Meski Terus Membaik, Angka Kematian Bayi di Indonesia Masih Tertinggal

Angka kematian bayi dapat disebabkan oleh berbagai faktor
Situasi ruangan di mana para bayi baru lahir dikumpulkan

Fasilitas kesehatan di Indonesia memang belum memuaskan banyak pihak, tapi harus diakui bahwa pelayanan kesehatan di Tanah Air mengalami kemajuan yang berarti. Hal ini terlihat dari menurunnya angka kematian bayi di Indonesia dari tahun ke tahun.

Angka kematian bayi adalah jumlah meninggalnya bayi yang berusia di bawah 1 tahun per 1.000 kelahiran yang terjadi dalam kurun satu tahun. Angka ini kerap digunakan sebagai acuan untuk menilai baik-buruknya kondisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan di suatu negara.

Lebih spesifik, angka kematian bayi menggambarkan level kesehatan di negara tersebut. Tak pelak, angka ini juga digunakan oleh pemerintah sebagai rujukan untuk menentukan kebijakan di dunia kesehatan pada masa mendatang.

Situasi angka kematian bayi di Indonesia

Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), angka kematian bayi di Indonesia pada 2019 lalu adalah 21,12. Angka ini menurun dari catatan pada 2018 ketika angka kematian bayi di Indonesia masih mencapai 21,86 atau pada 2017 yang mencapai 22,62.

Faktanya, grafik angka kematian bayi di Indonesia memang memperlihatkan penurunan setiap tahun. Sebagai gambaran, pada 1952 lalu angka kematian bayi di Indonesia mencapai 192,66 dan pada 1991 masih sekitar 61,94.

Menurunnya angka kematian bayi di Indonesia banyak dipengaruhi oleh meningkatnya penyediaan fasilitas kesehatan di berbagai daerah. Hal ini diikuti dengan menurunnya penyakit infeksi dan meluasnya cakupan imunisasi pada bayi.

Meski terus mengalami peningkatan yang signifikan, angka kematian bayi di Indonesia masih tergolong tinggi dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Pada 2019, negara Asia Tenggara dengan angka kematian bayi paling rendah adalah Singapura (2,26), disusul Malaysia (6,65), Thailand (7,80), Brunei Darussalam (9,83), dan Vietnam (16,50).

Pemerintah pun menyadari situasi ini dan berjanji untuk terus meningkatkan pelayanan kesehatan di Tanah Air. Beberapa langkah yang dilakukan, antara lain:

  • Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan dan sanitas di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat
  • Menyediakan air bersih
  • Memberantas penyakit menular
  • Meningkatkan cakupan imunisasi
  • Meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk pelayanan kontrasepsi dan ibu
  • Menanggulangi gizi buruk
  • Promosi pemberian ASI ekslusif
  • Pemantauan pertumbuhan bayi melalui fasilitas kesehatan.

Faktor apa saja yang memengaruhi angka kematian bayi?

Di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, kematian bayi paling banyak terjadi pada periode neonatal alias usia bayi 0-28 hari. Banyak pula bayi yang meninggal dunia sebelum usia 1 tahun karena pneumonia, diare, hingga malaria.

Secara umum, faktor yang memengaruhi angka kematian bayi di suatu negara ialah:

  • Cacat bawaan lahir

Cacat bawaan lahir adalah kelainan struktural pada bagian tertentu tubuh bayi yang langsung ada saat ia dilahirkan. Kondisi bayi yang mengalami kelainan ini akan sangat dipengaruhi oleh bagian tubuh mana yang terdapat kelainan dan seberapa parah kondisi itu.

Bayi yang lahir dengan kondisi ini butuh penanganan khusus agar dapat hidup lebih lama. Bagi bayi yang dapat bertahan melewati usia 1 tahun, ia mungkin harus menjalani serangkaian terapi untuk menunjang tumbuh kembangnya.

  • Bayi lahir prematur dan memiliki berat lahir rendah

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu. Namun, ada juga bayi yang lahir sangat prematur, yakni sebelum usia kandungan genap 32 minggu.

Bayi inilah yang berisiko tinggi menambah angka kematian bayi di suatu negara. Selain mengalami berat lahir rendah, bayi sangat prematur kemungkinan mengalami masalah pada pernapasan, pencernaan, tumbuh kembang, hingga fungsi alat inderanya.

  • Komplikasi kehamilan

Komplikasi ini adalah masalah kesehatan yang terjadi selama kehamilan. Masalah kesehatan tersebut dapat memengaruhi ibu, bayi, atau keduanya.

  • Sindrom kematian bayi mendadak (SIDS)

SIDS adalah kematian bayi di bawah 1 tahun karena penyebab yang tidak jelas. Untuk mencegah SIDS, salah satu langkah yang dapat dilakukan orangtua adalah menidurkan bayi dalam posisi punggung di bawah dan memastikan tidak ada objek di sekitar bayi yang dapat menutup jalan napasnya, termasuk bantal, guling, selimut, maupun mainan.

  • Kecelakaan lainnya

Kecelakaan lain yang dimaksud di sini bisa sangat beragam, misalnya kecelakaan kendaraan, tenggelam, keracunan, dan lain-lain.

Angka kematian bayi bisa ditekan dengan langkah pencegahan yang sederhana. Contoh pencegahan ini ialah melakukan skin to skin antara ibu dan bayi baru lahir, menyusui secara eksklusif selama 6 bulan, dan melakukan perawatan kanguru pada bayi dengan berat lahir kurang dari 2 kilogram.

Pengetahuan medis yang dimiliki para pembantu kelahiran (bidan, dokter, dan suster) juga krusial. Mereka sebaiknya menunda memandikan bayi hingga 24 jam setelah kelahiran dan memastikan tali pusar bayi dirawat dengan baik sehingga tidak menyebabkan infeksi.

CDC. https://www.cdc.gov/reproductivehealth/maternalinfanthealth/infantmortality.htm
Diakses pada 1 Maret 2020

OECD Library. https://www.oecd-ilibrary.org/docserver/health_glance_ap-2018-8-en.pdf?expires=1583069173&id=id&accname=guest&checksum=88198229796CDFBABFFFF05A3FC64569
Diakses pada 1 Maret 2020

IGME. https://childmortality.org/data
Diakses pada 1 Maret 2020

LIPI. http://kependudukan.lipi.go.id/id/kajian-kependudukan/migrasi/667-perubahan-struktur-penduduk-indonesia-kondisi-makro
Diakses pada 1 Maret 2020

Bappenas. https://www.bappenas.go.id/files/2113/6082/9893/indonesiamdgbigoal4__20081122001221__518.pdf
Diakses pada 1 Maret 2020

Artikel Terkait