Gejala Depresi Postpartum dari yang Paling Ringan hingga Berat


Depresi setelah kelahiran anak umum menyerang ayah ataupun ibu. Terdapat beberapa jenis gangguan mental pasca persalinan dan ciri-ciri yang membedakannya.

(0)
21 Jun 2019|Arif Putra
Ditinjau olehdr. Reni Utari
gejala depresi postpartum adalah sedih dan cemas berlebihangejala depresi postpartum salah satunya adalah sedih berlebihan
Kelahiran anak tentu menjadi momen yang sangat membahagiakan bagi kedua orangtua. Walau begitu, tidak jarang terjadi kasus terjadinya depresi postpartum dan perubahan mood pada ibu, sesudah persalinan. Gejala depresi postpartum atau depresi pascapersalinan tersebut penting untuk dikenali, karena gangguan ini dapat berbahaya dan membutuhkan penanganan yang berbeda pula.[[artikel-terkait]]

Jenis depresi pascapersalinan 

Setelah melahirkan, orangtua baik ayah maupun ibu sama-sama bisa mengalami gangguan kecemasan, atau perasaan sedih dan khawatir pascapersalinan yang dapat menyebabkan depresi.Adapun jenis depresi setelah melahirkan yang bisa terjadi di antaranya adalah:
  • Baby blues syndrome. Ini merupakan kondisi di mana ibu merasa cemas dan khawatir dalam kurun waktu satu hingga dua minggu setelah melahirkan. Kemudian, perasaan tersebut akan kembali normal dan membaik.
  • Depresi postpartum. Adalah kondisi yang lebih parah dari sindrom baby blues. Kondisi ini dapat bertahan hingga waktu yang lebih lama setelah melahirkan dan menyebabkan ibu merasa lebih sedih, kelelahan serta mengalami kecemasan berlebihan.
  • Psikosis postpartum. Ini merupakan kondisi mental yang sangat parah. Kondisi yang memang jarang terjadi ini, tidak memiliki sebab yang jelas. Namun, gangguan perubahan hormon diperkirakan menjadi pemicu yang meningkatkan risikonya. Penderita psikosis postpartum biasanya memiliki riwayat gangguan bipolar.
Baca juga: Tak Hanya Ibu, Baby Blues Syndrome pada Ayah Juga Bisa Terjadi

Gejala depresi postpartum dari ringan hingga berat

Sebelum memperhatikan ciri-ciri depresi postpartum, biasanya ibu hamil akan terlebih dahulu menunjukan gejala yang lebih ringan seperti gejala baby blues syndrome. Sindrom ini normal dialami oleh para ibu, sesaat setelah melahirkan. Sindrom ini juga pada umumnya tidak membutuhkan penanganan khusus dari dokter.

1. Ciri-ciri baby blues syndrome

Dikutip dari NCBI, individu yang mengalami gejala sindrom baby blues, memiliki ciri umum-umum salah satunya seperti berikut:
  • Mengalami perubahan mood, yang awalnya sangat bahagia, kemudian menjadi sangat sedih.
  • Merasakan ketidaknyamanan seperti kesepian, cemas, tidak sabar, mudah marah, gelisah, hingga menangis tanpa alasan yang jelas
  • Penurunan konsentrasi
  • Berkurangnya nafsu makan
  • Kurang tidur
Umumnya, sindrom baby blues tidak memerlukan bantuan medis. Namun, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan agar kondisi ini tidak memburuk.Misalnya, membicarakan kondisi Anda dengan pasangan, beristirahat dengan cukup, mencari dukungan teman-teman, konsumsi makanan yang bisa meredakan sindrom ini, serta mengalokasikan waktu untuk menenangkan diri sendiri.Jika keadaan ini semakin parah, barulah muncul gejala depresi postpartum yang menunjukkan kecemasan lebih berat. 

2. Ciri-ciri depresi postpartum

Berbeda dari sindrom baby blues, depresi postpartum bisa dialami oleh ayah atau ibu, beberapa hari setelah proses persalinan.Kondisi medis ini bisa terjadi pada orangtua, setelah kelahiran anak pertama, anak kedua, ketiga dan seterusnya.Ciri-ciri depresi postpartum mirip dengan sindrom baby blues. Namun, gejala postpartum depression terjadi lebih kuat dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama.Gejala depresi postpartum yang bisa terjadi di antaranya:
  • Tidak memiliki hasrat untuk melakukan aktivitas sehari-hari
  • Menangis secara berlebihan
  • Merasa sedih, khawatir berlebihan dan cemas berlebihan
  • Kesulitan untuk merawat dan bermain dengan bayi
  • Tidak bisa tidur, atau malah tidur terlalu lama 
  • Sering pusing, sakit perut, dan nyeri otot
  • Merasa tidak bisa menjadi ibu atau ayah yang baik
  • Merasa tidak mampu mengurus bayi
  • Muncul perasaan bersalah, tidak pantas, dan tidak berharga
  • Timbul pemikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi
  • Kesulitan untuk membangun ikatan dengan anak
  • Pada tahap yang sangat parah, penderita mungkin memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh diri
Kondisi mental berupa depresi postpartum, umumnya ditangani melalui psikoterapi, dengan bantuan psikiater atau psikolog.Pemberian obat antidepresan juga mungkin akan diberikan kepada penderita untuk membantu meringankan gejalanya. Namun, konsultasikan kepada dokter Anda mengenai keamanan pada obat tersebut, terutama jika Anda sedang menyusui.Baca juga: Cara Mengatasi Depresi Postpartum oleh Dokter Maupun Secara Alami

3. Gejala psikosis postpartum

Psikosis postpartum memiliki gejala yang mirip dengan sindrom baby blues, maupun ciri-ciri depresi postpartum.Selain itu, ciri-ciri lain yang menunjukkan adanya psikosis postpartum yakni:
  • Halusinasi auditori, yaitu mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi
  • Halusinasi visual, atau merasa melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada
  • Delusional, yaitu mempercayai sesuatu yang berada di luar akal sehat
  • Menjadi paranoid, misalnya ketakutan bahwa anak akan dilukai oleh seseorang
  • Afek datar, yakni ekspresi wajah yang datar dan kurangnya respons emosional
  • Keinginan untuk melukai diri sendiri atau orang lain, termasuk sang bayi
  • Timbul pemikiran untuk melakukan bunuh diri
Psikosis postpartum merupakan kondisi yang berbahaya. Orang yang mengalami kondisi ini, khususnya sang ibu, cenderung tidak ingin membicarakan gejala-gejala dialami.Oleh karena itu, diperlukan pengamatan dari pasangan dan keluarga, untuk mendeteksi ciri-ciri di atas, agar dokter dan psikiater bisa segera memberikan bantuan.Ada beberapa tindakan yang mungkin akan dilakukan dokter untuk menangani psikosis postpartum. Beberapa di antaranya adalah konseling dengan ahli kesehatan mental, memisahkan penderita dari bayinya, pemberian obat-obatan antidepresan, meresepkan obat antipsikotik, serta tindakan terapi kejut listrik.

Hal terpenting dalam mendeteksi masalah kesehatan mental setelah melahirkan adalah memahami bahwa kondisi tersebut wajar dan Anda tidak perlu merasa malu.Mau terbuka dengan pasangan dan keluarga juga akan membantu Anda untuk mencari solusi, termasuk bantuan dari dokter, psikolog atau psikiater.Jika Anda ingin berkonsultasi secara langsung dengan dokter, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
depresipersalinandepresi pascapersalinan
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait