Orangtua berperan mencegah dan memutus rantai bullying melalui pendidikan parenting
Keluarga dan sekolah memegang peran penting dalam pencegahan bullying oleh anak.

Umumnya, anak pelaku bullying dituding sebagai anak yang kejam, tidak ramah, dan kurang dalam keterampilan sosial atau kurang pergaulan. Pencegahan bullying oleh anak pun memerlukan dukungan banyak pihak, termasuk keluarga dan sekolah.

Secara teori, dahulu peneliti percaya bahwa anak pelaku bullying memiliki kemampuan sosial yang buruk dan harga diri yang rendah sehingga tidak memiliki teman, atau mereka pernah menjadi korban bullying.  Namun, ciri-ciri tersebut tidak sepenuhnya berlaku. 

Jika Disebabkan Medsos dan Game, Apakah Pencegahan Bullying Bisa Dilakukan?

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, media sosial termasuk Instagram dan Facebook, serta game online, membawa pengaruh signifikan terhadap peningkatan kasus bullying di sekolah.

Anak-anak usia sekolah belum terlalu memahami dampak pemakaian Internet. Akibatnya, mereka pun belum menyadari dampak yang terjadi di dunia nyata, jika mereka melakukan hal-hal yang dianggap wajar di dunia maya. Misalnya, saat bermain game online, yang melibatkan gerakan seperti memukul dan meninju.

Untuk mencegah bullying di kalangan anak-anak, keluarga dan sekolah memiliki peran penting.

Peran Keluarga dalam Pencegahan Bullying

Orangtua berperan mencegah dan memutus rantai bullying melalui pendidikan parenting. Sebab berdasarkan penelitian, kasus bullying pun bisa terjadi di rumah, ketika orangtua memiliki lebih dari dua anak.

Bullying oleh kakak atau adik, menjadi bentuk kekerasan dalam keluarga yang paling sering ditemukan. Sayangnya, hal semacam ini malah dianggap sebagai bagian dari pendewasaan anak. Padahal sebagai dampak jangka panjang, anak yang menjadi korban bullying di tengah keluarga bisa mengalami gangguan mental.

Keluarga, termasuk orangtua, berperan penting dalam mencegah dan menghentikan bullying. Murid dengan keluarga yang harmonis, lebih jarang memperlihatkan perilaku agresif.

Peran Sekolah dalam Pencegahan Bullying

Seperti halnya keluarga, sekolah pun berperan penting dalam mencegah bullying. Anak-anak yang memiliki hubungan erat dengan keluarga, dan mendapat dukungan pihak sekolah, biasanya akan menghentikan tindakan bullying yang dijumpai.

Bullying yang dimaksud mulai dari kekerasan fisik, cyberbullying, pengucilan oleh kelompok tertentu, hingga kekerasan sosial, seperti gosip yang merugikan.

Kasus Bullying di Kalangan Anak

Contohnya, kasus yang ditangani Dorothy Espelage, PhD, seorang peneliti bullying sekolah, mewawancarai seorang anak, sebut saja namanya Johnny. Ia duduk di kelas VII di Chicago. Ayahnya seorang dokter, dan ibunya seorang politisi lokal. Johnny sangat pandai bergaul, bahkan ia dikagumi oleh teman-teman sekelasnya.

Namun, yang mengejutkan, Johny ternyata adalah anak pelaku bullying yang senang mengganggu anak-anak lain. Bahkan, ia juga merokok, mengonsumsi alkohol, dan sering membolos. Apa yang terjadi pada Johnny tentu sangat aneh, mengingat sepertinya ia adalah anak yang memiliki segalanya.

Namun, di era milenial, anak pelaku bullying bisa saja dari keluarga terpandang. Mereka memiliki kemampuan sosial yang normal, bahkan melebihi anak-anak lain.

Apa Penyebab Anak Menjadi Pelaku Bullying?

Dalam banyak kasus, anak pelaku bullying menjadi pemimpin geng atau kelompok yang didukung oleh anak-anak lain. Mereka menjadi anak pelaku bullying karena mencoba mempertahankan eksistensi diri atau posisi mereka yang mendominasi di dalam kelompok.

Anak pelaku bullying akan mengidentifikasi target bullying yang rentan, lalu menetapkan dominasinya untuk mempertahankan kendali kelompok. Tentu saja hal ini sangat negatif dan tidak boleh dibiarkan.

Kebiasaan menindas atau mengganggu anak lain, bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah kurangnya perhatian orangtua atau kekerasan dalam rumah tangga.

Johnny memiliki segalanya, kecuali perhatian orangtua yang sibuk menjalani profesi di luar rumah sebagai dokter dan politikus.

Bila dibiarkan, anak pelaku bullying saat dewasa akan kesulitan menyesuaikan diri di tengah masyarakat dan sering terlibat masalah. Studi menunjukkan, anak pelaku bullying terlibat perkelahian, dipenjara, penyalahgunaan obat-obatan atau narkoba, mengonsumsi alkohol, dan memiliki masalah dalam karier serta hubungan pernikahan.

Bagaimana Cara Menangani Anak Pelaku Bullying?

Hanya ada satu solusi untuk membantu masalah anak pelaku bullying yaitu kerja sama antara orangtua dan pihak sekolah untuk meredakan faktor kemarahan sang anak.

Dalam kasus Johnny, ternyata ia marah karena kesepian dan orangtuanya tidak pernah ada saat ia membutuhkannya.

Apabila anak Anda terindikasi sebagai seorang pengganggu atau pelaku bullying, berikut saran para ahli:

  1. Luangkan lebih banyak waktu untuk anak dan melakukan kegiatan yang berkualitas Bersama-sama agar anak merasa dihargai dan disayangi.
  2. Ajarkan akan untuk mengekspresikan kemarahan dengan cara yang dapat diterima secara sosial. Misalnya, memberikan label nama pada emosi atau perasaannya, lalu berbicara secara terbuka dengan orangtua untuk mengatasi masalah tersebut.
  3. Ciptakan peluang bagi anak untuk menjadi pemimpin yang positif. Misalnya, menjadi ketua OSIS, ketua tim olahraga, ketua kelompok pramuka, ketua kelas, dan sebagainya.

Anak pelaku bullying tidak seharusnya dijauhi atau dimarahi. Namun justru harus dibantu dan dirangkul, agar ia bisa memperbaiki perilakunya.

WebMD. https://www.webmd.com/parenting/features/is-your-boy-a-bully-why-he-needs-help-and-fast#1
Diakses pada Oktober 2018

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
http://www.kpai.go.id/berita/sosmed-game-online-jadi-pemicu-bullying-anak
Diakses pada 20 Maret 2019

WebMD.
https://www.webmd.com/parenting/news/20140825/bullying-starts-before-school-years-begin-study-finds#1
Diakses pada 20 Maret 2019

WebMD.
https://www.webmd.com/parenting/news/20190214/does-bullying-start-at-home
Diakses pada 20 Maret 2019

WebMD.
https://www.webmd.com/parenting/news/20181207/family-school-support-may-help-stop-bullies
Diakses pada 20 Maret 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed