Tak Hanya Sembelit, Ini yang Terjadi pada Tubuh Akibat Kurang Serat

Akibat kurang serat dapat beragam, mulai dari sembelit, mual, hingga naiknya berat badan
Konstipasi, yang ditandai dengan feses keras, dapat terjadi karena tubuh kekurangan serat

“Harus banyak makan serat, ya”. Nasihat tersebut mungkin sering Anda dengar, entah dari dokter atau orang terdekat. Serat pangan, sebagai jenis karbohidrat kompleks, memang menjadi nutrisi penting untuk tubuh. Akibat kurang serat dari makanan yang dikonsumsi pun dapat beragam, yang beberapa di antaranya dapat berbahaya bagi tubuh.

Akibat kurang serat yang harus diwaspadai

Berikut ini akibat kurang serat, sehingga tak ada alasan bagi Anda untuk mengabaikan nutrisi ini:

1. Sembelit

Serat yang larut dalam air membantu feses lebih lunak, sehingga lebih mudah melewati usus. Sementara itu, serat yang tak larut dalam air akan menambah bobot kotoran sehingga mempercepat proses keluarnya dari tubuh.

Manfaat kedua jenis serat tersebut membantu mencegah terjadinya sembelit, atau kondisi yang menyebabkan sulitnya kotoran dikeluarkan seseorang. Sembelit pun dapat ditandai dengan feses yang keras dan kering.

2. Naiknya berat badan

Makanan berserat, terutama serat yang larut dalam air, dapat memberikan sensasi kenyang pada perut. Apabila jarang mengonsumsi makanan berserat, Anda akan lebih berisiko untuk makan lebih banyak. Hal ini tentu akan memicu naiknya berat badan.

Serat akan difermentasikan oleh bakteri baik di usus. Proses fermentasi tersebut akan menghasilkan asam lemak tertentu, yang dapat mengurangi lemak di perut.

Bakteri baik di usus juga dapat melawan peradangan. Peradangan di tubuh, salah satunya, dapat menimbulkan kenaikan bobot dan obesitas.

3. Naik turunnya gula darah

Serat yang masuk ke tubuh tidak akan dicerna oleh saluran pencernaan. Karena tidak dicerna, makanan yang mengandung tinggi serat lebih berkemungkinan kecil memicu lonjakan kadar gula darah. Konsumsi serat yang cukup sangat disarankan agar gula darah Anda tetap terkendali, terutama pada penderita diabetes.

Studi terbaru di tahun 2019 juga menemukan, serat dapat membantu menurunkan gula darah pada penderita diabetes tipe 2. Sebagai tambahan, studi yang sama pun menemukan bahwa konsumsi serat yang cukup dapat menurunkan kolesterol, gula darah, dan tekanan darah pada partisipan penelitian.

4. Rasa lelah dan mual karena makanan

Apabila sebagian besar makanan Anda hanya berasal dari produk hewani, seperti daging, telur, dan susu, dan kurang serat, kadar kolesterol akan lebih berisiko untuk meningkat. Kondisi ini pun dapat memicu mual, rasa lelah, dan rasa lemas.

Sumber serat yang bisa rutin dikonsumsi

Agar tak kurang serat, Anda harus rutin mengonsumsi buah dan sayuran. Buah dan sayuran tersebut, yaitu:

  • Buah: Pir, stroberi, alpukat, apel, pisang
  • Sayur: Wortel, brokoli, bayam, asparagus, kale, terong
  • Kacang merah
  • Kentang
  • Quinoa
  • Oats
  • Jagung
  • Kacang almond
  • Chia seeds
  • Cokelat hitam

Terlalu banyak serat, berbahayakah?

Segala hal yang berlebihan tidaklah baik, tak terkecuali serat. Terlalu banyak mengonsumsi nutrisi ini pun dapat menimbulkan efek samping. Efek samping tersebut, termasuk:

  • Perut kembung dan bergas
  • Sensasi kenyang berlebihan
  • Kram perut
  • Sembelit atau diare
  • Dehidrasi
  • Kenaikan atau penurunan berat badan
  • Mual
  • Penyumbatan usus (jarang terjadi)

Walau menimbulkan efek samping di atas, kelebihan serat lebih jarang terjadi dibandingkan kekurangan nutrisi ini.

Perlukah mengonsumsi suplemen serat?

Belum diketahui dengan pasti manfaat suplemen serat jika dibandingkan dari makanan sehat. Sebagian besar suplemen serat pun hanya ditujukan untuk mencegah sembelit dan bukan menurunkan kadar kolesterol.

Apabila Anda merasa kurang konsumsi serat, dan ingin memenuhi kebutuhannya dari suplemen, Anda harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Dokter dapat menentukan jenis suplemen yang bisa dikonsumsi serta kemungkinan interaksi dengan obat yang tengah diminum.

Anda juga harus mengonsumsinya sedikit demi sedikit, karena konsumsi langsung dalam dosis tinggi dapat menimbulkan efek samping. Mengonsumsinya dengan berlebihan tidak disarankan, karena kelebihan pun sama tak eloknya dengan kurang erat.

Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/digestive-health/fiber-and-constipation.aspx
Diakses pada 23 Desember 2019

Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/type-2-diabetes/diet/control-high-blood-sugar-with-fiber
Diakses pada 23 Desember 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/food-nutrition/simple-carbohydrates-complex-carbohydrates
Diakses pada 23 Desember 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health-news/fiber-can-help-with-t2d-and-heart-disease
Diakses pada 23 Desember 2019

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/22-high-fiber-foods
Diakses pada 23 Desember 2019

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/fiber-and-belly-fat
Diakses pada 23 Desember 2019

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/fiber-can-help-you-lose-weight
Diakses pada 23 Desember 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321286.php
Diakses pada 23 Desember 2019

My Food Data. https://www.myfooddata.com/articles/vegetables-high-in-fiber.php
Diakses pada 23 Desember 2019

Web MD. https://www.webmd.com/diet/features/fiber-supplements
Diakses pada 23 Desember 2019

Web MD. https://www.webmd.com/food-recipes/features/4-warning-signs-your-diet-may-lack-fiber
Diakses pada 23 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed