10 Penyakit pada Sistem Reproduksi Wanita yang Harus Anda Waspadai

Ada banyak penyakit pada sistem reproduksi wanita yang dapat menyerang
Penyakit pada sistem reproduksi wanita dapat menyerang wanita mana pun

Sistem reproduksi wanita dan laki-laki memiliki bentuk dan fungsi berbeda. Sistem reproduksi wanita dapat melakukan berbagai fungsi, mulai dari memproduksi sel telur, berhubungan seksual, serta melindungi dan merawat sel telur yang telah dibuahi hingga berkembang sempurna sampai melahirkan.

Sistem reproduksi wanita terdiri dari organ luar dan organ dalam. Organ reproduksi luar wanita, meliputi labia mayor, labia minor, kelenjar Bartholin, dan klitoris. Sementara, organ reproduksi dalam wanita, yaitu vagina, uterus (rahim), ovarium, dan tuba falopi.

Jika kesehatannya tidak dijaga, ada berbagai penyakit pada sistem reproduksi wanita yang mungkin terjadi. Penyakit ini disebabkan oleh banyak hal. Meski sebagian besar masalah tersebut umumnya bisa diatasi, namun terdapat beberapa penyakit yang membutuhkan perhatian khusus. Oleh sebab itu, kenali masalah-masalah reproduksi wanita berikut ini untuk mencegahnya di kemudian hari.

Penyakit pada sistem reproduksi wanita

Sebagian wanita mungkin tidak menyadari bahwa sistem reproduksinya terkena penyakit. Supaya Anda bisa mengidentifikasinya, berikut beberapa penyakit pada sistem reproduksi wanita yang harus diwaspadai.

1. Endometriosis

Kondisi ini terjadi saat jaringan yang biasanya melapisi bagian rahim Anda tumbuh di luar bagian yang seharusnya. Faktanya, wanita yang memiliki masalah dengan pembuahan enam sampai delapan kali lebih berisiko mengalami endometriosis daripada wanita yang subur. Pembedahan atau fertilisasi bisa dilakukan untuk meningkatkan kemungkinan untuk tetap hamil.

2. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

Banyak wanita tidak tahu bahwa mereka memiliki penyebab infertilitas yang umum, yakni Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), sampai mereka mencoba hamil. PCOS atau sindrom ovarium polikistik terkait dengan ketidakseimbangan hormon yang memengaruhi ovulasi dan dapat mengarah kepada:

  • Kista
  • Periode menstruasi yang tidak teratur
  • Tingkat hormon yang tinggi.

Jika Anda memiliki PCOS, Anda bisa meminta saran kepada dokter mengenai program kehamilan dan kondisi kehamilan yang sehat.

3. Fibroid rahim

Salah satu masalah reproduksi wanita yang mungkin terjadi adalah masalah pada rahim. Saat melakukan pemeriksaan panggul, dokter mungkin akan menemukan pertumbuhan tumor jinak di dalam rahim yang disebut fibroid rahim.

Pertumbuhan fibroid rahim biasanya tidak menimbulkan gejala, namun dapat tumbuh cukup besar sehingga dapat menyerupai kehamilan.

4. Penyakit radang panggul

Penyakit radang panggul adalah infeksi yang terjadi ketika bakteri yang ditularkan secara seksual, menyebar dari vagina ke rahim, saluran tuba, atau ovarium.

Gejala radang panggul yang mungkin terjadi, yaitu mengalami nyeri perut bagian bawah, keputihan yang parah dan bau, pendarahan rahim abnormal, nyeri saat berhubungan intim, susah buang air kecil, dan demam.

5. Infeksi menular seksual (IMS)

Penyakit pada sistem reproduksi wanita lain yang mungkin terjadi adalah infeksi menular seksual (IMS). IMS adalah infeksi yang ditularkan melalui berhubungan seksual.

Penyakit ini lebih mudah ditularkan, jika Anda tidak menggunakan pengaman saat hubungan seks. Beberapa bentuk umum dari IMS, yakni klamidia, herpes genital, trikomoniasis, dan HPV.

6. Disfungsi seksual wanita

Rasa sakit setelah berhubungan seks, kurangnya minat seks, atau seks yang tidak memuaskan hanyalah beberapa jenis kondisi yang disebut disfungsi seksual. Disfungsi seksual dapat terjadi karena berbagai faktor, namun bisa saja penyebabnya penyakit jantung, saraf, ginjal, dan gagal hati.

Masalah ini bisa menjadi penyebab infertilitas yang mengakibatkan sulit untuk hamil. Jika Anda tidak memiliki kesenangan untuk melakukan kegiatan seksual, segera konsultasikan masalah ini dengan dokter untuk mencari penyebabnya.

7. Kanker serviks

Kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus (HPV), yang merupakan ancaman serius bagi para wanita. Berdasarkan data WHO, pada tahun 2018 terdapat 520.000 kasus wanita terkena kanker serviks di seluruh dunia. Penyakit ini dapat menjalar menjadi kanker ovarium maupun kanker lain.

Berkat tes Pap smear, kini kanker leher rahim dapat diidentifikasi dan diberikan perawatan sejak dini. Akan tetapi, tes tersebut bisa menyebabkan infertilitas.

8. HIV

Tidak hanya laki-laki, wanita juga dapat terserang virus HIV. Beberapa penderitanya mampu bertahan hidup dengan keberadaan virus tersebut berkat terapi obat retroviral (ARV). Akan tetapi, penderitanya tetap berisiko mengalami gangguan kesuburan.

9. Primary Ovarian Insufficiency (POI)

Wanita berusia di bawah 40 tahun yang memiliki penyakit POI biasanya mengalami gangguan pada ovarium, yang kemudian menyebabkan proses menstruasi terhenti. Wanita dengan POI biasanya mengalami:

  • Suasana hati yang tidak baik
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Seks yang terasa menyakitkan.

10. Infeksi kandung kemih

Wanita dengan penyakit infeksi kandung kemih biasanya mengalami rasa sakit dan tekanan (terutama saat buang air kecil) pada kandung kemih.

Infeksi ini tidak akan memengaruhi kemampuan Anda untuk hamil, tapi hal ini dapat meredupkan dorongan seksual Anda. Jika Anda ingin hamil tapi tidak bersemangat untuk melakukan seks, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter.

Jika Anda merasa mengalami salah satu penyakit pada reproduksi wanita tersebut, sebaiknya segera periksakan diri Anda pada dokter. Dokter akan melakukan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat untuk Anda. Penanganan sedini mungkin bisa meningkatkan kemungkinan Anda untuk sembuh lebih cepat.

Kids Health. https://kidshealth.org/en/teens/female-repro.html
Diakses pada 10 Januari 2020

Web MD. https://www.webmd.com/sex-relationships/guide/your-guide-female-reproductive-system#1
Diakses pada 10 Januari 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/246491.php#chancroid
Diakses pada 10 Januari 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pelvic-inflammatory-disease/symptoms-causes/syc-20352594
Diakses pada 10 Januari 2020

Artikel Terkait