Apa Benar Lagu Klasik untuk Ibu Hamil Punya Manfaat?

Lagu klasik untuk ibu hamil dipercaya membawa manfaat
Musik klasik dipercaya memberikan manfaat bagi janin

Bagi ibu yang tengah berbahagia menyambut sang buah hati dalam kandungan, tentunya ingin memberikan yang terbaik ketika ia lahir nanti. Termasuk mencoba berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan janin, misalnya dengan mendengarkan lagu klasik untuk ibu hamil yang diyakini dapat meningkatkan kecerdasan bayi sejak dalam kandungan.

Akan tetapi, jika dilihat dari kacamata sains, benarkah musik klasik membawa pengaruh positif terhadap kecerdasan janin dalam perut ibu hamil?

Mozart effect, efek mendengarkan musik klasik pada kecerdasan

Mozart effect adalah istilah yang menggambarkan suatu gagasan di mana anak-anak atau bahkan bayi akan menjadi lebih cerdas usai mendengarkan musik yang diciptakan oleh Mozart. Istilah ini mendapat perhatian publik setelah penelitian berjudul Music and Spatial Task Performance: A Causal Relationship pada tahun 1993 yang khusus meneliti tentang Mozart effect.

Kejeniusan Mozart sebagai komposer musik klasik tercermin dalam karya-karyanya. Dalam penelitian tersebut, orang-orang berpikir bahwa cukup masuk akal jika dengan mendengarkan musiknya, mungkin ada sedikit saja kecerdasannya akan menular.

Faktanya, penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog bernama Frances Rauscher tersebut memiliki hasil yang lebih sederhana daripada yang diberitakan media kala itu. Penelitian tersebut bahkan tidak dilakukan pada anak-anak atau bayi, melainkan pada 36 mahasiswa.

Para mahasiswa tersebut diminta untuk mendengarkan lagu Mozart yang berjudul “Sonata in D-Mayor” selama 10 menit. Setelahnya, mereka diberi serangkaian tes kemampuan penalaran spasial atau analisa bangun ruang.

Hasilnya memang menunjukkan adanya peningkatan kinerja yang signifikan (sekitar 8-9 IQ di bidang spasial). Sayangnya, Rauscher kemudian menjelaskan bahwa meningkatnya kecerdasan para mahasiswa tersebut tidak bersifat permanen dan berlangsung singkat hanya sekitar 15 menit.

Penelitian lanjutan dari lagu klasik dan manfaatnya bagi kecerdasan

Setelah penelitian Rauscher tersebut diterbitkan, banyak penelitian lanjutan yang mengulik tentang efek lagu klasik pada kecerdasan. Setidaknya ada 16 studi berbeda yang menegaskan hasil yang kurang lebih sama, bahwa mendengarkan musik memang meningkatkan kemampuan menganalisa bangun ruang, tetapi manfaatnya hanya dalam jangka pendek dan tidak membuat kita lebih pintar secara keseluruhan.

Berbagai penelitian di atas dilakukan pada orang dewasa, yang otaknya tentu saja berbeda tahap perkembangannya dengan anak-anak, apalagi bayi. Hingga pada tahun 2006, akhirnya ada penelitian besar yang dilakukan di Inggris dengan melibatkan delapan ribu anak. Uniknya tak hanya musik klasik, kali ini diperdengarkan juga musik pop modern.

Anak-anak tersebut diminta untuk mendengarkan sepuluh menit lagu Mozart “String Quintet di D Major”, lagu pop dari band Blur berjudul "Country House", "Return of the Mack" dari Mark Morrison, serta PJ and Duncan dengan lagunya "Stepping stone". 

Hasil dari penelitian ini juga menunjukkan adanya kenaikan dalam kemampuan spasial. Hanya saja, kali ini bukan efek dari lagu Mozart, tetapi efek dari lagu Blur. Anak-anak yang mendengarkan Mozart melakukan tes dengan baik, tetapi yang mendengarkan musik pop menyelesaikan tesnya lebih baik lagi.

Selanjutnya di tahun 2010, studi dengan skala yang lebih besar diadakan. Studi ini mengemukakan bahwa tak hanya karya Mozart, musik klasik lainnya seperti dari komposer Schubert sama bagusnya untuk meningkatkan daya otak. Selain lantunan lagu, pembacaan karya tulis dari novel terkenal karya Stephen King juga dapat merangsang otak lebih aktif.

Akan tetapi, hal ini berlaku hanya jika pendengarnya memang menikmati musik tersebut. Jadi, mungkin minat dan keterlibatan dari pendengarnya yang menjadi kunci, bukan hanya nada yang didengar.

Lagu yang tepat untuk didengar janin di dalam rahim

Janin mulai dapat mendengar di trimester kedua
Anda dapat mengajak janin mengobrol atau menyanyikan lagu

Dari banyaknya paparan hasil penelitian di atas, mungkin Anda menjadi ragu, apakah sia-sia mendengarkan lagu klasik di masa kehamilan?

Kemampuan janin untuk mendengar mulai berkembang selama trimester kedua. Dengan memanfaatkan momen ini, tidak ada yang salah jika Anda ingin memastikan apa yang didengar di awal-awal masa kehidupan buah hati Anda adalah suara yang baik dan memberi manfaat.

Alih-alih mengenalkan suara penyanyi yang asing, Anda bisa mulai dari suara Anda sendiri. Mengajak janin mengobrol, menyanyikan lagu, atau membacakan buku untuk mereka rupanya bisa jadi ajang 'belajar' bagi sang buah hati.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh tim peneliti dari Oregon University, diungkapkan bahwa bayi mampu mengenali kata-kata atau bunyi-bunyian yang diberikan ketika mereka masih dalam kandungan.

Peneliti mengukur sinyal saraf bayi-bayi tersebut, dan terbukti bahwa pembelajaran bahasa dimulai dalam rahim. Suara ibu yang dikenali oleh bayi dapat membantu menenangkan dan membuatnya merasa aman. Namun, sekali lagi, hal ini tidak menentukan bahwa kecerdasan anak akan meningkat.

Jadi, perlu atau tidak mendengarkan lagu klasik untuk ibu hamil?

Memang ada cara di mana musik dapat membuat perbedaan pada IQ anak, tapi sayangnya hal ini tidak dapat dilakukan ketika anak masih dalam kandungan. Untuk meningkatkan kecerdasan dari musik, seseorang harus belajar untuk memainkan alat musik daripada hanya mendengarkannya. Psikolog dari Universitas Zurich, Lutz Jäncke, mengatakan bahwa dengan mempelajari piano dengan rutin dapat meningkatkan IQ sebanyak tujuh poin.

Jadi, tak perlu memaksakan untuk memainkan lagu klasik untuk ibu hamil karena yang terpenting selama masa kehamilan adalah melakukan aktivitas sehat dalam bentuk apa pun, selama Anda menikmatinya dan juga memberikan efek relaksasi yang memadai.

Namun, apabila dengan mendengarkan lagu klasik selama masa kehamilan memberi Anda ketenangan, lakukanlah. Hanya saja, Anda perlu mengatur volume lagu tersebut. Jika musik terlalu keras, maka telinga janin yang jauh lebih sensitif pun kemungkinan akan mendengarnya dengan lebih kencang sehingga bisa merusak indera pendengaran buah hati Anda.

NATURE. https://www.nature.com/articles/365611a0
Diakses pada 24 Februari 2020

ERICED https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED390733.pdf
Diakses pada 24 Februari 2020

IOE.Dhttp://eprints.ioe.ac.uk/2294/1/SchellenbergHallam2006Music202.pdf
Diakses pada 24 Februari 2020

UCL.https://discovery.ucl.ac.uk/id/eprint/10002294/1/SchellenbergHallam2006Music202.pdf
Diakses pada 24 Februari 2020

RESEARCHGATE. https://www.researchgate.net/publication/239523632_Music_and_Cognitive_Abilities
Diakses pada 24 Februari 2020

PNAS. https://www.pnas.org/content/110/37/15145
Diakses pada 24 Februari 2020

WESLEYCOLLEGE.https://www.wesleycollege.edu.au/news-events-and-publications/latest-news/2019/august/music,-the-brain-and-learning
Diakses pada 24 Februari 2020

WEBMD.https://www.webmd.com/baby/features/how-to-have-smarter-child#1
Diakses pada 24 Februari 2020

Artikel Terkait