Amankah Puasa Ramadan bagi Penderita Autoimun?


Menjalankan puasa Ramadan bagi penderita penyakit autoimun dapat menjadi tantangan tersendiri. Sebenarnya, amankah puasa untuk autoimun?

(0)
20 Apr 2021|Nurul Rafiqua
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Puasa untuk autoimun boleh dilakukan dengan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokterPenyakit autoimun ada banyak jenisnya dan sebaiknya tanyakan dulu pada dokter Anda sebelum melakukan puasa Ramadan
Selama puasa Ramadan, tubuh diajak untuk beradaptasi pada pola makan yang baru. Nah, bagi penderita autoimun yang biasanya memiliki pola diet khusus, tentunya puasa selama satu bulan penuh, dapat mempengaruhi kondisi penderitanya. Sebenarnya, amankah puasa untuk autoimun? 

Pengaruh pola makan dalam penyakit Autoimun

Penyakit autoimun adalah suatu kondisi yang terjadi ketika sistem imunitas atau kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Pada tubuh yang sehat, sistem imunitas memiliki kemampuan untuk dapat membedakan antara sel tubuh yang sehat dan sel mikroorganisme asing seperti bakteri maupun virus.Sementara itu pada tubuh orang yang terkena penyakit autoimun, sistem imunitas kehilangan kemampuannya tersebut. Sehingga sistem kekebalan tubuh dapat keliru menyerang sel tubuh sendiri dengan melepaskan protein-protein yang dinamakan autoantibodi. Autoantibodi inilah yang nantinya akan menyerang sel-sel sehat di dalam tubuh.Faktor genetis, pola makan, infeksi, maupun paparan dari bahan kimia diduga menjadi penyebab seseorang bisa terkena penyakit autoimun.Faktor makanan termasuk salah satu yang memainkan peranan besar dalam kesehatan penderita autoimun. Pasalnya, diet yang tepat dapat menyediakan nutrisi penting yang dibutuhkan sistem kekebalan tubuh untuk tetap optimal. Oleh karenanya, pola makan penderita autoimun harus selalu dijaga.Lalu bagaimana efek puasa Ramadhan yang membatasi asupan makan dan minum bagi penderita autoimun?

Amankah puasa Ramadan untuk autoimun?

Puasa bukanlah hal yang baru dalam pembahasan terkait autoimun. Penelitian terbaru  yang digubah pada 2019 lalu menyatakan bahwa puasa secara umum dapat meningkatkan regenerasi sel dan mengurangi reaksi autoimun.Sebab, selama berpuasa, metabolisme tubuh turut berubah. Salah satu perubahan tersebut ditunjukkan oleh tubuh yang secara signifikan mengurangi leptin. Zat ini kerap menyebabkan peradangan pada pasien rheumatoid arthritis, diabetes tipe 1, hepatitis autoimun, dan multiple sclerosis.Oleh karena itu, meski ada pembatasan makan dan minum selama puasa berlangsung, efek positif dapat dirasakan oleh penderita autoimun. Hal ini juga diungkapkan oleh studi terdahulu yang meneliti efek puasa Ramadan pada penderita autoimun. Penelitian tersebut melibatkan orang-orang yang menderita autoimun dengan penyakit lupus, multiple sclerosis, dan radang usus.Autoantibodi yang banyak ditemukan pada penderita lupus ternyata tidak mengalami peningkatan jumlah secara pesat pada saat para mereka berpuasa. Peningkatan baru terjadi setelah mereka tidak lagi menjalankan ibadah puasa. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penderita lupus dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman.Selain itu, bagi penderita multiple sclerosis, berpuasa Ramadhan masih dapat dijalani dengan aman. Selama jenis makanan, pola tidur dan pengobatan tetap dimonitor. Puasa tidak disarankan bagi penderita multiple sclerosis yang diresepkan obat-obatan anti kejang dalam dosis tinggi.Penelitian lainnya mengamati puasa Ramadhan yang dijalani penderita IBD, (inflammatory bowel disease) atau radang usus. Telah dilaporkan bahwa pada 60 pasien yang diamati, puasa Ramadan tidak menunjukkan adanya hubungan dengan keparahan penyakit atau menurunnya kesehatan pasien secara umum. Sehingga dapat dikatakan puasa aman bagi tubuh penderita IBD.Dari berbagai penelitian di atas, dapat disimpulkan puasa Ramadhan relatif aman bagi penderita autoimun. Namun, masih banyak jenis penyakit autoimun yang belum diteliti hubungannya dengan puasa Ramadhan. Oleh sebab itu, pasien autoimun diminta untuk tetap berhati-hati jika memutuskan untuk berpuasa.

Tips aman menjalani puasa untuk autoimun 

Berikut ini tips yang dapat pengidap penyakit autoimun jalani agar puasa tetap sehat dan aman.

1. Jangan lewatkan sahur

Selain berpahala, sahur merupakan komponen terpenting dari puasa Ramadhan. Pasalnya tubuh kita bergantung pada asupan nutrisi yang berasal dari santap sahur.. Jika sahur terlewat maka periode puasa dalam hari itu menjadi semakin panjang. Karena berpuasa lebih lama, Anda akan cenderung merasa dehidrasi dan lelah di siang hari. Jika tidak ada asupan energi sama sekali, tubuh akan mudah kelelahan, dan sistem kekebalan tubuh pun dapat terganggu.

2. Pilih diet khusus untuk penderita autoimun

Berdasarkan panduan pola makan untuk penderita autoimun, The Autoimmune Protocol (AIP), berikut jenis makanan yang disarankan untuk dikonsumsi:
  • Minyak kelapa, minyak zaitun, dan minyak alpukat
  • Sayur-mayur, kecuali tomat, paprika, kentang, dan terong
  • Daging rendah lemak, hat
  • Makanan laut yang kaya asam omega-3 seperti udang, salmon, kakap, dan kerang-kerangan
  • Makanan fermentasi seperti acar, kimchi, kefir, dan kombucha
  • Bumbu dan rempah-rempah
  • Gelatin yang dibuat dari daging sapi organik
  • Madu dalam porsi kecil
  • Buah-buahan dalam porsi kecil, sebaiknya tidak melebihi dua potong dalam sekali makan

3. Konsumsi nutrisi tambahan dan vitamin untuk autoimun

Sebagai tambahan nutrisi, zinc dan vitamin D telah banyak diungkapkan dalam penelitian, bahwa kedua zat tersebut dapat membantu sistem imun untuk berfungsi lebih baik. Terapi vitamin D telah terbukti tidak hanya dapat mencegah perkembangan penyakit autoimun, namun juga dapat digunakan sebagai jenis pengobatan. Konsultasikan pada dokter terkait dosis yang tepat untuk memulai terapi vitamin untuk autoimun ini.

4. Jauhi pantangan autoimun saat puasa

  • Hindari menu makanan yang harus dihindari oleh penderita autoimun, termasuk ke dalamnya adalah:
    • Biji-bijian seperti oatmeal, beras coklat, beras hitam atau gandum utuh.
    • Sayuran dari jenis Solamaceae, seperti tomat, paprika, kentang dan terong.
    • Telur
    • Gula pasir atau pemanis Buatan
    • Minyak sayur dan minyak kanola
    • Produk olahan, kemasan, dan kalengan
    • Kopi
    • Alkohol
    • susu dan produk olahannya
  • Tidur yang cukup, Meski saat berpuasa kita harus terbangun sebelum subuh tiba untuk sahur, tidur yang cukup adalah kewajiban bagi penderita autoimun.
  • Tidak merokok dan menghindari asap rokok. Paparan asap rokok hanya dapat memperparah gejala autoimun sehingga dapat membuat puasa semakin berat untuk dijalani.

5. Konsultasikan dengan dokter apabila ada obat yang harus disesuaikan selama puasa

Jika Anda biasanya minum beberapa obat di siang hari, tanyakan kepada dokter apakah ada jenis obat dengan efek yang diperpanjang. Bila Anda mengonsumsi antibiotik atau anti-inflamasi, Anda dapat bertanya tentang dosis untuk diminum sekali sehari, jadi Anda bisa minum di saat sahur atau berbuka. Obat-obatan dalam bentuk inhaler, tetes mata atau telinga, krim, atau jenis lain yang diserap melalui kulit, juga jenis suntikan yang bukan berisi nutrisi dapat tetap digunakan di siang hari karena tidak akan membatalkan puasa.

6. Penuhi kebutuhan air

Jangan sampai tubuh Anda kekurangan cairan yang bisa menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi dapat mengganggu fungsi normal sel-sel tubuh yang sudah bekerja lebih keras pada tubuh seseorang yang memiliki autoimun. Oleh karena itu, penuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum cukup air ketika sahur. Rata-rata orang membutuhkan air sebanyak dua liter per harinya. Bagi secara seimbang pada saat Anda sahur, berbuka, dan sebelum pergi tidur.

7. Jangan memaksakan diri

Menjaga dan merawat kesehatan tubuh adalah suatu kewajiban, termasuk di bulan Ramadan. Maka apabila Anda merasa tidak kuat untuk berpuasa karena gejala autoimun sedang kambuh, Anda tidak harus melakukannya. Jangan malu jika Anda tidak bisa berpuasa. Masih banyak ibadah lain yang dapat dilakukan di bulan Ramadan yang karim ini.

8. Selalu konsultasikan dengan dokter

Selalu konsultasikanlah terlebih dahulu dengan dokter sebelum melaksanakan puasa.

Catatan dari SehatQ

Puasa Ramadan bagi penderita autoimun adalah relatif aman untuk dilakukan asal Anda senantiasa mengikuti cara-cara di atas. Namun, tidak semua kondisi bisa disamaratakan, apalagi penyakit autoimun ada bermacam-macam jenisnya. Sebelum melakukan puasa untuk autoimun, selalu konsultasikan dulu kondisi Anda dengan dokter. Jangan lupa untuk mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter dan dengarkan apa yang tubuh Anda butuhkan. Selamat berpuasa!
tips puasaautoimunpenyakit autoimunramadan
Electron J Gen Med 2. https://www.ejgm.co.uk/download/fasting-may-be-an-alternative-treatment-method-recommended-by-physicians-7541.pdf’
Diakses pada 20 April 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5712070/
Diakses pada 20 April 2021
JNFH. http://jnfh.mums.ac.ir/article_6142_b57c8c7f05fb6d8b1d5c107d382c01f7.pdf
Diakses pada 27 April 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19405258
Diakses pada 20 April 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/aip-diet#foods-to-avoid
Diakses pada 27 April 2020
Medicalnewstoday. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320195#foods-to-avoid
Diakses pada 27 April 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5862044/
Diakses pada 20 April 2021
Scielo. https://www.scielo.br/scielo.php?pid=S0482-50042010000100007&script=sci_arttext&tlng=en#
Diakses pada 20 April 2021
Science Direct. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0955286319308332
Diakses pada 20 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait