Alasan Film Joker Sebaiknya Tidak Ditonton Anak-Anak

Adegan kekerasan di Film Joker bisa berdampak negatif untuk anak (sumber foto: warnerbros.com)
Film Joker tidak diperuntukkan untuk anak-anak (sumber foto: warnerbros.com)

Film Joker yang sedang tayang menuai banyak pujian, dari segi cerita maupun akting para pemerannya. Namun, di balik ramainya penonton film ini, ada satu pemandangan yang cukup mengkhawatirkan, yaitu banyaknya anak-anak yang ikut menonton.

Padahal, sudah cukup jelas dituliskan di poster bahwa Joker adalah film dengan rating R (restricted). Artinya, film ini adalah film dewasa yang berisi konten kekerasan. Film dengan rating R, hanya boleh ditonton mereka yang berusia 17 tahun ke atas.

Banyak orangtua salah sangka, dan mengira film joker ini adalah sebuah film superhero. Padahal, cerita film ini lebih menitikberatkan pada penyakit mental dan latar belakang seorang tokoh antagonis, serta kekerasan yang mengelilinginya.

Dampak konten kekerasan di film Joker pada anak

Adegan kekerasan bisa picu anak berperilaku agresif

Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan antara konten kekerasan pada perilaku anak. Hasilnya, paparan konten kekerasan yang diterima anak, dapat memicu berbagai kondisi fisik maupun mental pada anak, seperti:

  • Perilaku agresif
  • Perilaku kasar
  • Bullying
  • Ketidakpekaan terhadap kekerasan
  • Ketakutan
  • Depresi
  • Mimpi buruk
  • Gangguan tidur

Film Joker adalah film dewasa, yang berisi banyak adegan kekerasan. Karakter Arthur, yang merupakan cikal bakal sang penjahat, adalah sosok yang disebut memiliki beberapa kondisi mental, yang kerap menerima kekerasan secara fisik maupun mental oleh orang-orang di sekitarnya.

Latar belakang cerita film ini begitu gelap dan sesak untuk ditonton seorang anak. Itulah alasannya, film Joker diberi rating R. Film ini memang terlalu berisiko untuk dicerna seorang anak.

Di usia anak-anak, otak bisa diibaratkan seperti spons, yang mampu menyerap berbagai informasi, tanpa kemampuan memilah yang memadai. Anak akan terpengaruh oleh tontonannya, karena anak belajar dengan cara observasi, imitasi, dan adopsi perilaku.

Anak yang berusia kurang dari delapan tahun, belum bisa membedakan, kenyataan dari dunia khayalan. Sehingga di usia-usia ini, anak sangat “rapuh” dan berisiko terkena dampak dari kekerasan yang ditontonnya.

Hal ini senada dengan salah satu hasil penelitian yang dilakukan untuk melihat dampak penggunaan pistol di film dengan ketertarikan anak dengan senjata ini.

Hasilnya, anak yang menonton film yang memiliki adegan menembakkan pistol, lebih tertarik memainkan senjata ini, dibandingkan dengan yang tidak menontonnya. Anak yang menontonnya, juga jauh lebih banyak yang menarik pelatuk saat memainkannya. Sementara itu, tidak satu pun anak yang tidak menonton film itu, yang menarik pelatuknya.

Dampak menonton film Joker pun tidak hanya terasa pada anak-anak. Orang-orang dewasa, terutama yang memiliki riwayat penyakit mental, merasa film ini bisa menjadi trigger atau pemicu munculnya kembali kondisi mental mereka, seperti gangguan kecemasan dan depresi.

Lalu, apakah setiap anak yang menonton film Joker pasti akan menerima dampak yang serupa? Belum tentu. Namun sebaiknya, risiko tersebut tetap dihindari, bukan?

Kata psikolog soal film Joker dan dampaknya pada anak

Menonton film dengan adegan kekerasan juga bisa picu mimpi buruk

Senada dengan hasil penelitian di atas, psikolog klinis dewasa, Nania Permatasari Bukit pun mengungkapkan bahwa pola pikir anak yang berusia di bawah 13 tahun, masih bersifat konkret. Artinya, ia akan mudah meniru dan mempraktikkan langsung sesuatu yang dilihatnya.

"Anak-anak memang mudah sekali terpancing untuk meniru sesuatu di luar dirinya, terlebih yang baru atau belum pernah dilakukan," ujar Nania kepada SehatQ.

Dengan banyaknya adegan kekerasan dalam tayangan fim, anak akan mendapat alternatif bentuk-bentuk tindakan kekerasan yang dapat ditirunya. Jadi, dampak langsungnya adalah pada perilaku anak.

Tidak hanya pada perilaku, melihat adegan kekerasan pun bisa menyebabkan trauma pada anak. Nania memaparkan, anak belum cukup siap untuk melihat adegan-adegan penuh kekerasan dan mengerikan.

Dengan cara berpikir yang masih konkret tadi, otak akan merekam adegan-adegan kekerasan tersebut. Dampaknya bisa berupa mimpi buruk, kecemasan, rasa takut berlebihan dan bukan tidak mungkin meniru perilaku dari tokoh yang ditontonnya.

"Anak bisa sangat mungkin meniru perilaku Joker yang ditontonnya ataupun perilaku tokoh-tokoh di dalam film Joker karena hanya sebatas memahami secara visual," kata Nania.

Nania juga menekankan pentingnya orangtua untuk mematuhi rating film, termasuk film Joker. Kembali pada dampak yang bisa timbul saat anak menyaksikan adegan kekerasan di layar kaca, mematuhi panduan usia untuk menonton film, merupakan langkah untuk mencegah dampak negatif yang mungkin timbul.

Terlepas dari film Joker atau bukan, menonton film bersama anak juga bisa dijadikan ajang pembelajaran baru bagi anak, dan orangtua sendiri.

Orangtua perlu mengajak anak berdiskusi tentang film yang akan dan baru saja ditonton. Hal itu sangat penting untuk mengetahui apa yang ditangkap anak sekaligus menjadi pintu masuk untuk memasukkan lesson learn dari film yang baru ditonton.

"Tentu saja, sekali lagi, dari film yang sesuai dengan anjuran batasan umurnya," tambah Nania. 

Kurangi paparan konten kekerasan pada anak dengan cara ini

Batasi penggunaan gadget pada anak untuk kurangi dampak negatifnya

Untuk membatasi anak dari paparan konten-konten yang tidak sesuai dengan usianya, berikut ini langkah yang bisa Anda lakukan.

  • Jangan berikan akses Internet, televisi, maupun video game di kamar anak. Berikan akses tersebut di ruang keluarga, maupun tempat lain yang lebih mudah diawasi.
  • Dampingi anak saat ia ingin menonton film atau acara televisi tertentu.
  • Batasi waktu menonton, hanya 1-2 jam per hari.
  • Jauhkan anak yang berusia di bawah 2 tahun, dari paparan tontonan, baik film maupun acara televisi.
  • Jelaskan kepada anak secara jujur bahwa menonton film kekerasan tidak sehat untuk anak Anda.

Perlu diingat, untuk anak berusia di bawah dua tahun, bahkan konten yang disebut konten edukasi pun belum tepat untuk diberikan. Stimulasi terbaik yang bisa didapatkan anak adalah dengan berinteraksi secara langsung dengan orang-orang di sekitarnya.

Catatan dari SehatQ

Meski tidak semua anak yang terpapar konten kekerasan akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar, orangtua tetap perlu mengawasi dan membatasi hal tersebut. Jika Anda ingin menonton film yang diperuntukkan untuk orang dewasa, lebih baik titipkan anak pada orang kepercayaan, atau menonton bergantian dengan pasangan.

Cobalah untuk mulai melakukan langkah-langkah membatasi paparan film maupun video yang tidak sesuai dengan usia anak. Dampaknya mungkin tidak akan langsung terlihat saat ini. Namun, langkah ini merupakan pencegahan jangka panjang yang penting untuk masa depan Si Kecil.

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-baby-scientist/201801/violent-m%C3%A9dia-and-aggressive-behavior-in-children
Diakses pada 7 Oktober 2019

American Academy of Pediatrics. https://pediatrics.aappublications.org/content/124/5/1495
Diakses pada 7 Oktober 2019

National Centre for Health Reseach. http://www.center4research.org/media-kids-violence/
Diakses pada 7 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed