Twin to Twin Transfusion Syndrome, Penyebab Perkembangan Janin Tidak Seimbang


Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS) adalah suatu kelainan di mana salah satu bayi mendonorkan darah ke bayi kembarannya di dalam kandungan. Kelainan ini dapat terjadi pada kehamilan kembar monozigotik (kembar identik) dengan satu plasenta (monokorionik).

(0)
Perkembangan janin kembar di dalam kandungan dapat menjadi tidak seimbang akibat kelainan Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS)Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS) dapat membuat perkembangan janin kembar tidak seimbang
Perkembangan janin kembar di dalam kandungan bisa menjadi tidak seimbang akibat kelainan twin to twin transfusion syndrome (TTTS). TTTS atau twin to twin transfusion syndrome adalah suatu kelainan di mana salah satu bayi mendonorkan darah ke bayi kembarannya di dalam kandungan.Kelainan ini hanya dapat terjadi pada kehamilan kembar monozigotik (kembar identik) dengan satu plasenta (monokorionik) yang mencakup 75% kehamilan kembar identik. Kehamilan kembar identik terjadi pada 3-5 dari 1.000 kehamilan. Pada kehamilan ini, jumlah plasenta bisa saja cuma ada satu atau dua. TTTS adalah suatu kondisi yang jarang terjadi, hanya 5-38% dari kehamilan kembar identik dengan satu plasenta.

Penyebab twin to twin transfusion syndrome (TTTS)

Penyebab twin to twin transfusion syndrome belum diketahui secara pasti. Namun, Faktor risiko twin to twin transfusion syndrome terbesar adalah mengalami gangguan pembelahan sel pascapembuahan.Pada bayi kembar identik dengan TTTS, ada hubungan satu arah antara peredaran darah bayi donor dengan bayi penerima melalui pembuluh darah di plasenta.Dikutip dari Hopkins Medicine, hubungan peredaran darah bayi inilah yang menyebabkan aliran darah dari ibu kepada kedua bayi menjadi tidak seimbang.Satu bayi terus memberikan darah kepada bayi kembarannya (transfusi darah). Aliran darah dalam peredaran darah bayi donor menjadi berkurang, sebaliknya aliran darah dalam peredaran darah bayi penerima menjadi berlebih.Pada kehamilan dengan TTTS, bayi donor yang memberikan darah kepada kembarannya menjadi lebih kecil ketimbang bayi penerima yang menerima darah sehingga perkembangan keduanya tidak seimbang.Saat lahir, biasanya berat badan bayi donor lebih kecil, tampak pucat, dan mengalami anemia (kurang darah). Sedangkan bayi penerima tampak lebih besar dari usianya, tubuh tampak kemerahan, dan dapat terjadi jaundice (kuning).  Baca juga: Tips Hamil Bayi Kembar: dari Sukses Promil Sampai Menjaga Kandungan agar Tetap Sehat

Gejala TTTS

Gejala TTS diperkirakan terdeteksi pada 15 persen kehamilan kembar identik. Berikut adalah sejumlah gejala twin to twin transfusion syndrome atau kelainan plasenta yang terjadi pada ibu:
  • Rahim bertumbuh dengan cepat, menyebabkan ukuran rahim dan perut menjadi lebih besar dari usia kehamilan pada umumnya
  • Mengalami kenaikan berat badan berlebih
  • Perut nyeri
  • Sesak napas
  • Mengalami kontraksi
  • Kaki dan tangan bengkak di awal kehamilan
Jika Anda mengalami ciri-ciri seperti di atas, maka segeralah berkonsultasi pada dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Diagnosis twin to twin transfusion syndrome

TTTS biasanya dapat dideteksi dalam pemeriksaan USG pada usia 16-21 minggu. Jika ibu mengalami TTTS atau kelainan plasenta, hasil USG akan menunjukkan hal seperti berikut:
  • Ibu hanya memiliki satu plasenta
  • Ukuran dan berat kedua janin berbeda
  • Ukuran kantung ketuban dan tali pusat berbeda
  • Mengalami kelebihan cairan ketuban pada salah satu janin kembar. Cairan pada salah satu janin kembar berlebihan, sementara janin kembar lainnya memiliki cairan ketukan yang sedikit.
Jika tidak ditangani, peluang hidup bayi akan semakin mengecil karena muncul komplikasi lain, seperti gagal jantung.

Komplikasi twin to twin transfusion syndrome (TTTS)

Jika berhasil lahir dengan kondisi ini, biasanya kelahiran terjadi secara prematur dan bayi berisiko mengalami komplikasi akibat TTTS dan prematuritas.TTTS yang berat dapat menyebabkan kematian bayi pada 60-100% kasus, sedangkan kasus yang lebih ringan bisa mengakibatkan kelahiran prematur.Risiko ini bergantung pada usia kehamilan saat bayi lahir. Semakin muda usia kehamilan saat bayi lahir, dampaknya semakin berat.Ketidakstabilan peredaran darah selama dalam kandungan akan menyebabkan terganggunya perkembangan otak, baik pada bayi donor maupun bayi penerima.Jika bayi donor akhirnya meninggal di dalam kandungan, aliran darah ke bayi penerima menjadi tidak seimbang. Hal ini dapat menyebabkan kematian atau kerusakan otak pada bayi penerima.Selain itu, akibat kekurangan volume darah, ginjal bayi donor hanya menyaring sedikit darah dan akhirnya hanya mengeluarkan sedikit air seni, atau bahkan tidak sama sekali.Hal ini bisa dilihat dari air ketuban yang sedikit dalam kantung kehamilan bayi donor. Kurangnya volume darah, menyebabkan bayi donor hanya menerima sedikit oksigen dan nutrisi, sehingga pertumbuhannya akan terganggu.Fungsi jantung juga dapat menerima dampak dari kondisi ini, yang mampu meningkatkan risiko kematian bayi donor.Sedangkan pada bayi penerima, karena volume darah yang berlebih akibat transfusi dari saudara kembarnya, air seni yang dikeluarkan akan lebih banyak.Kerja jantung bayi penerima menjadi lebih berat sehingga dapat menyebabkan gagal jantung dan akhirnya kematian.Baca juga: Penyebab Bayi Meninggal dalam Kandungan (Stillbirth), Bumil Perlu Perhatikan Ciri-cirinya

Cara mengatasi twin to twin transfusion syndrome

Penanganan TTTS tergandung pada tingkat keparahan kondisi tersebut. Sejumlah penanganan yang mungkin akan dilakukan oleh dokter di antaranya:
  • Amnioreduksi. Melakukan tindakan amniocentesis untuk mengurangi cairan ketuban pada salah satu janin
  • Bedah fetoskopi laser dengan melakukan penyumbatan pembuluh darah yang mengalami kelainan, sehingga kedua janin bisa mendapatkan pasokan darah yang seimbang
  • Persalinan lebih awal atau melahirkan prematur
Persalinan prematur bayi dapat dilakukan secara normal maupun dengan operasi caesar.

Pesan dari SehatQ

Bagi para ibu yang sedang hamil dengan bayi kembar, penting untuk mengetahui jenis kehamilan kembar yang dijalani, apakah identik (monozigotik) dan berapa jumlah plasenta yang memperdarahi bayi.Ibu hamil dengan risiko TTTS membutuhkan evaluasi ketat dari dokter kandungan, agar tindakan dapat segera diambil jika dibutuhkan.Agar kondisi ini tidak semakin berkembang dan menyebabkan komplikasi yang lebih serius, Anda diharuskan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.Jika Anda ingin berkonsultasi secara langsung pada dokter, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
transfusion syndrome
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/271752-overview#a3
Diakses pada Mei 2019
Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/twintotwin-transfusion-syndrome-ttts
Diakses pada Mei 2019
Simpson LL. Twin-tiwn transfusion syndrome. AJOG. 2013;208(1):3-18. https://www.ajog.org/article/S0002-9378(12)01980-1/abstract. 
Diakses pada Mei 2019
Bolch C, Fahey M, Reddihough D, et al. Twin-to-twin transfusion syndrome neurodevelopmental follow-up study. BMC Pediatr. 2018;18:256. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6090765/
Diakses pada Mei 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait