Meski Terus Membaik, Angka Kematian Bayi di Indonesia Masih Tertinggal


Angka kematian bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi di bawah usia 1 tahun per 1.000 kelahiran. Kenali penyakit apa yang menyebabkan AKB tinggi dan apa saja program pemerintah untuk menanggulanginya.

(0)
02 Mar 2020|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Angka kematian bayi dapat disebabkan oleh berbagai faktorAngka kematian bayi di Indonesia masih terbilang tinggi dari beberapa negara Asia lainnya
Fasilitas kesehatan di Indonesia memang belum memuaskan banyak pihak, tapi harus diakui bahwa pelayanan kesehatan di Tanah Air mengalami kemajuan yang berarti. Hal ini terlihat dari menurunnya angka kematian bayi di Indonesia dari tahun ke tahun.Angka kematian bayi (AKB) adalah jumlah meninggalnya bayi yang berusia di bawah 1 tahun per 1.000 kelahiran yang terjadi dalam kurun satu tahun. Angka ini kerap digunakan sebagai acuan untuk menilai baik-buruknya kondisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan di suatu negara.Lebih spesifik, angka kematian bayi menggambarkan level kesehatan di negara tersebut. Tak pelak, angka ini juga digunakan oleh pemerintah sebagai rujukan untuk menentukan kebijakan di dunia kesehatan pada masa mendatang.

Situasi angka kematian bayi di Indonesia

Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), angka kematian bayi di Indonesia pada 2019 lalu adalah 21,12. Angka ini menurun dari catatan pada 2018 ketika angka kematian bayi di Indonesia masih mencapai 21,86 atau pada 2017 yang mencapai 22,62.Faktanya, grafik angka kematian bayi di Indonesia memang memperlihatkan penurunan setiap tahun. Sebagai gambaran, pada 1952 lalu angka kematian bayi di Indonesia mencapai 192,66 dan pada 1991 masih sekitar 61,94.Menurunnya angka kematian ini banyak dipengaruhi oleh meningkatnya penyediaan fasilitas kesehatan di berbagai daerah. Hal ini diikuti dengan menurunnya penyakit infeksi dan meluasnya cakupan imunisasi pada bayi.Meski terus mengalami peningkatan yang signifikan, angka kematian bayi di Indonesia masih tergolong tinggi dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Pada 2019, negara Asia Tenggara dengan angka kematian bayi paling rendah adalah Singapura (2,26), disusul Malaysia (6,65), Thailand (7,80), Brunei Darussalam (9,83), dan Vietnam (16,50).Pemerintah pun menyadari situasi ini dan berjanji untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan di Tanah Air. Beberapa langkah yang dilakukan, antara lain:
  • Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan dan sanitas di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat
  • Menyediakan air bersih
  • Memberantas penyakit menular
  • Meningkatkan cakupan imunisasi
  • Meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk pelayanan kontrasepsi dan ibu
  • Menanggulangi gizi buruk
  • Promosi pemberian ASI ekslusif
  • Pemantauan pertumbuhan bayi melalui fasilitas kesehatan.

Penyebab umum kematian bayi yang mempengaruhi AKB 

Di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, kematian bayi paling banyak terjadi pada periode neonatal alias usia bayi 0-28 hari. Banyak pula bayi yang meninggal dunia sebelum usia 1 tahun karena pneumonia, diare, hingga malaria.Secara umum, faktor yang memengaruhi AKB di suatu negara ialah:

1. Cacat bawaan lahir

Cacat bawaan lahir adalah kelainan struktural pada bagian tertentu tubuh bayi yang langsung ada saat ia dilahirkan. Kondisi bayi yang mengalami kelainan ini akan sangat dipengaruhi oleh bagian tubuh mana yang terdapat kelainan dan seberapa parah kondisi itu.Bayi yang lahir dengan kondisi ini butuh penanganan khusus agar dapat hidup lebih lama. Bagi bayi yang dapat bertahan melewati usia 1 tahun, ia mungkin harus menjalani serangkaian terapi untuk menunjang tumbuh kembangnya.

2. Bayi lahir prematur dan memiliki berat lahir rendah

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu. Namun, ada juga bayi yang lahir sangat prematur, yakni sebelum usia kandungan genap 32 minggu.Selain mengalami berat lahir rendah, bayi sangat prematur kemungkinan mengalami masalah pada pernapasan, pencernaan, tumbuh kembang, hingga fungsi alat inderanya.

3. Komplikasi kehamilan

Komplikasi ini adalah masalah kesehatan yang terjadi selama kehamilan. Masalah kesehatan tersebut dapat memengaruhi ibu, bayi, atau keduanya.

4. Sindrom kematian bayi mendadak (SIDS)

Sindrom kematian bayi mendadak atau SIDS adalah kematian bayi di bawah 1 tahun karena penyebab yang tidak jelas. Untuk mencegah SIDS, salah satu langkah yang dapat dilakukan orangtua adalah menidurkan bayi dalam posisi punggung di bawah dan memastikan tidak ada objek di sekitar bayi yang dapat menutup jalan napasnya, termasuk bantal, guling, selimut, maupun mainan.

5. Kecelakaan lainnya

Kecelakaan lain yang dimaksud di sini bisa sangat beragam, misalnya kecelakaan kendaraan, tenggelam, keracunan, dan lain-lain.

Penyebab kematian bayi yang sering terjadi berdasarkan pola usianya

Sedangkan penyebab kematian bayi dan balita berdasarkan usianya menurut Riset Kesehatan Dasar 2007 Kemenkes adalah terangkum sebagai berikut:

1. Penyebab kematian bayi 0-6 hari

  • Postmatur
  • Malformasi kongenital
  • Gangguan kelainan pernafasan
  • Prematurita atau berat bayi lahir rendah
  • Sepsis
  • Hipotermi
  • Kelainan perdarahan dan kuning

2. Penyebab kematian bayi 7-28 hari

  • Cedera lahir
  • Tetanus
  • Defisiensi nutrisi
  • Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS)
  • Sepsis
  • Malformasi kongenital
  • Pneumonia
  • Sindrom gawat pernafasan
  • Prematur atau berat bayi lahir rendah

3. Penyebab kematian 0-11 bulan

  • Masalah neonatal
  • Meningitis
  • Kelahiran kongenital
  • Pneumonia
  • Diare
  • Tetanus
  • Kematian yang tidak diketahui penyebabnya
Angka kematian bisa ditekan dengan langkah pencegahan yang sederhana. Contoh pencegahan ini ialah melakukan skin to skin antara ibu dan bayi baru lahir, menyusui secara eksklusif selama 6 bulan, dan melakukan perawatan kanguru pada bayi dengan berat lahir kurang dari 2 kilogram.

Program pemerintah untuk menurunkan angka kematian bayi dan ibu

Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan RI, menurut Arah Kebijakan dan Rencana Aksi Program Kesehatan Masyarakat Tahun 2020-2024, upaya terobosan yang akan dilakukan pemerintah untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan ibu dan anak

Upaya ini mencangkup peningkatan fasilitas kesehatan seperti puskesmas, bidan prakter swasta dan 120 RSUD Kab/Kota. Upaya ini dilakukan dalam penanganan kegawatdaruratan ibu dan bayi. Selain itu, pemerintah juga mengupayakan adanya ketersediaan rumah tunggu kelahiran yang lebih memadai.

2. Meningkatkan kualitas dan pelayanan kesehatan

Program ini termasuk dalam penempatan dokter spesialis (obgin, anak, penyakit dalam, anastesi dan bedah) sebanyak 700 orang per tahun. Selain itu ada juga upaya ketersediaan unit Transfusi Darah atau Bank Darah RS di Kab/Kota, penguatan antenatal, persalinan, dan postnatal yang sesuai standar. Akan ada juga pengampuan dan pembinaan dari RSUP.

3. Pemberdayaan masyarakat

Upaya ini termasuk pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak, kelas ibu hamil dan ibu balita, posyandu, pemanfaatan dana desa, peran PKK perencanaan persalinan pencegahan komplikasi termasuk seperti ambulans, desa, dan donor darah.

4. Penguatan tata kelola

Program yang satu ini termasuk upaya promotif dan preventif di Puskesmas. Termasuk juga peningkatan  pelacakan, pencatatan dan pelaporan kematian ibu dan bayi. Akan diperkuat juga tata kelola yang mencangkup pemantauan impelementasi regulasi. Pengetahuan medis yang dimiliki para pembantu kelahiran (bidan, dokter, dan suster) juga krusial. Seperti sebaiknya menunda memandikan bayi hingga 24 jam setelah kelahiran dan memastikan tali pusar bayi dirawat dengan baik sehingga tidak menyebabkan infeksi. Jika bayi Anda mengalami sakit atau gangguan kesehatan, segera hubungi dokter untuk mencegah hal buruk yang tidak diinginkan.
sindrom kematian mendadak pada bayi
CDC. https://www.cdc.gov/reproductivehealth/maternalinfanthealth/infantmortality.htm
Diakses pada 1 Maret 2020
OECD Library. https://www.oecd-ilibrary.org/docserver/health_glance_ap-2018-8-en.pdf?expires=1583069173&id=id&accname=guest&checksum=88198229796CDFBABFFFF05A3FC64569
Diakses pada 1 Maret 2020
IGME. https://childmortality.org/data
Diakses pada 1 Maret 2020
LIPI. http://kependudukan.lipi.go.id/id/kajian-kependudukan/migrasi/667-perubahan-struktur-penduduk-indonesia-kondisi-makro
Diakses pada 1 Maret 2020
Bappenas. https://www.bappenas.go.id/files/2113/6082/9893/indonesiamdgbigoal4__20081122001221__518.pdf
Diakses pada 1 Maret 2020
Kebijakan Kementerian Kesehatan https://bulelengkab.go.id/assets/instansikab/101/bankdata/paparan-dirjen-kesmas-utk-kars-53.pdf Diakses pada 14 Desember 2020Kemenkes. https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/Rakerkesnas-2020/Pleno%202/Arah%20dan%20kebijakan%20Program%20Kesehatan%20Masyarakat%20tahun%202020%20-%202024%20(Ditjen%20Kesmas).pdf Diakses pada 14 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait