Sunat perempuan dapat menimbulkan berbagai dampak merugikan bagi kesehatan
Sunat perempuan tidak memiliki manfaat untuk kesehatan

Sunat perempuan masih menjadi perdebatan. Prosedur ini banyak mengundang polemik karena membenturkan sudut pandang yang berbeda, yaitu agama dan budaya, dengan medis.

Saat ini, menurut United Nations Population Fund (UNFPA), lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang salah satu tugasnya menyelesaikan permasalahan sunat perempuan di dunia, terdapat sekitar 200 juta perempuan yang telah disunat.

Sebagian besar perempuan tersebut berada di Benua Afrika dan area Timur Tengah. Namun, di beberapa negara Asia, Eropa Timur, dan Amerika Selatan, praktik yang bisa disebut sebagai female genital mutilation (FGM) ini juga masih dilakukan.

Mengapa sunat perempuan masih ditemukan?

Ada tiga faktor utama yang menjadi alasan masih dilakukannya sunat perempuan, yaitu faktor sosial, faktor budaya, dan faktor agama. Sementara itu faktor medis, tidak masuk ke dalamnya. Sebab, prosedur ini terbukti tidak memberikan manfaat apapun untuk wanita.

1. Faktor sosial

Faktor sosial mengacu pada orangtua yang menyunatkan anak perempuannya, karena orang lain juga melakukan hal serupa. Bahkan, di beberapa komunitas, perempuan yang belum disunat, tidak diperkenankan untuk mengambil air dan makanan dengan alasan mereka belum dianggap “bersih”.

2. Faktor budaya

Di beberapa negara, sunat perempuan dilakukan sebagai bagian dari adat istiadat. Perempuan yang disunat dianggap bisa menjadi istri yang lebih baik dan lebih setia, karena alat kelaminnya telah “dirusak”.

Di belahan dunia lain, sunat perempuan dilakukan dengan alasan agar alat kelaminnya terlihat lebih bersih, bagus, dan tidak terlihat seperti laki-laki.

3. Faktor agama

Ada beberapa agama yang masih menganjurkan pengikutnya untuk melakukan sunat perempuan. Meski begitu, saat ini pendapat para pemuka agama mengenai praktik ini pun ada beragam.

Tipe prosedur sunat perempuan

Tidak semua prosedur sunat perempuan dilakukan dengan cara yang sama. Badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) mengelompokkan prosedur tersebut menjadi empat tipe, yaitu:

• Tipe 1

Sunat perempuan tipe 1, dikenal juga dengan istilah clitoridectomy. Pada tipe ini, seluruh bagian klitoris benar-benar diangkat. Namun, ada juga yang hanya menghilangkan lipatan kulit di sekitar klitoris.

• Tipe 2

Sering juga disebut sebagai eksisi, pada tipe ini, pengangkatan dilakukan pada sebagian atau seluruh klitoris dan labia minora (lipatan vagina bagian dalam). Pengangkatan ini dilakukan dengan atau tanpa pemotongan labia mayora (lipatan luar vagina).

• Tipe 3

Tipe 3 disebut juga dengan nama infibulasi. Sunat jenis ini membuat pembukaan vagina menjadi lebih sempit, dengan menempatkan semacam lapisan penutup.

Penutup dibuat dari pemotongan dan reposisi labia minora atau labia mayora, dan yang kemudian dijahit. Prosedur ini bisa disertai dengan maupun tanpa pengangkatan klitoris.

• Tipe 4

Prosedur yang berbahaya bagi alat kelamin dan bukan merupakan indikasi medis seperti menusuk area tersebut dengan jarum, mengiris, atau menggoresnya, masuk ke dalam genital.

Prosedur sunat perempuan tipe 3, dinilai lebih berisiko menimbulkan masalah kesehatan dibandingkan dengan tipe 1 dan tipe 2. Namun secara umum, semua tipe sunat perempuan berisiko untuk kesehatan.

Dampak jangka pendek akibat sunat perempuan

Dampak sunat perempuan bisa terjadi secara langsung setelah prosedur, maupun dalam jangka panjang. Permasalahan yang bisa muncul segera setelah prosedur dilakukan di antaranya:

  • Nyeri hebat, karena banyak perempuan yang tidak mendapatkan obat antinyeri sebelum maupun sesudah prosedur dilakukan.
  • Perdarahan berlebih.
  • Infeksi pada luka, dan bisa berkembang parah hingga menimbulkan demam, syok, dan bahkan meninggal dunia, apabila tidak segera ditangani.
  • Trauma, karena prosedur ini seringkali dilakukan secara paksa.
  • Nyeri saat buang air kecil dan besar.
  • Berisiko terhadap infeksi tetanus, dan penyakit infeksi lainnya seperti HIV akibat penggunaan alat yang tidak steril.

Berbagai risiko jangka panjang akibat sunat perempuan

Sementara itu untuk jangka panjang, sunat pada perempuan dinilai berisiko menimbulkan berbagai kondisi di bawah ini.

• Infeksi

Infeksi seperti abses genital (munculnya benjolan berisi nanah di area genital) dan hepatitis B adalah risiko yang bisa timbul akibat sunat perempuan. Infeksi di area vagina semakin rentan terjadi, karena sunat perempuan akan membuat jaringan di vagina lebih mudah sobek saat berhubungan seksual. Hal ini juga aka meningkatkan risiko terjadinya infeksi lain seperti HIV dan penyakit menular seksual.

• Gangguan saat berhubungan seksual

Jaringan parut yang terbentuk setelah dilakukannya sunat perempuan tipe 2 dan 3, dapat menimbulkan nyeri, terutama saat melakukan hubungan intim. Kondisi ini bisa menurunkan gairah wanita atau libido dalam berhubungan seksual, mengakibatkan vagina menjadi kering, dan membuat kepuasan seksual wanita menurun.

Perlukaan di vagina juga akan membuat jaringannya menjadi kurang elastis sehingga akan sulit untuk meregang saat berhubungan seksual atau melahirkan.

• Depresi dan gangguan kecemasan

Sunat perempuan bisa berdampak pada kesehatan mental karena bagi beberapa wanita, prosedur ini berpotensi menimbulkan trauma. Trauma berkaitan dengan depresi dan gangguan kecemasan, serta dapat membuat wanita kembali mengingat saat sunat dilakukan, dan mengalami mimpi buruk.

• Haid tidak kunjung selesai dan nyeri hebat saat haid

Perempuan yang disunat dengan prosedur seperti tipe 3, dapat mengalami nyeri haid parah. Sebab, menyempitnya bukaan vagina, menyebabkan darah menstruasi jadi lebih sulit keluar, dan membuat haid berlangsung lebih lama.

• Gangguan kandung kemih

Sunat perempuan tipe 3 juga bisa mengambat aliran urine, sehingga perempuan yang mengalaminya berisiko lebih tinggi terkena infeksi saluran kemih. Karena alirannya terhambat, urine bisa menumpuk dan terkristalisasi atau mengeras, sehingga batu kandung kemih terbentuk.

Di Indonesia, praktik sunat perempuan masih berlangsung

Indonesia, bersama dengan Mesir dan Etiopia menyumbang hampir setengah dari jumlah perempuan yang disunat di seluruh dunia. Jumlah gabungan praktik sunat perempuan yang dilakukan di ketiga negara ini mencapai angka sekitar 70 juta jiwa.

Hampir setengah anak perempuan di seluruh Indonesia yang berusia 11 tahun ke bawah, sudah disunat. Tipe sunat perempuan yang paling banyak dilakukan di Indonesia adalah tipe 1 dan 4.

Praktik sunat perempuan di Indonesia, memang masih menjadi dilema. Dari sisi agama, praktik ini dinilai perlu dilakukan. Sehingga, meski pada tahun 2006 Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan larangan terhadap praktik tersebut karena alasan medis, sejumlah organisasi keagamaan kembali merekomendasikan perempuan untuk disunat.

Sebagai respons, pada tahun 2010, Kementerian Kesehatan RI kembali mengeluarkan peraturan seputar sunat perempuan, yang menjelaskan bahwa prosedur sunat yang boleh dilakukan hanya boleh sebatas menggores klitoris, tanpa menimbulkan cedera apapun dengan tujuan membersihkan kotoran pada vulva.

Lalu pada tahun 2014, peraturan tahun 2010 tersebut kembali ditarik. Sehingga, bisa dikatakan, status peraturan mengenai prosedur sunat perempuan di Indonesia saat ini masih menggantung. Sebab, tidak ada peraturan yang secara jelas melarang, meski juga tidak direkomendasikan.

Karena di negara ini sunat perempuan belum benar-benar dilarang, maka saat ini keputusan untuk melakukan praktik tersebut, menjadi pilihan orangtua masing-masing. Namun ada baiknya, selalu berkonsultasi dengan dokter, sebelum melakukan maupun menjalani tindakan yang berisiko membahayakan kesehatan tubuh.

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/female-genital-mutilation
Diakses pada 5 November 2019

Womens Health. https://www.womenshealth.gov/a-z-topics/female-genital-cutting
Diakses pada 5 November 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/female-genital-mutilation-fgm/
Diakses pada 5 November 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/241726.php
Diakses pada 5 November 2019

UNFPA Asia Pasific. https://asiapacific.unfpa.org/en/news/tackling-fgm-indonesia-0
Diakses pada 5 November 2019

UNFPA. https://www.unfpa.org/resources/female-genital-mutilation-fgm-frequently-asked-questions
Diakses pada 5 November 2019

UNICEF. https://data.unicef.org/wp-content/uploads/country_profiles/Indonesia/FGMC_IDN.pdf
Diakses pada 5 November 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed