3 Jenis Depresi Ini Berisiko Dialami Orangtua Setelah Kelahiran Anak

Sindrom baby blues bisa dialami ibu setelah menjalani persalinan.
Para ibu kerap mengalami depresi dan perubahan mood setelah melahirkan.

Kelahiran anak tentu menjadi momen yang sangat membahagiakan bagi kedua orangtua. Walau begitu, tidak jarang terjadi kasus depresi dan perubahan mood pada ibu, sesudah persalinan.

Ciri-ciri orang depresi pascapersalinan tersebut penting untuk dikenali, karena gangguan ini tidak hanya satu dan membutuhkan penanganan yang berbeda pula.

[[artikel-terkait]]

Jenis depresi pascapersalinan dan ciri-ciri penderitanya

Anda yang merupakan seorang ayah atau calon ayah, sebaiknya juga memahami ciri dan tanda dari setiap kondisi mental pascapersalinan. Sebab, perubahan mental ini juga bisa dialami oleh kaum ayah. Seperti ibu, sama pentingnya bagi para ayah untuk mengenali ciri-ciri depresi setelah persalinan. Berikut ini tiga jenis depresi yang bisa terjadi setelah masa persalinan.

1. Sindrom baby blues

Sindrom ini normal dialami oleh para ibu, sesaat setelah melahirkan. Kondisi baby blues biasanya hanya berlangsung selama beberapa jam, atau satu hingga dua minggu setelah persalinan. Sindrom ini juga pada umumnya tidak membutuhkan penanganan khusus dari dokter.
Individu yang mengalami sindrom baby blues, memiliki ciri umum-umum sebagai berikut:

  • Mengalami perubahan mood, yang awalnya sangat bahagia, kemudian menjadi sangat sedih.
  • Merasakan ketidaknyamanan seperti kesepian, cemas, tidak sabar, mudah marah, gelisah, hingga menangis tanpa alasan yang jelas
  • Penurunan konsentrasi
  • Berkurangnya nafsu makan
  • Kurang tidur

Umumnya, sindrom baby blues tidak memerlukan bantuan medis. Namun, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan agar kondisi ini tidak memburuk. Misalnya, membicarakan kondisi Anda dengan pasangan, beristirahat dengan cukup, mencari dukungan teman-teman, konsumsi makanan yang bisa meredakan sindrom ini, serta mengalokasikan waktu untuk menenangkan diri sendiri.

2. Depresi postpartum

Berbeda dari sindrom baby blues, depresi postpartum bisa dialami oleh ayah atau ibu, beberapa hari setelah proses persalinan. Kondisi medis ini bisa terjadi pada orangtua, setelah kelahiran anak pertama, anak kedua, ketiga dan seterusnya.

Ciri-ciri depresi postpartum mirip dengan sindrom baby blues. Namun terjadi lebih kuat dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Tanda-tanda tersebut di antaranya:

  • Tidak memiliki hasrat untuk melakukan aktivitas sehari-hari
  • Menangis secara berlebihan
  • Kesulitan untuk merawat dan bermain dengan bayi
  • Tidak bisa tidur, atau malah tidur terlalu lama 
  • Merasa tidak bisa menjadi ibu atau ayah yang baik
  • Muncul perasaan bersalah, tidak pantas, dan tidak berharga
  • Timbul pemikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi
  • Pada tahap yang sangat parah, penderita mungkin memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh diri

Kondisi mental berupa depresi postpartum, umumnya ditangani melalui psikoterapi, dengan bantuan psikiater atau psikolog. Pemberian obat antidepresan juga mungkin akan diberikan kepada penderita. Namun konsultasikan kepada dokter Anda mengenai keamanan pada obat tersebut, terutama jika Anda sedang menyusui.

3. Psikosis postpartum

Psikosis postpartum merupakan kondisi mental yang sangat parah. Kondisi yang memang jarang terjadi ini, tidak memiliki sebab yang jelas. Namun, gangguan hormon diperkirakan menjadi pemicunya. Penderita psikosis postpartum biasanya memiliki riwayat gangguan bipolar.

Psikosis postpartum memiliki gejala yang mirip dengan sindrom baby blues, maupun depresi postpartum. Selain itu, ciri-ciri lain yang menunjukkan adanya psikosis postpartum yakni:

  • Halusinasi auditori, yaitu mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi
  • Halusinasi visual, atau merasa melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada
  • Delusional, yaitu mempercayai sesuatu yang berada di luar akal sehat
  • Menjadi paranoid, misalnya ketakutan bahwa anak akan dilukai oleh seseorang
  • Afek datar, yakni ekspresi wajah yang datar dan kurangnya respons emosional
  • Keinginan untuk melukai diri sendiri atau orang lain, termasuk sang bayi
  • Timbul pemikiran untuk melakukan bunuh diri

Psikosis postpartum merupakan kondisi yang berbahaya. Orang yang mengalami kondisi ini, khususnya sang ibu, cenderung tidak ingin membicarakan gejala-gejala dialami. Oleh karena itu, diperlukan pengamatan dari pasangan dan keluarga, untuk mendeteksi ciri-ciri di atas, agar dokter dan psikiater bisa segera memberikan bantuan.

Ada beberapa tindakan yang mungkin akan dilakukan dokter untuk menangani psikosis postpartum. Beberapa di antaranya adalah konseling dengan ahli kesehatan mental, memisahkan penderita dari bayinya, pemberian obat antidepresan, meresepkan obat antipsikotik, serta tindakan terapi kejut listrik.

Hal terpenting dalam mendeteksi ciri kondisi mental setelah kelahiran anak adalah memahami, bahwa kondisi tersebut normal dan Anda tidak perlu merasa malu. Mau terbuka dengan pasangan dan keluarga juga akan membantu Anda untuk mencari solusi, termasuk bantuan dari dokter, psikolog atau psikiater.

Artikel Terkait

Banner Telemed