Agitasi adalah Gangguan Kejiwaaan yang Umum Terjadi, Ini Penyebabnya

Agitasi adalah gangguan mental yang dapat muncul karena stres.
Agitasi adalah gangguan kejiwaan yang bisa terjadi akibat stres.

Agitasi adalah kondisi kejiwaan berupa perasaan marah dan gelisah yang dipicu oleh suatu kondisi atau bahkan atau tanpa pemicu sama sekali.

Pada dasarnya, setiap orang secara alami akan merasa gelisah ketika berada di bawah tekanan. Perasaan tersebut muncul sebagai respons terhadap tekanan tersebut. Nah, kegelisahan semacam ini pun bisa disebut sebagai agitasi.

Agitasi adalah gangguan jiwa akibat faktor-faktor ini

Sebenarnya, agitasi adalah jenis emosi yang wajar dialami setiap orang. Kondisi kejiwaan ini akan terjadi pada setiap orang setidaknya sekali seumur hidup.

Karena memang normal terjadi, agitasi bukanlah suatu kondisi kejiwaan yang perlu dikhawatirkan. Namun bila mengalami agitasi secara terus-menerus, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter.

Setidaknya, ada tujuh faktor penyebab agitasi, sebagai berikut ini.

1. Stres

Penyebab agitasi yang paling umum adalah kondisi stres. Tekanan akibat stres, bisa meningkatkan risiko terhadap agitasi. Kondisi stres tersebut dapat disebabkan bermacam hal, entah tekanan dari lingkungan pergaulan, pekerjaan, sekolah hingga kondisi berduka.

2. Nyeri

Beberapa penelitian mengungkapkan, nyeri tubuh akibat penyakit tertentu dapat memicu seseorang mengalami agitasi. Termasuk nyeri yang terjadi pada para pengidap sindrom demensia.

Demensia merupakan sindrom yang menyebabkan penurunan fungsi otak. Kondisi medis ini kerap menjangkiti individu berusia lebih 65 tahun.

Individu pengidap demensia mengalami perubahan kognitif dan psikologis, misalnya jadi sering merasa kebingungan atau disorientasi, tidak dapat mengingat kejadian tertentu maupun sosok orang terdekat, sulit berkomunikasi, paranoid hingga kerap berhalusinasi.

Sebagian besar pengidap demensia juga kesulitan mengungkapkan rasa nyeri yang mereka alami. Akibatnya, mereka mengekspresikan kesakitan tersebut melalui perilaku agitasi.

3. Gangguan mental lain

Depresi bisa memicu agitasi.

Agitasi juga dapat dipicu oleh gangguan mental lainnya seperti depresi, bipolar hingga delirium, yang menyebabkan penderitanya mengalami kebingungan, sulit berpikir dan gangguan emosi.

4. Ketidakseimbangan hormon

Penyebab agitasi lainnya yaitu ketidakseimbangan hormon seperti hipotiroidisme. Hipotiroidisme merupakan gangguan kesehatan yang terjadi karena kelenjar tiroid tidak memproduksi cukup hormon tiroid.

Hormon tiroid berfungsi untuk menyalurkan energi ke setiap organ tubuh. Saat kadar hormon tiroid berkurang, maka fungsi tubuh juga akan mengalami gangguan. Akibatnya, pengidap hipotiroidisme mengalami gejala berupa mudah lelah, peningkatan berat badan hingga depresi.

Depresi yang dialami pengidap hipotiroidisme lantas dapat memicu agitasi.

5. Gangguan saraf

Pengidap gangguan saraf, misalnya karena tumor otak, juga berisiko mengalami agitasi. Gejala yang ditimbulkan tumor otak seperti sakit kepala parah, kejang, kebingungan hingga kelelahan akut, dapat memicu agitasi.

6. Gangguan spektrum autisme

Anak-anak maupun orang dewasa dengan gangguan sprektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD) biasanya mengalami gangguan perilaku, terumasuk tindakan agresif terhadap orang lain. Perilaku agresif tersebut bisa terjadi secara impulsif, dan dikategorikan sebagai agitasi.

7. Gejala putus alkohol

Individu yang mengidap ketergantungan alkohol maupun ketika berusaha menghentikan ketergantungan tersebut juga berisiko mengalami agitasi. Saat berusaha menghentikan kebiasaan mengonsumsi alkohol, gejala putus alkohol berisiko muncul. Salah satu gejalanya berupa agitasi tersebut.

Bagaimana cara mengatasi agitasi?

Jika Anda mengalami gejala agitasi, segera konsultasikan ke dokter untuk memperoleh penanganan lebih lanjut. Dengan berkonsultasi, dokter dapat mendiagnosis penyebab agitasi yang Anda alami.

Jika Anda memiliki gangguan mental, dokter akan merujuk Anda ke spesialis kesehatan jiwa untuk menjalani pemeriksaan. Namun jika Anda memiliki kondisi medis lainnya, dokter dapat melakukan pemeriksaan diagnostik seperti CT Scan, MRI otak, pengambilan sampel darah hingga pengambilan cairan tulang belakang untuk mengetahui kondisi medis pemicu agitasi yang Anda alami.

Selanjutnya, dokter dapat memberikan saran pengobatan dan tindakan medis lebih lanjut untuk mengatasi faktor pemicu agitasi.

Jika agitasi hanya disebabkan oleh stres, Anda dapat mengatasinya dengan melakukan teknik relaksasi, seperti latihan pernapasan, yoga hingga jenis meditasi lain yang Anda senangi, sehingga dapat mengurangi stres.

Catatan dari SehatQ:

Jangan pernah mendiagnosis sendiri kondisi kejiwaan Anda, termasuk agitasi. Apabila Anda menduga sedang mengalami kondisi tersebut, berkonsultasilah dengan dokter. Dengan begitu, penyebabnya bisa segera diketahui dan diatasi.

American Academy of Pediatrics.
https://pediatrics.aappublications.org/content/137/Supplement_2/S124
Diakses pada 26 Maret 2020

Healhtline.
https://www.healthline.com/health/alcoholism/delirium-tremens#symptoms
Diakses pada 26 Maret 2020

Healthline.
https://www.healthline.com/health/agitation#outlook
Diakses pada 25 Maret 2020

Healthline.
https://www.healthline.com/health/dementia
Diakses pada 25 Maret 2020

Healthline.
https://www.healthline.com/health/delirium
Diakses pada 25 Maret 2020

NHS.
https://www.nhs.uk/conditions/brain-tumours/
Diakses pada 25 Maret 2020

Mayo Clinic.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hypothyroidism/symptoms-causes/syc-20350284
Diakses pada 25 Maret 2020

NCBI.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5682601/
Diakses pada 25 Maret 2020

Artikel Terkait