Anak Malas Belajar? Jangan Dulu Dimarahi, Ketahui Penyebabnya

(0)
22 Jul 2019|Anita Djie
Anak malas belajar bisa jadi karena lingkungan tidak mendukungAnak malas membaca buku atau mengerjakan PR bisa disebabkan oleh beberapa hal.
Anak malas belajar merupakan tantangan tersendiri bagi para orangtua. Melihat anak enggan mengerjakan PR atau membaca buku pelajaran tentu membuat Anda khawatir dengan performanya di sekolah. Namun, sebelum memarahi anak, sebaiknya cari tahu dulu penyebab anak malas belajar.Jangan terburu-buru menyalahkan anak ketika ia malas belajar. Ada berbagai penyebab yang mungkin membuat anak tidak suka belajar.

Penyebab anak malas belajar menurut para ahli

Dengan mengetahu alasan anak malas belajar, orangtua bisa mendiskusikannya dengan anak dan memotivasi anak agar lebih bersemangat dalam mengerjakan tugas sekolahnya dan memerhatikan guru di sekolah.
Gaya belajar yang tidak sesuai dapat membuat anak malas belajar

1. Gaya belajar yang tidak sesuai

Gaya belajar yang tidak tepat bisa membuat anak malas belajar dan menjadi tidak termotivasi di sekolah. Setiap anak unik dan memiliki cara tersendiri dalam belajar, mengenali gaya belajar anak bisa membantu anak untuk mengerti pelajarannya dengan lebih baik. Orangtua perlu peka dalam melihat gaya belajar mana yang paling sesuai untuk anak.Gaya belajar anak secara garis besar terbagi menjadi empat jenis, yaitu visual, auditori, membaca dan menulis, serta kinestetik. Keempat gaya belajar ini berbeda satu sama lainnya dan membentuk ciri khas anak:
  • Anak dengan gaya belajar visual,lebih mudah untuk mengerti pelajaran dengan penglihatan, seperti menggunakan gambar, ilustrasi, diagram, video, dan sebagainya. 
  • Anak dengan gaya belajar auditori, lebih mudah menangkap informasi melalui suara. Oleh karenanya, anak dengan gaya belajar auditori dapat dengan cepat mengingat pelajaran dari guru yang sedang berbicara.
  • Anak dengan gaya belajar membaca dan menulis, gampang memahami materi pelajaran dalam bentuk tulisan dan ditandai dengan kegemarannya untuk mencatat di buku cetak ataupun catatan.
  • Anak dengan gaya belajar kinestetik, cepat menyerap informasi saat dilakukan atau dipadukan dengan hal-hal praktis. Gaya belajar kinestetik membuat anak lebih senang belajar dengan langsung mempraktekkan materi pelajarannya.
  • Gaya belajar yang tidak tepat membuat anak kesulitan untuk mengerti bahan pelajaran dan membuat anak malas belajar.

2. Lingkungan yang tidak mendukung 

Lingkungan sekitar anak merupakan salah satu faktor yang sering tidak diperhatikan oleh orangtua. Sebuah riset menemukan lingkungan rumah yang positif berhubungan dengan prestasi akademik yang baik. Lingkungan rumah yang tidak kondusif mampu membuat anak malas belajar di rumah. Begitupun juga dengan lingkungan sekolah, penelitian mendapati bahwa lingkungan sekolah berpartisipasi sebanyak 40% terhadap prestasi akademik siswa.Penelitian tersebut juga menemukan bahwa siswa dengan fasilitas sekolah yang mencukupi, serta lingkungan dan guru yang baik memiliki performa akademik yang lebih baik daripada sekolah yang memiliki sedikit fasilitas dengan lingkungan yang tidak mendukung pembelajaran, serta guru yang tidak memiliki kualifikasi.Tidak hanya itu, ditemukan juga bahwa sekolah dengan fasilitas yang cukup dan modern mampu meningkatkan pembelajaran anak. Anak malas belajar tidak selalu salah dari anak dan bisa jadi hanya membutuhkan perubahan di lingkungan sekitarnya.
Anak yang mengalami bullying dapat berakibat menjadi malas belajar

3. Bullying 

Orangtua dan pihak sekolah perlu peka dalam melihat apakah anak memiliki masalah di sekolah, salah satunya adalah bullying. Dalam jurnal International Education Studies, bullying atau perundungan berdampak negatif terhadap prestasi akademik anak.Anak malas belajar bisa menjadi salah satu indikasi bahwa anak mengalami bullying. Orangtua perlu jeli dalam melihat kondisi anak karena bullying tidak hanya bersifat fisik dan verbal, tetapi juga bisa melalui media sosial maupun dikucilkan oleh teman-temannya.

4. Masalah dalam proses belajar

Anak malas belajar bisa jadi dikarenakan adanya masalah atau gangguan belajar yang dialami oleh anak. Gangguan belajar dapat membuat anak malas belajar karena kesulitan dalam menangkap atau memahami informasi yang diberikan.Beberapa gangguan belajar yang umumnya dialami anak adalah ADHD dan disleksia. Anak ADHD ditandai dengan kesulitan anak untuk fokus, perilaku yang impulsif, dan hiperaktif. Sementara disleksia merupakan gangguan belajar yang menyebabkan anak menjadi sulit membaca. Disleksia diakibatkan oleh ketidakmampuan anak dalam mengaitkan pelafalan dengan kata-kata.Kedua gangguan belajar ini menghalangi proses pembelajaran anak dan tentunya membuat anak malas belajar.
Cemas dan depresi dapat membuat anak jadi malas belajar

5. Gangguan dalam emosi

Alasan lain dari anak malas belajar mungkin dikarenakan adanya masalah pada emosi anak, seperti rasa cemas yang berlebih atau depresi. Rasa cemas yang berlebih bisa mengganggu anak dalam mengerjakan tugas, kerja kelompok, ataupun presentasi.Suasana hati sangat berperan dalam konsentrasi, energi, dan motivasi anak. Depresi menurunkan suasana hati anak dan mengganggu performa akademik anak. Depresi biasanya ditandai dengan suasana hati yang sedih secara berkepanjangan, pemikiran untuk melukai diri atau mengenai bunuh diri, keinginan untuk melakukan bunuh diri, ataupun percobaan untuk melukai diri atau bunuh diri.

Bagaimana cara mengatasi anak malas belajar?

Orangtua dapat membantu anak agar termotivasi belajar. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda pilih untuk membantu anak menemukan semangat belajarnya.

1. Dampingi anak

Dengan mendampingi anak untuk mengetahui gaya belajar yang efektif untuknya, anak akan termotivasi dan orangtua pun akan lebih mudah mengarahkannya. Orangtua bisa memulainya dari topik pelajaran yang disukai anak.

2. Membuat area belajar yang nyaman

Lingkungan rumah juga harus kondusif dan mendukung anak untuk belajar. Orangtua bisa menyediakan satu ruangan atau tempat khusus di rumah untuk anak belajar dengan kursi dan meja yang nyaman. Ruangan belajar anak tidak hanya harus nyaman tetapi juga tidak dekat dengan hal-hal yang bisa membuat anak terdistraksi, seperti mainan, televisi, dan sebagainya. Orangtua dapat melengkapi ruang belajar anak dengan peralatan yang memadai, seperti pensil, rak buku, dan sebagainya.

3. Cari tahu cita-cita anak

Orangtua dapat berdiskusi dengan anak mengenai apa yang ia ingin lakukan ke depannya. Menyadarkan anak terhadap tujuan hidupnya serta memberitahukan apa yang harus dilakukan untuk meraih cita-cita tersebut dapat meningkatkan motivasi dalam diri anak.

4. Jelaskan pada anak pentingnya belajar

Orangtua dapat menjelaskan kepada anak mengapa belajar di sekolah penting untuk masa depannya. Memberitahukan anak mengapa belajar itu penting mampu meningkatkan motivasi anak.

5. Tekankan upaya daripada hasil

Jangan hanya memuji anak saat anak mencapai nilai yang baik, tetapi tetap puji anak saat ia melakukan berbagai upaya untuk bisa mencapai hasil tersebut. Hargai setiap usaha yang telah dilakukan anak agar anak dapat menikmati proses dari pencapaian targetnya.

6. Pupuk kepercayaan akan kemampuan diri sendiri

Orangtua juga bisa membantu anak menyadari kemampuannya. Misalnya, saat anak berhasil memecahkan soal matematika yang sulit, Anda bisa memberitahunya bahwa soal tersebut sulit dan tidak semua anak bisa mengerjakannya.

7. Fokus pada satu perilaku

Saat ingin meningkatkan motivasi anak, Anda tidak bisa serta merta ingin mengubah semuanya. Fokuslah pada satu perilaku tertentu yang ingin diubah, misalnya Anda ingin anak lebih termotivasi untuk membaca, maka jangan menyuruh anak mengerjakan hal lainnya, seperti belajar berhitung atau menambah pekerjaan di rumah.

8. Berikan hadiah

Memberikan hadiah secara terus-menerus tidak akan memberikan dampak yang positif, tetapi memberikan hadiah di waktu yang tepat mampu membantu meningkatkan motivasi anak.Orangtua bisa memberikan hadiah kepada anak karena telah menyelesaikan langkah-langkah kecilnya. Misalnya, memberikan anak tambahan waktu bermain saat anak berhasil menyelesaikan pekerjaan sekolahnya.

9. Hindari terlalu sering mengkritik anak

Orangtua mungkin berpikir bahwa mengkritik anak dilakukan dalam rangka untuk membuat anak menyadari kesalahannya dan mengubahnya. Faktanya, kritikan malah akan mengurangi kepercayaan diri anak.Sebaiknya, puji anak saat anak berhasil melakukan sesuatu. Contohnya, jangan memarahi anak karena sering lupa mengembalikan barang-barang ke tempatnya, sebaiknya ucapkan rasa terima kasih pada anak saat anak tidak lupa menggembalikan barang-barang tersebut.

10. Jadilah contoh yang baik

Anak dapat menjadikan orangtua sebagai teladannya dan karenanya Anda perlu menerapkan apa yang Anda katakan kepada anak.Bila orangtua ingin anaknya menjadi termotivasi, orangtua perlu memperlihatkan bagaimana mereka bekerja keras dan tetap merasa senang dengan upaya yang telah dilakukan meskipun tujuan yang ingin dicapai tidak diraih dengan sempurna.

11. Ketahui kapan harus berkonsultasi

Bila alasan anak malas belajar dikarenakan gangguan dalam emosi atau masalah dalam proses belajar, maka orangtua perlu membawa anak berkonsultasi ke psikolog dan dokter untuk diperiksa dan dilakukan penanganannya. Kunci dari mengatasi anak malas belajar adalah kepekaan orangtua dan keterbukaan serta pengertian orangtua untuk berbicara secara pribadi dengan anak untuk mengetahui apa yang sebenarnya membuat anak malas belajar.Berbicara dengan anak adalah hal yang penting dan perlu dilakukan, terutama jika orangtua merasa bahwa anak mengalami bullying ataupun masalah pribadi lainnya di sekolah yang memicu anak malas belajar.Penerimaan dan pengertian orangtua terhadap kemampuan dan keunikan anak bisa membantu anak untuk merasa diterima dan termotivasi dalam pelajarannya.
tips mendidik anakperkembangan anaksekolah
Child Mind Institute. https://childmind.org/article/does-your-child-lack-motivation/
Diakses pada 19 Juli 2019
International Conference on Empowering Islamic Civilization in the 21st Century. https://pdfs.semanticscholar.org/924e/7c8b4c9744c4a66f26366a9c341ece63b038.pdf
Diakses pada 19 Juli 2019
International Education Studies. https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1144634.pdf
Diakses pada 19 Juli 2019
IOSR Journal of Mathematics. http://www.iosrjournals.org/iosr-jm/papers/Vol11-issue4/Version-2/E011422631.pdf
Diakses pada 19 Juli 2019
John Hopkins University. http://jhsap.org/self_help_resources/depression_anxiety_emotional_distress/index.html
Diakses pada 19 Juli 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dyslexia/symptoms-causes/syc-20353552
Diakses pada 19 Juli 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/adult-adhd/symptoms-causes/syc-20350878
Diakses pada 19 Juli 2019
National Center Against Bullying. https://www.ncab.org.au/bullying-advice/bullying-for-parents/types-of-bullying/
Diakses pada 19 Juli 2019
Ministry of Education. https://education.gov.gy/web/index.php/parenting-tips/item/1855-how-to-encourage-good-study-habits-in-a-child
Diakses pada 19 Juli 2019
Parents. https://www.parents.com/kids/development/behavioral/6-ways-to-motivate-your-kids/
Diakses pada 19 Juli 2019
The Asianparent Singapore. https://sg.theasianparent.com/lazy-kids
Diakses pada 19 Juli 2019
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/vark-learning-styles-2795156
Diakses pada 19 Juli 2019
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/shyness-is-nice/201303/motivating-your-child
Diakses pada 17 Desember 2019
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/savvy-parenting/201511/how-motivate-children-through-purpose
Diakses pada 17 Desember 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait