5 Alasan Mengapa Harus Hati-Hati Sebelum Konsumsi Ikan Patin Siam

(0)
07 Oct 2020|Azelia Trifiana
Perlu kehati-hatian saat mengonsumsi patin SiamPatin Siam memiliki daging yang lembut dan harga terjangkau
Ikan patin siam atau swai fish banyak menjadi pilihan karena tekstur dagingnya lembut serta harganya terjangkau. Selain ikan patin lokal, umumnya ikan patin siam diimpor dari Vietnam. Ini yang membuatnya cenderung tidak sehat karena penggunaan antibiotik dalam proses budidayanya.Terlebih, ketika mengonsumsi ikan patin siam impor, tidak diketahui apakah perairan tempat budidayanya layak atau tidak. Jika ada kemungkinan budidaya dengan terlalu banyak ikan, risiko penyakit meningkat.

Kandungan nutrisi patin siam

Sebelum membedah lebih jauh tentang keamanan konsumsi ikan patin siam, berikut ini kandungan nutrisi dalam 113 gram ikan patin siam mentah:
  • Kalori: 70
  • Protein: 15 gram
  • Lemak: 1,5 gram
  • Lemak omega-3: 11 mg
  • Kolesterol: 45 gram
  • Karbohidrat: 0 gram
  • Sodium: 350 mg
  • Niacin: 14% AKG
  • Vitamin B12: 19% AKG
  • Selenium: 26% AKG
Dari kandungan nutrisi di atas, level sodium bisa bervariasi bergantung pada proses penggunaannya. Umumnya, diberikan tambahan sodium tripolyphosphate sebagai zat pengawet untuk menjaga kelembapan ikan patin agar tidak mudah rusak.Nutrisi berupa selenium dan niacin serta vitamin B12 di dalam ikan patin siam juga bisa bervariasi. Faktor utama penentunya adalah pakan yang diberikan untuk patin siam.

Amankah mengonsumsi ikan patin siam?

Ada beberapa hal yang membuat konsumsi ikan patin siam bisa jadi tidak aman, di antaranya:

1. Dampak bagi ekosistem

Hal utama yang membuat konsumsi ikan patin bisa jadi tidak aman adalah dampaknya bagi ekosistem. Program The Monterey Bay Aquarium’s Seafood Watch yang memberikan peringkat budidaya ikan dan korelasinya terhadap keberlangsungan lingkungan memasukkan patin siam dalam daftar ikan yang sebaiknya dihindari.Alasannya, beberapa peternakan ikan patin siam menghasilkan zat sisa yang secara ilegal dibuang ke sungai-sungai. Proses pembuangan yang tidak tepat ini berbahaya karena menggunakan banyak sekali zat kimia seperti disinfektan, antibiotik, dan obat antiparasit.

2. Risiko kontaminasi merkuri

Konsiderasi lain sebelum mengonsumsi ikan patin siam adalah kontaminasi merkuri. Beberapa penelitian menemukan bahwa patin siam mengandung merkuri yang melewati batas rekomendasi WHO dari 50% sampel yang diuji.Ada tidaknya logam berat berupa merkuri dalam ikan patin siam bergantung pada lingkungan budidayanya. Jika tidak tahu betul dari mana asal mula ikan patin siam, pastikan mengonsumsinya dalam kondisi benar-benar matang. Mengonsumsi ikan yang mengandung merkuri akan membahayakan kesehatan.

3. Peternakan ikan tak layak

Waspadai juga apabila ikan patin siam tumbuh di peternakan dengan populasi terlalu padat, bahkan bercampur dengan ikan lainnya. Jika ini yang terjadi, risiko penularan penyakit semakin tinggi.Dalam sebuah penelitian, 70-80% sampel ikan patin siam yang diekspor ke Polandia, Jerman, dan Ukraina terkontaminasi bakteri Vibrio. Ini adalah jenis mikroba yang kerap menyebabkan keracunan dari hewan laut bercangkang.

4. Pemberian antibiotik

Masih berkaitan dengan kekhawatiran ketiga tentang kondisi peternakan yang tak layak, ada kemungkinan ikan siam diberi antibiotik bahkan obat-obatan lain. Memang benar ini dapat mencegah penularan penyakit di perairan yang padat, namun bisa saja residu antibiotik tertinggal di ikan.Selain itu, obat-obatan selain antibiotik yang digunakan juga bisa mencemari perairan di sekitarnya. Kekhawatiran ini diperkuat penelitian bahwa ikan patin siam dan hewan laut dari Asia lainnya merupakan kelompok makanan yang paling sering melewati batas aman residu obat-obatan.Dibandingkan dengan negara-negara lain yang mengekspor ikan, Vietnam mencatatkan pelanggaran tertinggi terkait angka residu obat-obatan pada ikan.Bahkan, AS pernah mengembalikan impor lebih dari 30.000 kg ikan patin siam beku dari Vietnam karena tidak memenuhi syarat aman batas residu obat-obatan.

5. Kesalahan memberi label ikan patin

Ada banyak jenis ikan patin dengan penamaan yang berbeda-beda. Menurut penelitian organisasi advokasi dan konservasi samudera internasional Oceana, ikan patin siam adalah satu dari tiga jenis ikan yang menjadi substitusi ikan yang dijual lebih mahal. Baik disengaja maupun tidak, ini bisa terjadi.Ini bisa terjadi di supermarket, restoran, atau tempat distribusi makanan laut lainnya. Belum lagi jika ikan diperoleh lewat impor, semakin sulit merunut asal mulanya.Berdasarkan temuan di Amerika Serikat, 37 restoran yang menyajikan menu dengan olahan ikan, sebanyak 67% di antaranya mengandung ikan patin siam.

Catatan dari SehatQ

Langkah aman untuk mengonsumsi ikan patin siam adalah dengan mengetahui pasti proses budidayanya. Bila perlu, konsumsi ikan patin siam yang sudah mendapatkan sertifikasi di kemasannya.Untuk berdiskusi lebih lanjut tentang alternatif konsumsi ikan patin siam dan mengulik bahaya merkuri bagi kesehatan, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
makanan sehathidup sehatpola hidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/swai-fish#origin
Diakses pada 22 September 2020
Seafood Watch. https://www.seafoodwatch.org/-/m/sfw/pdf/reports/c/mba_seafoodwatch_catfish_vietnam_report.pdf
Diakses pada 22 September 2020
NIH. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25907121/
Diakses pada 22 September 2020
USDA. https://www.fsis.usda.gov/wps/portal/fsis/topics/recalls-and-public-health-alerts/recall-case-archive/archive/2017/recall-079-2017-release
Diakses pada 22 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait