Alkohol Bisa Jadi Penyebab Perut Buncit, Ini Penjelasannya

Bir memiliki kalori tinggi dan mengganggu proses pembakaran lemak sehingga bisa jadi penyebab perut buncit
Mulai kurangi konsumsi bir yang bisa jadi penyebab perut buncit agar tubuh kembali sehat.

Istilah “beer belly” atau perut buncit pada orang yang sering mengonsumsi alkohol, sudah sering didengar. Mungkin Anda juga bertanya-tanya, “Bagaimana sebenarnya alkohol bisa menjadi penyebab perut buncit?”

Perut yang buncit akibat alkohol memang perlu lebih mendapatkan perhatian. Pasalnya, bukan hanya soal penampilan, tumpukan lemak di perut juga bisa meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit seperti diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung.

Maka dari itu, Anda sebaiknya mulai membatasi konsumsi alkohol, untuk menghidari berbagai risiko tersebut. Konsumsi alkohol berlebih, juga bisa mengarah pada kondisi kecanduan, yang disebut substance abuse disorder.

[[artikel-terkait]]

Penyebab perut buncit pada para penikmat alkohol

Munculnya perut buncit memang tidak terjadi pada semua orang yang mengonsumsi alkohol. Hanya yang mengonsumsinya secara berlebihan, yang akhirnya merasakan dampak tersebut.

Ada beberapa alasan yang membuat bir menjadi penyebab perut buncit bagi para penikmatnya, yaitu:

1. Bir mengandung kalori yang tinggi

Dalam satu kaleng bir, terkandung 150 kalori. Bayangkan, jika Anda meminum beberapa kaleng bir dalam satu waktu. Belum lagi, bir biasanya disajikan bersamaan dengan berbegai makanan yang juga berkalori tinggi.

2. Bir bisa mengganggu proses pembakaran lemak

Minum alkohol bisa membuat proses pembakaran lemak di tubuh terganggu. Sebab, saat ada alkohol yang masuk, tubuh akan memecah alkohol terlebih dulu, sebelum membakar lemak sebagai sumber energi.

3. Bir dapat menyebabkan perubahan hormon

Tanaman yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan bir, mengandung fitoestrogen. Komponen fitoestrogen ini dapat meniru cara kerja hormon estrogen, yang merupakan hormon dominan pada wanita.

Kandungan fitoestrogen inilah yang kemudian membuat perubahan hormon di tubuh, sehingga meningkatkan risiko menumpuknya lemak di perut. Namun, masih diperlukan penelitian lebih jauh mengenai dampak komponen ini, sebagai penyebab perut buncit.

Selain perut buncit, konsumsi alkohol berlebihan juga bisa menyebabkan kecanduan

Saat Anda terus-menerus mengonsumsi alkohol, tidak hanya perubahan fisik seperti perut buncit yang perlu Anda khawatirkan. Kondisi kecanduan atau yang dalam istilah medis disebut dengan substance abuse disorder, juga mengintai dari jauh.

Istilah substance abuse disorder, sebenarnya sering digunakan untuk menjelaskan ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang. Namun pada dasarnya, istilah ini juga bisa digunakan untuk ketergantungan terhadap alkohol, dan bahkan nikotin pada rokok.

Perlu diingat, tidak semua orang yang sering mengonsumsi bir atau minuman beralkohol lainnya, pasti mengalami kecanduan. Orang yang kecanduan alkohol, akan menunjukkan gejala dan tanda khas, seperti:

  • Jumlah alkohol yang dikonsumsi per hari terus meningkat.
  • Tidak gampang mabuk.
  • Mulai minum alkohol setiap saat di berbagai tempat.
  • Sulit lepas dari alkohol dan menjadi ketergantungan.
  • Tidak mau berada di tempat yang tidak menyediakan alkohol.
  • Merasa bersalah saat minum alkohol, sehingga harus sembunyi-sembunyi ketika meminumnya.
  • Mulai memutus kontak dengan orang-orang terdekat.

Jika sering mengonsumsi alkohol dan memiliki perut buncit akibat kebiasaan ini, tapi tidak mengalami gejala-gejala di atas, maka kemungkinan Anda belum mengalami kecanduan.

Namun perlu diingat, perilaku kecanduan, terkadang juga sulit dikenali oleh penderitanya. Tetaplah berusaha untuk mengurangi jumlah konsumsinya. Demi kesehatan, juga demi penampilan.

WebMD. https://www.webmd.com/diet/features/the-truth-about-beer-and-your-belly#1
Diakses pada 3 Juli 2019

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/beer-belly
Diakses pada 3 Juli 2019

Mayo Clinic. https://www.healthline.com/nutrition/beer-belly
Diakses pada 3 Juli 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/addiction/alcohol
Diakses pada 3 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed