Obat Usus Buntu Masih Diperdebatkan
Saat Ini Obat Usus Buntu Masih Dalam Perdebatan

Usus buntu adalah salah satu penyakit yang umum timbul di masyarakat. Usus buntu sering menimbulkan rasa nyeri di perut dan pada kasus tertentu dapat menimbulkan komplikasi yang bisa mengancam nyawa penderitanya.

Untuk mengatasi usus buntu, dokter seringkali melakukam operasi. Namun, apakah ada obat usus buntu yang bisa digunakan untuk mengobati kondisi ini?

Apakah ada obat usus buntu?

Pada kasus yang jarang terjadi, bila gangguan usus buntu masih ringan dan tidak menimbulkan komplikasi, dokter dapat memberikan obat usus buntu berupa antibiotik. Namun pemberian antibiotik sebagai obat usus buntu masih dalam perdebatan.

Selain antibiotik, obat usus buntu lain yang bisa diberikan adalah obat antinyeri untuk mengatasi rasa sakit akibat usus buntu.

Umumnya, gangguan usus buntu tidak ditangani dengan obat, tetapi dengan operasi. Biasanya obat usus buntu baru diberikan setelah operasi sudah berlangsung untuk mencegah penyebaran infeksi.

Setelah operasi usus buntu, Anda akan mengalami rasa sakit di perut dan ujung bahu. Oleh karenanya dokter akan memberikan obat usus buntu berupa obat antinyeri untuk mengatasi rasa sakit pascaoperasi.

Bagaimana proses operasi usus buntu?

Umumnya, usus buntu diatasi dengan metode operasi.Terdapat dua jenis operasi usus buntu, yaitu laparoskopi dan bedah terbuka atau laparotomi. Keduanya memiliki perbedaan pada cara penanganannya.

  • Laparoskopi

Laparoskopi tidak membuat sayatan besar pada penderita, tetapi hanya memerlukan jalur kecil untuk bisa memasukkan tabung tipis yang dilengkapi dengan cahaya dan kamera.

Tabung tipis tersebut dimasukkan ke dalam perut melalui sebuah alat yang bernama cannula. Melalui tabung, ahli bedah dapat melihat bagian dalam perut secara detail melalui monitor.

Tabung tersebut dapat digerakkan dan disesuaikan oleh ahli bedah sebelum usus buntu dipotong serta dikeluarkan melalui sayatan kecil di perut.

Metode laparoskopi tidak menimbulkan pendarahan yang banyak dan hanya melibatkan sayatan yang kecil, karenanya penderita usus buntu bisa sembuh lebih cepat tanpa menimbulkan bekas luka yang terlihat.

  • Bedah terbuka atau laparotomi

Berbeda dengan laparoskopi, bedah terbuka dilakukan dengan membuat sayatan yang besar agar bagian dalam perut bisa dibersihkan.

Bedah terbuka hanya dilakukan jika penderita memiliki tumor di perut, sedang hamil trimester ketiga, sering menjalani operasi perut, usus buntu pecah dan infeksi menyebar, serta memiliki usus buntu yang disertai bisul.

Setelah bedah terbuka dilakukan, penderita akan diberikan obat usus buntu berupa antibiotik secara berkala.

Biasanya, penderita yang menjalani operasi laparoskopi dapat pulang 24 jam setelah operasi. Akan tetapi, penderita yang menjalani bedah terbuka atau mengalami komplikasi lainnya, seperti peritonitis, perlu tetap berada di rumah sakit hingga semingguan.

Umumnya, penderita sudah bisa beraktivitas seperti sedia kala dalam waktu dua minggu dan baru boleh melakukan aktivitas yang berat sesudah lewat empat sampai enam minggu setelah bedah dilakukan.

Catatan dari SehatQ

Meskipun operasi telah selesai dilakukan dan Anda telah diberikan obat usus buntu berupa obat antinyeri, Anda tetap harus waspada dengan kemungkinan infeksi pascaoperasi. Beberapa indikasi dari adanya infeksi adalah:

  • Muntah terus-menerus.
  • Daerah bekas operasi panas ketika disentuh atau terdapat bisul dan kotoran lainnya di bagian tersebut.
  • Rasa nyeri dan bengkak yang makin parah.
  • Demam tinggi.

Segera kunjungi dokter jika Anda mengalami gejala di atas agar infeksi bisa segera diperiksa dan ditangani dengan tepat.

Healthline. https://www.healthline.com/health/appendicitis#surgery
Diakses pada 17 Januari 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/158806.php
Diakses pada 17 Januari 2020

Artikel Terkait

Banner Telemed