Fungsi Antibiotik dan Risiko Resistensi Jika Digunakan Tidak Sesuai Resep Dokter


Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri dapat diobati dengan antibiotik. Yuk berkenalan dengan golongan obat antibiotik!

(0)
04 Feb 2020|Fadli Adzani
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Obat antibiotik adalah jenis obat yang diresepkan dokterAntibiotik adalah jenis obat untuk menyembuhkan penyakit akibat bakteri.
Antibiotik adalah obat untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan bakteri dalam tubuh penyebab berbagai macam penyakit.Penicillin, sebagai antibiotik pertama yang diproduksi massal, pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming. Sebelum antibiotik diperkenalkan dalam dunia medis modern pada 1936, hampir 30% kasus penyakit akibat bakteri berujung kematian.Tidak heran kalau antibiotik akhirnya dikenal sebagai “rajanya” obat dalam menangani kasus penyakit akibat bakteri.

Cara kerja antibiotik

Obat antibiotik dalam berbagai bentuk sediaan
Mintalah resep dokter sebelum konsumsi obat antibiotik
Antibiotik adalah jenis obat-obatan yang memerlukan resep dokter. Oleh karena itu, Anda pun disarankan untuk mengonsumsinya di bawah pengawasan dokter.Sebelum itu, dokter akan lebih dulu memeriksa penyakit yang Anda idap, untuk memastikan potensi bakteri sebagai penyebab gangguan kesehatan tersebut.Dalam beberapa kasus, bisa saja dokter meminta Anda untuk menjalani tes darah atau urine berdasarkan gejala yag ditemukan.Kemudian jika telah memastikan bahwa penyakit Anda disebabkan oleh bakteri, dokter akan langsung memberikan resep antibiotik yang diperlukan.dokter bisa meresepkan antibiotik dalam bentuk:
  • Tablet
  • Kapsul
  • Cairan
  • Krim
  • Salep
Lantas, bagaimana cara kerja obat ini untuk membunuh bakteri penyebab penyakit?Sebenarnya, tubuh memiliki sistem imun dan sel darah putih yang bisa memberantas bakteri.Namun ketika jumlah bakteri meningkat, sistem imun pun kewalahan dan tidak bisa mengatasinya.Di saat seperti itulah antibiotik dibutuhkan. Obat ini membantu sistem imun melawan bakteri yang bisa menyebabkan penyakit.Cara kerja antibiotik untuk membunuh bakteri dalam tubuh adalah dengan berbagai cara berikut ini:
  • Menyerang dinding yang melapisi bakteri
  • Mengganggu reproduksi bakteri
  • Menghalangi produksi protein pada bakteri

Golongan antibiotik dan penyakit yang berpotensi disembuhkannya

Minum kaplet obat antibiotik
Beberapa golongan antibiotik yang perlu Anda ketahui
Ada beragam jenis antibiotik. Penyakit yang dapat disembuhkannya pun berbeda-beda. Dokter akan menentukan jenisnya sesuai dengan kondisi Anda.Beberapa golongan obat antibiotik di antaranya:

1. Penisilin

Penisilin adalah golongan obat antibiotik pertama dalam sejarah kedokteran.Penisilin digunakan untuk mengobati penyakit seperti radang tenggorokan, pneumonia, sifilis, meningitis, tuberkulosis (TBC), gonorea atau demam rematik.Penisilin tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, sirup kering, hingga suntikan. Selain itu, penisilin juga memiliki beberapa jenis yang meliputi:
  • Penisilin V
  • Penisilin G
  • Amoxicillin
  • Ampicillin
Efek samping obat penisilin pun beragam, mulai dari diare, mual, sakit kepala, ruam kulit, dan gatal-gatal.

2. Sefalosporin

Sefalosporin (cefalosporin) adalah golongan obat antibakteri yang mirip seperti penisilin.Sefalosporin dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti infeksi kulit, infeksi saluran kemih, radang tenggorokan, infeksi telinga, bacterial pneumonia, infeksi sinus, meningitis, hingga gonorea.Sama seperti penisilin, sefalosporin memiliki jenis beragam, yaitu:Efek samping sefalosporin di antaranya adalah mual atau muntah, diare, sariawan, ruam kulit dan gatal-gatal.

3. Tetrasiklin

Golongan tetrasiklin digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan bakteri klamidia, mikoplasmata, protozoa, atau rickettsiae.Penyakit maupun gangguan kesehatan yang bisa diredakan oleh obat antibiotik satu ini adalah:
  • Malaria
  • Jerawat
  • Antraks
  • Infeksi saluran pencernaan
  • Infeksi gusi
  • Infeksi kulit
  • Infeksi saluran pernapasan yang akibat bakteri Mycoplasma pneumoniae
Tetrasiklin juga menyebabkan efek samping seperti ruam kulit, gatal-gatal, vagina gatal, sariawan, pusing, sampai diare.Demeclocycline, doxycycline, eravacycline, minocycline, omadacycline, dan tetracycline merupakan jenis obat yang masuk dalam golongan tetrasiklin. 

4. Aminoglikosida

Aminoglikosida adalah golongan antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi perut, infeksi saluran kemih, bakteremia (kondisi bakteri di dalam darah), hingga endokarditis (infeksi pada endokardium jantung).Gentamicin, amikacin, tobramycin, kanamycin, streptomycin, dan neomycin merupakan jenis-jenis aminoglikosida.Efek samping golongan obat ini cukup berbeda dari penisilin ataupun tetrasiklin. Berikut ini sejumlah efek samping dari penggunaan aminoglikosida:
  • Gangguan pendengaran
  • Kerusakan pada telinga bagian dalam
  • Kerusakan ginjal
  • Kelumpuhan otot rangka
Aminoglikosida adalah jenis antibiotik yang memiliki efek samping parah. Pasien disarankan untuk tidak mengonsumsinya tanpa anjuran dan pengawasan dokter.

5. Makrolida

Golongan obat makrolida memiliki beberapa jenis seperti azithromycin, clarithromycin, eryhtromycin, spiramycin, hingga telithromycin.Makrolida digunakan untuk mengobati infeksi pernapasan, infeksi menular seksual, infeksi telinga, hidung, dan tenggorokan, serta infeksi mulut.Efek samping umum makrolida berupa diare, muntah-muntah, mual, dan nyeri pada usus.

6. Klindamisin

Klindamisin bekerja dengan cara memperlambat atau menghentikan perkembangbiakan bakteri.Klindamisin dipercaya dalam mengobati otitis media (infeksi telinga tengah), infeksi sinus, meningitis, pneumonia, infeksi vagina, penyakit radang panggul, sampai jerawat.Efek samping klindamisin adalah mual, muntah, sensasi rasa logam dalam mulut, nyeri sendi, sakit saat menelan, serta vagina gatal.

7. Sulfonamid

Sulfonamid adalah obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati diare, bronkitis, infeksi mata, infeksi saluran kemih, pneumonia, hingga luka bakar.Sulfonamid memiliki beberapa jenis seperti sulfisoxazole, zonisamide, sampai sulfasalazine.Efek sampingnya beragam, mulai dari ruam kulit, gatal-gatal, sakit kepala, lelah, nyeri sendi, sampai sensitif terhadap cahaya.

8. Trimetoprim

Trimetoprim adalah antibiotik yang sering digunakan untuk mengobati infeksi kandung kemih dan diare.Terkadang, trimetoprim juga digunakan bersamaan dengan golongan obat antibiotik lainnya untuk menangani pneumonia.Beberapa efek samping trimetoprim adalah ruam kulit, muntah, gatal-gatal, sakit tenggorokan, sulit menelan, sampai nyeri sendi.

9. Kuinolon

Kuinolon adalah obat golongan antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan bawah, infeksi kulit, sampai infeksi saluran kemih.Salah satu jenis kuinolon, yaitu fluoroquinolone, juga dipercaya dalam menangani radang prostat, sinusitis, dan gonorea.Efek samping kuinolon dianggap sangat berbahaya, seperti aritmia (irama jantung tak teratur), perubahan pada kadar gula darah, neuropati (kerusakan pada saraf), hingga terganggunya sistem saraf pusat (insomnia, kejang, gelisah, hingga agitasi).Golongan kuionolon ini melingkupi obat ciprofloxacin, levofloxacin, dan moxifloxacin.

Resistensi antibiotik sudah ada sejak tahun 1940

Penicillin, sebagai antibiotik pertama yang diproduksi massal, pertama kali ditemukan oleh Alexander Fleming.Sejak saat itu, peneliti sudah menemukan dan menyadari risiko resistensi antibiotik mengingat kuman akan selalu mencari cara agar bisa selamat dan kebal terhadap obat baru.Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pula kuman yang kebal terhadap antibiotik.Di tahun 1940, peneliti telah menemukan bahwa bakteri dapat menghilangkan fungsi antibiotik dengan reaksi enzimatik yang dihasilkan bakteri.Akibatnya, setiap tahun peneliti menemukan ada sekitar 25.000 pasien di Eropa meninggal akibat infeksi bakteri yang sudah kebal obat, dan lebih banyak angkanya di Amerika Serikat dengan 63.000 pasien meninggal akibat infeksi bakteri di rumah sakit.Untuk mengatasi masalah ini, peneliti berusaha mengembangkan antibiotik jenis baru yang tidak terpengaruh modifikasi bakteri, serta membatasi penggunaan antibiotik menjadi hanya digunakan saat diperlukan.Cara ini masih membantu menjaga efektivitas antibotik. Namun, perlu disadari bahwa suatu saat bakteri akan kebal terhadap semua antibiotik yang ada di pasaran.

Catatan dari SehatQ

Dokter akan menyarankan untuk selalu menghabiskan antibiotik walaupun Anda telah merasa sembuh.Jika pengobatan antibiotik terhenti di tengah jalan, maka kemungkinan infeksi bisa kembali lagi dan meningkatkan risiko bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut.Antibiotik adalah jenis obat-obatan yang bisa menimbulkan efek samping seperti alergi. Itulah sebabnya, pembelian antibiotik membutuhkan resep dokter. Mengonsumsinya juga harus dengan pengawasan dokter.
penyakitinfeksi bakteriantibiotikhidup sehat
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/10278.php
Diakses pada 4 Februari 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/how-do-antibiotics-work
Diakses pada 4 Februari 2020
Livescience. https://www.livescience.com/65598-penicillin.html
Diakses pada 4 Februari 2020
Medicine Net. https://www.medicinenet.com/penicillins-injection/article.htm#are_penicillin_antibiotics_safe_to_take_during_pregnancy_or_while_breastfeeding
Diakses pada 4 Februari 2020
Drugs. https://www.drugs.com/drug-class/tetracyclines.html
Diakses pada 4 Februari 2020
American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/1998/1115/p1811.html
Diakses pada 4 Februari 2020
Medline Plus. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a682399.html
Diakses pada 4 Februari 2020
Health Servis Executive. https://www.hse.ie/eng/health/az/a/antibiotics,-macrolide/uses-of-macrolide-antibiotics.html
Diakses pada 4 Februari 2020
Center 4 Research. http://www.center4research.org/antibiotics-riskier-others-know-quinolones/
Diakses pada 4 Februari 2020
NHS. https://www.nhs.uk/news/medication/questions-over-advice-to-finish-courses-of-antibiotics/
Diakses pada 4 Februari 2020
Frontiers in Microbiology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3109405/
Diakses pada 17 Februari 2020
Centers for Diasease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/drugresistance/about.html
Diakses pada 17 Februari 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait