logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Wanita

Antibiotik untuk Keputihan yang Biasa Diresepkan Dokter

open-summary

Antibiotik yang biasa digunakan untuk keputihan adalah metronidazole, clindamycin, tinidazile dan secnihazele. Obat-obatan ini hanya digunakan jika keputihan dipicu oleh infeksi bakteri.


close-summary

4.06

(16)

15 Jan 2021

| Nina Hertiwi Putri

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Antibiotik untuk keputihan yang sering dipakai antara lain metronidazole dan clindamycin

Antibiotik untuk keputihan baru diberikan jika ada infeksi bakteri

Table of Content

  • Kapan antibiotik perlu digunakan untuk mengobati keputihan?
  • Jenis antibiotik untuk keputihan
  • Cara mencegah infeksi bakteri di vagina

Antibiotik yang biasa digunakan untuk keputihan adalah metronidazole, clindamycin, tinidazole, dan secnidazole. Obat-obatan ini hanya boleh digunakan untuk mengatasi keputihan yang muncul akibat infeksi bakteri di vagina.

Advertisement

Keputihan adalah hal yang normal dialami oleh setiap perempuan. Namun, jika cairan yang keluar disertai dengan gejala lain yang mengganggu seperti bau amis dan berwarna keruh, maka itu tandanya keputihan yang muncul adalah gejala infeksi bakteri.

Perlu diketahui, penggunaan antibiotik untuk keputihan tidak bisa dilakukan sembarangan. Obat ini hanya bisa dipakai apabila dokter meresepkannya. Sebab, konsumsi antibiotik sembarangan bisa memicu efek samping merugikan.

Kapan antibiotik perlu digunakan untuk mengobati keputihan?

Tidak semua keputihan perlu dan bisa diobati dengan antibiotik. Keputihan yang sebelum menstruasi, tentu adalah hal yang normal selama konsistensi, warna dan baunya tidak mencurigakan.

Keputihan yang muncul akibat infeksi jamur vagina pun tidak bisa diobati dengan antibiotik, karena obat tersebut hanya bisa membunuh bakteri. Oleh karena itu, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan penyebab keputihan yang terjadi.

Keputihan yang bisa diobati dengan antibiotik adalah yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Biasanya, keputihan yang keluar akibat kondisi ini memiliki ciri tersendiri dan disertai dengan gejala lain yang khas, seperti:

  • Vagina terasa gatal, nyeri, bahkan panas
  • Rasa gatal juga meluas ke area di sekitar vagina
  • Keputihan yang keluar berwarna keruh bahkan abu-abu
  • Muncul bau amis yang kuat, terutama setelah berhubungan seks
  • Vagina terasa panas saat buang air kecil
  • Sakit perut

Jenis antibiotik untuk keputihan

Infeksi bakteri di vagina bisa juga disebut sebagai vaginosis bakteri. Jika tidak muncul gejala, kondisi ini bisa sembuh dengan sendirinya. Namun saat infeksi ini memicu gejala-gejala seperti di atas, maka Anda perlu segera memeriksakannya ke dokter.

Untuk mengatasi kondisi ini, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik. Berikut ini beberapa jenis antibiotik untuk keputihan.

• Metronidazole

Metronidazole adalah salah satu antibiotik untuk keputihan yang paling umum diresepkan. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet maupun gel. Dokter akan menyesuaikan dosis dan sediaan yang diresepkan sesuai dengan kondisi Anda.

Umumnya, metronidazole untuk keputihan akan disarankan untuk digunakan dengan aturan pakai seperti di bawah ini.

  • Tablet: dikonsumsi dua kali sehari selama 7 hari. Cara ini sering digunakan karena dianggap paling efektif, dan biasanya menjadi pilihan untuk mengatasi infeksi bakteri vagina pada ibu hamil dan menyusui.
  • Tablet dosis tunggal: dosis pada tablet ini sudah disesuaikan sehingga bisa membunuh bakteri dalam satu kali minum.
  • Gel: antibiotik ini dioleskan ke area vagina satu kali sehari selama 5 hari.

Obat ini dapat menimbulkan efek samping seperti sakit perut dan mual jika dikonsumsi bersama minuman beralkohol. Jadi, Anda sebaiknya tidak mengonsumsi alkohol setidaknya hingga satu hari setelah perawatan selesai.

• Clindamycin

Clindamycin yang digunakan sebagai antibiotik untuk keputihan tersedia dalam bentuk krim. Untuk menggunakannya, Anda bisa mengaplikasikannya langsung ke area vagina.

Namun, perlu diingat bahwa obat ini melemahkan kondom yang terbuat dari bahan lateks. Efek ini juga akan bertahan hingga tiga hari setelah perawatan selesai.

Oleh karena itu, untuk Anda yang berencana berhubungan seks selama perawatan dan tiga hari setelahnya, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter yang merawat.

• Tinidazole

Tinidazole tersedia dalam bentuk tablet. Sama seperti metronidazole, obat ini juga bisa memicu efek samping seperti sakit perut dan mual jika dikonsumsi bersamaan dengan alkohol.

• Secnidazole

Secnidazole adalah salah satu antibiotik yang diresepkan untuk mengobati infeksi bakteri di vagina dan biasanya dikonsumsi sebagai obat dosis tunggal.

Berbeda dari obat lain yang berbentuk tablet atau krim, secnidazole tersedia dalam bentuk granul. Dengan demikian untuk mengonsumsinya, Anda bisa menaburkannya ke atas yogurt atau puding dan langsung menelannya tanpa dikunyah.

Baca Juga: Keputihan Warna Putih Susu, Apa Artinya?

Cara mencegah infeksi bakteri di vagina

Infeksi bakteri di vagina bisa dicegah selama Anda menjaga kebersihan area kewanitaan ini. Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan.

1. Menjaga keseimbangan bakteri di vagina

Membersihkan vagina memang baik. Namun jika caranya salah, maka keseimbangan bakteti yang ada di vagina bisa terganggu, sehingga pertumbuhan bakteri penyebab infeksi dapat meningkat.

Sebagai tips, sebaiknya tidak menggunakan air hangat untuk membasuh vagina hingga ke bagian dalam dan cukup di bagian luar saja. Anda juga disarankan untuk tidak menggunakan sabun saat membersihkan vagina.

Saat membasuh vagina, lakukan dari arah depan ke belakang (dari vagina ke anus) agar bakteri yang ada di anus tidak berpindah ke vagina. Selain itu, gunakanlah pakaian dalam yang terbuat dari bahan katun dan tidak terlalu ketat.

2. Tidak melakukan douching

Douching adalah membilas bagian dalam vagina menggunakan air dan campuran-campuran bahan tertentu.
Meski tujuan awalnya dilakukan untuk membuat vagina terasa lebih bersih, tapi cara ini justru akan mengganggu keseimbangan bakteri di vagina dan meningkatkan risiko infeksi.

3. Membatasi jumlah pasangan seksual

Semakin banyak jumlah pasangan seksual, maka akan semakin tinggi pula risiko Anda terkena infeksi bakteri maupun infeksi menular seksual.

Baca Juga

  • Makanan yang Dihindari Agar Miss V Tidak Bau
  • Bedah Mitos Cara Melihat Keperawanan Wanita, Ini Faktanya
  • Suppositoria Adalah Memasukkan Obat Lewat Lubang Anus dan Kelamin, Bagaimana Melakukannya?

Mengalami infeksi bakteri tentu perlu dihindari. Apabila Anda mulai merasakan gejala infeksi, jangan membeli antibiotik untuk keputihan tanpa resep dokter. Sebab setiap orang membutuhkan dosis dan jenis antibiotik yang berbeda, tergantung kondisi kesehatan pribadi.

Advertisement

antibiotikkeputihanvaginosis bakterikesehatan vagina

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved