Usia yang paling umum melihat anak mengalami alergi telur adalah 6-15 bulan
Alergi telur umum terjadi pada anak-anak, tetapi akan menghilang seiring pertambahan usia

Menu dengan bahan dasar telur adalah favorit banyak orang. Selain terjangkau, rasanya lezat, mudah dikreasikan, kandungan gizinya pun baik. Meski demikian, tak sedikit orang yang justru mengalami alergi telur.

Telur merupakan penyebab alergi paling umum bagi anak-anak. Biasanya, alergi telur ini terdeteksi sejak usia dini dan menjadi kian parah ketika mereka mulai belajar untuk makan.

Dapatkah alergi telur hilang dengan sendirinya?

Baik anak-anak maupun orang dewasa bisa saja mengalami alergi telur. Ketika alergi terjadi, artinya sistem kekebalan tubuh menganggap protein dalam telur sebagai substansi berbahaya.

Biasanya, reaksi alergi pada tubuh anak bisa berupa wajah memerah hingga ruam di sekitar mulut. Usia yang paling umum melihat anak mengalami alergi telur adalah 6-15 bulan.

Kabar baiknya, sebagian besar anak-anak yang mengalami alergi telur akan beradaptasi dengan sendirinya seiring bertambahnya usianya.

Bagaimana dengan alergi telur pada dewasa?

Dibandingkan dengan alergi telur pada anak-anak, alergi telur pada orang dewasa adalah hal yang sangat jarang terjadi. Ini karena anak-anak biasanya telah berhasil mengatasi alergi telurnya seiring dengan pertumbuhannya.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada kasus alergi telur pada orang dewasa. Bisa saja kekebalan tubuh mereka masih sensitif terhadap telur dan menimbulkan reaksi defensif.

Tingkat keparahan gejala yang terjadi pun bisa berupa demam, muncul eksim, hingga reaksi anafilaksis. Gejala yang disebut terakhir ini adalah reaksi alergi berat yang dapat menyebabkan kematian.

Apa pertolongan pertama yang tepat?

Ada kalanya alergi telur pada seseorang terjadi cukup parah. Reaksinya seperti napas tersengal-sengal, lidah atau bibir membengkak, hingga penderitanya merasa tenggorokannya tercekat.

Ketika hal ini terjadi, pertolongan pertama yang bisa diberikan adalah membawanya ke unit gawat darurat. Reaksi alergi yang terkait dengan jantung dan pernapasan harus segera mendapatkan penanganan medis darurat.

Hal yang sama juga perlu dilakukan jika seseorang yang mengalami alergi dan telah mengonsumsi obat namun gejalanya tak kunjung membaik.

Sementara jika reaksinya tidak terlalu parah, Anda bisa memberikan obat antihistamin untuk meredakannya. 

Selain itu, cara yang bisa Anda lakukan terutama jika alergi telur terjadi pada bayi dan anak-anak adalah:

  • Basuh kulit dan mulut bayi untuk membersihkan sisa kontak dengan telur. Cara ini bisa mengurangi reaksi alergi pada kulit seperti ruam dan gatal-gatal.
  • Oleskan salep hidrokortison (obat antiradang) ke ruam di kulit untuk mencegah peradangan dan rasa gatal
  • Beri obat antihistamin sesuai dengan dosis usia dan berat badan anak
  • Untuk sementara, jangan beri makan telur atau olahannya kepada anak

Selalu sedia salep hidrokortison dan obat antihistamin apabila ada anak atau orang di sekitar Anda yang memiliki alergi telur. Namun tak perlu terlalu khawatir, mengingat sebagian besar anak-anak akan sembuh dari alergi telur seiring dengan bertambahnya usia.

Kids Health. https://kidshealth.org/en/kids/egg-allergy.html?WT.ac=ctg
Diakses pada 29 Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/allergies/egg#7
Diakses pada 29 Mei 2019

Journal of Allergy and Clinical Immunology. http://www.jiaci.org/issues/vol17issue01/11.pdf
Diakses pada 29 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/egg-allergy/diagnosis-treatment/drc-20372119
Diakses pada 29 Mei 2019

Live Strong. https://www.livestrong.com/article/499906-how-to-treat-an-allergic-reaction-to-eggs-in-an-infant/
Diakses pada 29 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed