Adversity Quotient, Tak Kalah Penting dari IQ dan EQ


Berbeda dengan IQ dan EQ, adversity quotient atau AQ adalah kemampuan seorang individu untuk berpikir, mengelola, mengatur, dan menghadapi kesulitan dalam hidup. Singkatnya, ini adalah parameter yang menggambarkan bagaimana kemampuan menghadapi masalah.

0,0
24 Aug 2021|Azelia Trifiana
Adversity quotient atau AQ adalah kemampuan seorang individu untuk berpikir, mengelola, mengatur, dan menghadapi kesulitan dalam hidupStrategi untuk mengasah adversity quotient adalah dengan menghadapi kenyataan
Berbeda dengan IQ dan EQ, adversity quotient atau AQ adalah kemampuan seorang individu untuk berpikir, mengelola, mengatur, dan menghadapi kesulitan dalam hidup. Singkatnya, ini adalah parameter yang menggambarkan bagaimana kemampuan menghadapi masalah.Persepsi yang ada selama ini adalah kesuksesan seseorang ditentukan dari kepintaran mereka. Namun jangan salah. Bagaimana seorang individu menghadapi situasi sulit dan tak terduga juga sangat krusial.

Mengenal konsep adversity quotient

Konsep adversity quotient pertama kali digagas oleh Paul Stoltz yang kemudian dipublikasikannya lewat buku “Adversity Quotient: Turning Obstacles into Opportunities”.Kemudian, Stoltz membuat tiga kategori manusia berdasarkan level AQ-nya, yaitu:

1. Quitters

Jenis individu yang mudah menyerah saat menghadapi situasi sulit dan merasa ada harapan akan masa depannya. Hidupnya cenderung penuh dengan kompromi. Artinya, quitters akan dengan mudah menyerah ketika mencoba cara menghadapi masalah.Lebih jauh lagi, tipe jenis quitters juga tak segan untuk menyerah dan membiarkan masalah tidak terselesaikan. Tentu saja, ini akan berdampak pada kualitas hidupnya yang rumit.Dalam dunia kerja, quitters termasuk orang yang tidak merasa perlu berambisi apapun. Mereka juga akan menghindari adanya tanggung jawab yang sifatnya rumit.

2. Campers

Mereka yang masuk dalam kategori campers siap untuk berjuang ketika menghadapi masa sulit. Hanya saja, usahanya cenderung tidak gigih. Mereka cenderung memilih hidup yang nyaman.Lebih jauh lagi, kemampuan menghadapi masalah campers cenderung lemah karena pengalaman negatif membuat mereka takut. Jelas, mereka hanya akan merasa senang ketika hidupnya berjalan dengan baik.Ketika bekerja, campers mau berusaha namun masih termasuk dalam golongan karyawan biasa. Perusahaan pun tidak akan mendapatkan hasil terbaik dari mereka.

3. Climbers

Inilah yang disebut dengan real achievers. Mereka tak segan untuk berjuang hingga sukses, terlepas dari tantangan apa yang dihadapinya. Jika belum berhasil, tak ada kata menyerah dalam kamus kehidupan mereka. Ibaratnya, tidak ada satupun hal yang bisa mengalahkan mereka.Orang dalam kategori AQ semacam ini memiliki motivasi kuat dari dirinya sendiri. Inilah yang membuat mereka konsisten ketika berjuang. Optimisme selalu ada dalam pikiran mereka dan tak pernah kehilangan harapan.Tentu saja, orang dengan adversity quotient semacam ini adalah pekerja yang ideal bagi perusahaan atau organisasi. Mereka sangat berkomitmen akan pekerjaannya dan tak segan berusaha lebih keras demi kemajuan diri sendiri dan perusahaan.

Adversity Quotient sangat bisa dipelajari

Meskipun ada tiga kategori di atas, bukan berarti orang yang ada di kelompok quitters tidak bisa belajar untuk menjadi campers atau climbers. Oleh sebab itu, Stoltz membuat formulasi tahapan LEAD yang berarti:
  • Listen: Mendengarkan respons terhadap kecerdasannya saat menghadapi masalah
  • Accountability: Biasakan bertanggung jawab
  • Analyze: Analisis bukti-buktinya
  • Do: Ambil sikap
Selain konsep LEAD di atas, Stoltz juga merancang empat dimensi untuk mengukur adversity quotient. Singkatan dari dimensi ini adalah CORE dengan makna:
  • Control: Sejauh mana seorang individu bisa mengendalikan hidup dan konsekuensi negatifnya sebelum menjadi kian buruk
  • Ownership: Sejauh mana bisa bertanggung jawab atas tindakan dan membuat situasi membaik
  • Reach: Mengukur kemampuan menghadapi masalah agar tidak berdampak pada aspek kehidupan lain seperti profesi atau keluarga
  • Endurance: Kemampuan toleransi terhadap rasa sakit dan tetap optimistis akan masa depan, serta yakin ada hal baik yang akan terjadi kemudian

Strategi agar tangguh menghadapi masalah

Tidak ada kehidupan yang mulus-mulus saja. Kesulitan, tantangan, hambatan, apapun namanya, itu pasti terjadi. Sekarang tinggal bagaimana Anda mempersiapkan diri agar tangguh ketika menghadapi masalah.Berikut ini beberapa strategi untuk mengasah adversity quotient menjadi semakin mahir:
  • Hadapi kenyataan

Saat situasi berjalan tidak sesuai ekspektasi, tetap hadapilah. Tentu ada godaan untuk menghindarinya, tapi jangan lakukan itu. Tetap lihat apa kenyataan yang terjadi sebagai panduan untuk menghadapi masalah secara efektif.Bonusnya, membiasakan diri melakukan hal ini akan membuat situasi yang semula dirasa menakutkan menjadi familiar. Hidup menjadi semakin terkendali. Bahkan, Anda juga akan tumbuh menjadi sosok yang kuat dan percaya diri.
  • Jalan hidup sepenuhnya

Penting juga untuk mengelola ekspektasi akan apa yang terjadi dalam hidup. Jangan terkungkung dalam anggapan bahwa hidup akan berjalan sesuai harapan Anda. Justru yang harus dilakukan adalah menikmati apa yang terjadi, baik saat suka maupun duka.Dengan cara ini, Anda akan lebih bisa menikmati hidup dan menghargai apa yang dimiliki. Tetap pasrah akan apa yang terjadi, sehingga bisa lebih berdamai dengan tantangan dalam hidup.
  • Tidak terburu-buru

Selalu terburu-buru sebenarnya bukan jaminan akan lebih cepat mencapai tujuan hidup. Justru menikmati waktu dan disiplin adalah pendekatan yang bisa membawa orang pada kesuksesan. Selain itu, ketika terburu-buru mungkin orang cenderung memilih cara menghadapi masalah yang instan, bukan yang paling bijak.
  • Bersyukur

Tentu jauh lebih mudah menghitung apa saja masalah dan kesulitan dalam hidup ketimbang bersyukur akan apa yang sudah dimiliki. Padahal, mengubah perspektif menjadi lebih mudah bersyukur bisa mengubah segalanya.Hebatnya lagi, bersyukur adalah resep utama untuk kesehatan fisik dan emosional. Ketika menghadapi kesulitan yang tak mungkin terhindarkan, ini adalah cara untuk tetap tenang menghadapinya.
  • Validasi emosi

Melakukan validasi emosi – baik yang terasa sulit seperti sedih sekalipun – adalah cara untuk memiliki adversity quotient yang baik. Tetap akui apa yang tengah dihadapi saat ini. Denial terhadap perasaan justru menghabiskan energi psikologis Anda.Ingat bahwa perasaan dan emosi adalah energi dan bahan bakar kehidupan. Tanpanya, tidak akan ada warna dalam hidup.Jadi jelas, bahwa yang penting bukan hanya kecerdasan emosi dan intelektual saja. Kecerdasan adversity juga tak kalah penting untuk menghadapi berbagai kesulitan dan masalah dalam hidup.Kabar baiknya, kecerdasan yang satu ini sangat bisa dipelajari. Jadi, mereka yang selama ini cenderung quitter bisa saja menerapkan strategi di atas demi bisa menjadi climbers. Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar pengaruh adversity quotient terhadap kesehatan mental, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentalstres
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/headshrinkers-guide-the-galaxy/201412/7-strategies-face-lifes-challenges
Diakses pada 10 Agustus 2021
Psychologs. https://www.psychologs.com/article/how-does-adversity-quotient-define-ones-ability-to-endure
Diakses pada 10 Agustus 2021
Adversity Advantage. http://www.adversityadvantage.com/stoltz.html
Diakses pada 10 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait