Ingin Anak Tidur Lebih Nyenyak? Jauhkan Mereka dari TV

Menonton TV secara langsung akan memengaruhi waktu tidur anak
Memberikan anak akses bebas terhadap TV dapat memberikan dampak buruk

Televisi memiliki peranan penting hampir di setiap rumah tangga. Adanya media TV menggantikan aktivitas fisik, eksplorasi, hingga interaksi sosial secara langsung di dunia nyata.

Hal ini berperan penting dalam proses pembelajaran anak. Seorang anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya menonton TV akan mengganggu durasi dan kualitas tidur mereka.

Anak-anak pada usia prasekolah yang menonton televisi akan memiliki durasi tidur yang secara signifikan lebih pendek dibandingkan yang tidak menonton. Temuan ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Massachusetts Amherst.

Penelitian yang dipublikasikan pada jurnal National Sleep Foundation ini menyatakan bahwa TV akan memengaruhi kualitas dan durasi tidur pada anak-anak. Dalam penelitiannya, tidur anak dinilai menggunakan alat aktigrafi yang dipakai di pergelangan menyerupai jam tangan.

Fakta mengejutkan yang didapatkan adalah sebanyak 36 persen anak berusia 3-5 tahun memiliki TV di ruang tidurnya, dan sepertiga dari mereka tertidur saat menonton tayangan TV. Tak jarang yang ditonton adalah program dewasa berbau kekerasan.

Anak yang menghabiskan banyak waktu menonton televisi memiliki durasi tidur siang yang lebih panjang. Akan tetapi, hal ini tidak cukup memenuhi kebutuhan tidur malamnya yang hilang akibat menonton TV.

[[artikel-terkait]]

Berapa banyak waktu yang boleh dihabiskan anak di depan TV?

Seiring dengan kemajuan zaman, semakin banyak anak yang terpapar oleh TV dibandingkan bermain dengan teman sebayanya. Kriteria yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa anak berusia 2-4 tahun tidak direkomendasikan untuk menonton TV lebih dari 1 jam dalam sehari. Semakin sedikit paparan dengan layar TV maka akan semakin baik.

Sebanyak 54 persen anak yang terlibat dalam penelitian Universitas Massachusetts Amherst ini tidak memenuhi kriteria menonton TV yang ditetapkan oleh WHO pada hari kerja, jumlahnya bahkan meningkat hingga 87% pada akhir minggu.

Penelitian lain yang mengamati hubungan menonton TV dan waktu tidur menemukan bahwa dengan menonton TV kurang dari 1 jam, akan meningkatkan durasi tidur malam selama 22 menit. Jika diakumulasi dalam seminggu, anak-anak akan mendapatkan lebih dari 2,5 jam waktu tambahan untuk tidur.

Rekomendasi serupa juga disampaikan oleh American Academy of Pediatrics, yang menyarankan anak berusia 2-5 tahun sebaiknya dibatasi untuk menonton TV sebanyak 1 jam saja dalam sehari dengan program tontonan berkualitas. Hal yang penting untuk diterapkan adalah pendampingan orangtua untuk menonton TV bersama anaknya.

Pada anak kecil berusia di bawah 18 bulan, tidak dianjurkan untuk memberikan tayangan televisi. Mulai dari usia 18-24 bulan, anak boleh mulai diperkenalkan dengan tayangan yang berkualitas. Tentunya dengan pendampingan orangtua untuk membantu anak memahami apa yang dilihatnya.

Orangtua memiliki peranan penting dalam menyeimbangkan penggunaan TV pada anak-anak. Sebaiknya, singkirkan TV dari kamar anak, agar mereka memiliki waktu yang lebih lama untuk tidur dan mendapatkan tidur yang berkualitas.

UMass Amherst. https://www.umass.edu/newsoffice/article/preschoolers-who-watch-tv-sleep-less
Diakses pada Juni 2019

WHO. https://www.who.int/news-room/detail/24-04-2019-to-grow-up-healthy-children-need-to-sit-less-and-play-more
Diakses pada Juni 2019

AAP.org. http://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/Pages/American-Academy-of-Pediatrics-Announces-New-Recommendations-for-Childrens-Media-Use.aspx
Diakses pada Juni 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed