang lebih buruk, sampai akhirnya terlambat mendapatkan pertolongan. Oleh karena itu, tim medis di IGD harus terlatih dan berkompeten, untuk mengenali gejala stroke.

Sebelum kebocoran terjadi, pasien bisa menjalani screening melalui MRI dan MRA. Namun jika sudah terjadi perdarahan, maka standar diagnosisnya dengan menggunakan CT Scan dan CT Angiography.

Jika diperlukan, DSA atau kateterisasi otak akan dijalankan. Pada kasus ini, selain pengobatan, pasien bisa menjalani tindakan operasi otak terbuka, untuk menjepit pembuluh yang pecah, atau kateterisasi (endovaskuler) melalui pembuluh darah di bagian paha, sampai pembuluh darah otak yang mengalami aneurisma. Selanjutnya, tim medis akan memasang coil untuk menyumbat aneurisma tersebut.

AVM:

Pasien pada umumnya menjalani pemeriksaan CT Scan, MRI, MRA, serta DSA, untuk mengetahui tingkat kegawatan yang diklasifikasikan, mulai dari Grade 1, hingga Grade 5. Tim medis biasanya melakukan tindakan operasi untuk Grade 1 dan Grade 2.

Untuk Grade 3 dan Grade 4, akan dilakukan kombinasi antara tindakan operasi, dan embolisasi (menyumbat AVM menggunakan zat khusus) dengan katerisasi dan radiosurgery (penyinaran terfokus). Sementara itu, pasien Grade 5 pada umumnya hanya menjalani observasi.

Potensi Kesembuhan Pasien Stroke Perdarahan

Potensi kesembuhan bagi pasien stroke, bergantung pada kondisinya ketika tiba di rumah sakit, lokasi pecahnya pembuluh darah, serta rentang waktu terjadinya stroke dan kedatangan pasien ke rumah sakit.

Jika pembuluh darah otak yang pecah berada di permukaan, maka harapan sembuh pasien, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pecahnya pembuluh darah di bagian dalam otak. Sebab, pecahnya pembuluh darah dalam otak, bisa mengakibatkan kelumpuhan dan kesulitan berbicara.

Stroke dapat terjadi pada siapa pun dan kapaun pun. Waspadai stroke sebagai keadaan darurat medis, yang dapat menyebabkan kecacatan permanen atau kematian. Obat trombolitik bisa digunakan pada stroke sumbatan, untuk mengembalikan suplai darah ke bagian otak yang terkena stroke, dan harus dilakukan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya serangan.

Sementara itu, stroke perdarahan memerlukan berbagai penanganan. Mulai dari pengobatan, operasi, katerisasi, hingga radiosurgery, tergantung dari penyebab perdarahan.

Pasien sedapat mungkin menjalani pola hidup sehat yang teratur, untuk mencegah hipertensi yang bisa berujung pada stroke perdarahan. Berolahraga secara teratur, menjaga pola makan, menjaga berat badan ideal, dan beristirahat dengan cukup, menjadi sejumlah cara hidup sehat dan menghindari stroke.

Ingat! Jika menjumpai gejala stroke pada diri Anda atau orang-orang terdekat, segera kunjungi Instalasi Gawat Darurat (IGD)!



dr. Setyo Widi Nugroho, Sp.BS (K)

TIM DOKTER SPESIALIS

BEDAH SARAF

EKA HOSPITAL BSD

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed