Akalasia Esofagus, Penyakit Langka yang Membuat Anda Susah Menelan

(0)
11 Dec 2019|Fadli Adzani
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Susah menelan dapat disebabkan oleh penyakit langka akalasia esofagusSusah menelan merupakan salah satu gejala dari akalasia esofagus
Bagi sebagian orang, penurunan berat badan drastis adalah tujuan dari diet yang harus dicapai. Namun, tidak selamanya penurunan berat badan drastis berarti baik. Sebab, penyakit langka akalasia esofagus, memiliki gejala serupa.Akalasia esofagus menyebabkan penderitanya mengalami penurunan berat badan secara drastis, dengan gejala menyerupai gangguan pencernaan lainnya. Namun, kemunculannya disertai rasa sakit saat menelan makanan atau minuman. Mari kenali penyakit langka ini lebih jauh, untuk mengetahui cara menghindarinya.

Akalasia esofagus

Sir Thomas Williams adalah orang pertama yang melaporkan penyakit akalasia esofagus, pada 1674. Saat itu, ia menemukan sebuah kelainan yang ditandai dengan "tidak turunnya" makanan dari kerongkongan seseorang. Akhirnya, ia menyarankan terapi untuk dilatasi (melebarkan) kerongkongan dengan tulang ikan paus, sehingga makanan yang tertahan tadi, bisa turun dengan lancar. Akalasia terjadi akibat kerusakan jaringan saraf pleksus mienterikus pada dinding kerongkongan bagian bawah, yang menghubungkan mulut dengan lambung. Hal ini menyebabkan gangguan gelombang kontraksi otot polos kerongkongan, yang akhirnya membuat makanan atau minuman tidak bisa masuk ke lambung. Normalnya, lingkaran otot bagian bawah kerongkongan (lower esophageal sphincter/LES), akan membuka dan menutup secara otomatis dengan sendirinya. Namun, pada penderita akalasia esofagus, LES tidak membuka dan menutup secara normal, sehingga mengakibatkan makanan menumpuk di bagian bawah kerongkongan, dan naik kembali ke pangkal kerongkongan.

Jenis akalasia esofagus

Akalasia esofagus memiliki tige jenis, yakni akalasia premier, jika tidak diketahui penyebabnya, dan akalasia sekunder, jika diketahui penyebabnya. Akasia selanjutnya adalah pseudo-achalasia.
  • Akalasia premier

Pada akalasia premier, diasumsikan bahwa kerusakan saraf dapat disebabkan oleh faktor genetik, autoimun, ataupun infeksi virus. Akan tetapi, penyebab pastinya tidak diketahui.
  • Akalasia sekunder

Sebagian besar, akalasia sekunder disebabkan oleh penyakit Chagas (infeksi parasit Typanasoma cruzi, yang menular melalui gigitan serangga kissing bug atau Triatomine).
  • Pseudo-achalasia

Pseudo-achalasia ditemukan pada 2-4% kasus akalasia. Penyebab terbesarnya adalah kanker kerongkongan.Gejala akalasia sendiri akan muncul secara bertahap; fungsi kerongkongan semakin melemah, sulit atau merasa kesakitan saat menelan makanan maupun minuman (disfagia), dada terasa nyeri atau bertambah nyeri saat makan, muntah, hingga berat badan menurun tanpa diketahui penyebabnya.

Diagnosis akalasia

Ada beberapa pemeriksaan tambahan untuk mendiagnosis akalasia, seperti:
  • Esofagografi: Dalam pemeriksaan ini, pasien akan diminta untuk menelan cairan zat berwarna kontras, yang mengandung barium. Saat proses rontgen selesai, kerongkongan pasien akan bisa terlihat jelas. Biasanya, diameter kerongkongan akan terlihat cukup lebar dan barium terlihat lancar memasuki lambung. Jika tidak, maka akalasia lah penyebabnya.

  • Manometri: Dengan memasukkan tabung plastik kecil dan fleksibel melalui hidung pasien, dokter bisa merekam aktivitas dan kekuatan kontraksi otot, serta memeriksa tekanan yang muncul di LES.

  • Endoskopi saluran cerna bagian atas (gastroskopi): Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan instrumen fleksibel yang sudah disertai kamera di bagian ujungnya. Nantinya, instrumen tersebut akan dimasukkan ke bagian bawah kerongkongan, agar dokter bisa melihat dinding kerongkongan dan lambung.
Beberapa cara pemeriksaan di atas, belum sepenuhnya dapat direalisasikan. Akibatnya, berbagai metode terapi, yang dianggap bisa mengobati keluhan akasia pun dikembangkan. Pilihan terapi akalasia yang saat ini sudah tersedia, sangatlah bervariasi, antara lain:
  • Pelebaran kerongkongan: Melalui prosedur endoskopi, dokter akan memasukkan sebuah balon ke bagian kerongkongan pasien, yang mengalami penyempitan. Setelah dimasukkan, balon itu akan dikembangkan untuk memperbesar bukaan LES, sehingga makanan bisa masuk ke lambung. Hal ini harus dilakukan beberapa kali, untuk mendapatkan hasil maksimal.

  • Injeksi toksin botulinum: Injeksi toksin botulinum per endoskopi, dilakukan untuk menghambat pelepasan neurotransmitter (senyawa organik yang membawa sinyal di antara sel saraf) pada ujung saraf presinaptik (sel yang mengirimkan sinyal), sehingga terjadi penurunan tekanan LES.

  • Heller myotomi: Heller myotomi adalah prosedur bedah untuk memotong otot LES menggunakan teknik laparoskopi atau operasi dengan sayatan minimal. Hal ini dilakukan untuk memudahkan makanan masuk ke lambung.

  • Intervensi farmakologis: Pemberian obat-obatan penghambat kalsium, nitrat dan penghambat fosfodiesterase (enzim yang bekerja selektif pada jantung) dilakukan untuk menurunkan tekanan pada spincter esophagus (otot pada kerongkongan) bagian bawah.
Walaupun akasia tergolong penyakit langka, penyakit ini dapat menyerang pria maupun wanita, dengan prevalensi angka kejadian kurang dari 1:100.000. Penyakit ini lebih sering terjadi pada usia 30-60 tahun. Oleh karena itu, medical check up harus dijalani sedini mungkin, untuk mencegah terjadinya akalasia. Jika Anda merasakan gejala yang mengarah pada gangguan pencernaan atau fungsi telan, berkonsultasilah dengan dokter.Narasumber: 
Dr. dr. Nella Suhuyanly, Sp.PD-KGEH
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subdivisi Gastroenterohepatologi
Eka Hospital BSD
akalasiakesulitan menelandisfagia
Eka Hospital BSD
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait