Alat Kontrasepsi Intravaginal Bisa Picu Toxic Shock Syndrome, Apa Alasannya?

Alat kontrasepsi intravaginal dikatakan bisa meningkatkan risiko toxic shock syndrome
Toxic shock syndrome kerap sulit disadari karena gejalanya yang mirip dengan penyakit lain

Toxic shock syndrome mungkin kejadian yang asing di telinga orang Indonesia. Pasalnya, kasus penyakit ini pun tergolong jarang terjadi pada tingkat dunia.

Walau angka kejadiannya kecil, toxic shock syndrome adalah kondisi medis yang sangat serius dan bisa mengancam nyawa. Pada perempuan, kejadiannya sering dikaitkan dengan penggunaan tampon serta alat kontrasepsi intravaginal.

Jenis alat kontrasepsi yang bisa meningkatkan risiko toxic shock syndrome

Alat kontrasepsi yang dianggap berisiko menyebabkan toxic shock syndrome (TSS) adalah alat KB jenis intravaginal. Alat pencegah kehamilan ini digunakan dengan memasangnya di dalam vagina. Dua jenisnya disebut-sebut berkaitan dengan TSS meliputi spons kontrasepsi dan diafragma. 

  • Spons kontrasepsi

Seperti namanya, spons kontrasepsi merupakan alat pencegah kehamilan berupa busa kecil dan bulat. Alat KB ini terbuat dari sejenis plastik lembut dan empuk.

Spons tersebut mengandung spermisida dan digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan badan. Fungsinya adalah menutupi leher rahim agar tak ada sperma yang bisa lewat sekaligus membunuh sperma yang mendekat.

Spons kontrasepsi memiliki tali yang membuat alat kontrasepsi ini lebih mudah dikeluarkan dari vagina. Spons tidak boleh digunakan saat menstruasi atau jika ada perdarahan apapun dari vagina. 

  • Diafragma

Diafragma adalah alat kontrasepsi berbentuk seperti mangkuk kecil. Alat KB ini terbuat dari silikon yang tipis dan fleksibel. Sama seperti spons kontrasepsi, diafragma mesti dimasukkan ke dalam vagina untuk mencegah kehamilan. 

Setelah dimasukkan ke vagina, diafragma akan menutupi leher rahim untuk menghalangi sperma yang akan masuk. Seringkali, spermisida ditambahkan pada seluruh permukaan diafragma untuk menambah kemampuannya dalam mencegah terjadinya kehamilan. 

Diafragma boleh dipasang dua jam sebelum hubungan badan dan tidak boleh dikeluarkan sampai enam jam setelah hubungan intim. Langkah ini dilakukan supaya fungsi kontrasepsi lebih efektif. Meski begitu, diafragma tidak boleh berada dalam vagina selama lebih dari 24 jam. 

Penggunaan dua alat kontrasepsi di atas umumnya aman dan efektif. Tapi ada juga risiko yang berupa:

  • Iritasi saat memasukkan alat kontrasepsi ke dalam vagina.
  • Reaksi alergi terhadap bahan alat kontrasepsi atau spermisida.
  • Bau tak sedap atau keputihan saat alat kontrasepsi terlalu lama di dalam vagina.
  • Infeksi saluran kemih.
  • Toxic shock syndrome

Bagaimana alat kontrasepsi intravaginal menimbulkan toxic shock syndrome?

Bakteri Staphylococcus aureus memang normal berada di dalam vagina. Normalnya, bakteri ini tidak berbahaya.

Meski demikian, ada dua kondisi yang bisa menyebabkan bakteri Staph menimbulkan toxic shock syndrome. Pertama, adanya lingkungan yang mendukung perkembangan bakteri secara cepat. Kedua, racun yang dihasilkan bakteri harus bisa masuk dalam aliran darah. 

Pada pemakaian alat kontrasepsi intravaginal, kondisinya mirip dengan penggunaan tampon, dimana bahan alat kontrasepsi dan kelembapan di dalam vagina menjadi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan bakteri.

Kondisi tersebut bisa jadi disebabkan oleh diafragma yang lupa dikeluarkan setelah enam jam berada dalam vagina. Atau, ada bagian dari spons kontrasepsi yang robek dan tersisa di dalam vagina. 

Memasukkan alat kontrasepsi ke dalam vagina juga berisiko menyebabkan iritasi mikrospkopik pada dinding vagina. Lewat luka iritasi inilah bakteri bisa masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan toxic shock syndrome.

Toxic shock syndrome tergolong kondisi darurat medis, sehingga perlu ditangani secepatnya. Bila tidak, nyawa penderita bisa terancam.

Toxic shock syndrome mengancam nyawa penderitanya

Seseorang terkena toxic shock syndrome saat bakteri masuk ke aliran darah. Bakteri kemudian mengeluarkan racun yang terbawa aliran darah ke organ-organ tubuh.

Infeksi awal TSS biasanya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus yang masuk ke aliran darah lewat luka di kulit. Lukanya tidak harus besar, iritasi kecil sekalipun kadangkala sudah cukup menjadi pintu masuk bakteri Staph ini. 

Pada sebagian besar kasus, gejala TSS muncul secara tiba-tiba dan mirip dengan gejala flu. Sebagai akibatnya, penderita tidak menyadari kalau dirinya mengalami kondisi yang mengancam nyawa.

Secara umum, keluhan TSS yang dirasakan dapat berupa demam mendadak, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan muntah. Bisa juga terjadi diare, ruam kemerahan di kulit, mata merah, serta mulut dan tenggorokan memerah.

Mereka yang merasa mengalami gejala TSS dan punya faktor risiko (misalnya, pemakaian tampon atau alat KB intravaginal) sebaiknya segera ke rumah sakit atau fasiltas kesehatan terdekat. 

Jika tidak segera diatasi, toxic shock syndrome bisa menimbulkan komplikasi serius akibat berkurangnya aliran darah ke organ tubuh dan anggota badan. Kondisi ini dapat memicu gagal ginjal, gagal jantung, gagal liver, dan sebagainya.

Meski ada risiko toxic shock syndrome, kejadian ini sejatinya amat jarang terjadi pada pengguna alat kontrasepsi intravaginal. Jadi, alat kontrasepsi ini umumnya tergolong aman dan efektif digunakan, asalkan Anda mengikuti petunjuk penggunaan dengan cermat.

Bila Anda ragu atau bingung, konsultasikan ke dokter kandungan untuk mendapatkan informasi yang lebih rinci. Dokter juga bisa membantu Anda untuk memilih alat KB yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Healthline. https://www.healthline.com/health/toxic-shock-syndrome
Diakses pada 25 Juni 2019

United Health Care. https://kidshealth.org/UHCCommunityPlan/en/teens/contraception-diaphragm.html
Diakses pada 25 Juni 2019

Planned Parenthood. https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/birth-control-sponge
Diakses pada 25 Juni 2019

WebMD. https://www.webmd.com/women/guide/toxic-shock-syndrome-treatment-prevention#2
Diakses pada 25 Juni 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed