7 Tes Kehamilan Trimester Kedua yang Penting Dilakukan

Tes kehamilan perlu dilakukan pada trimester kedua, untuk mencegah adanya keguguran
Ibu hamil dianjurkan menjalani tes kehamilan di trimester kedua untuk mengantisipasi masalah kesehatan pada bayi.

Adakah cara efektif untuk mencegah kelainan dan masalah kesehatan janin di trimester kedua? Sebab, saat ini banyak sekali risiko kehamilan yang mungkin terjadi pada ibu hamil maupun janin.

Mulai dari pendarahan, kelahiran prematur, sampai down syndrome. Untuk mengantisipasi hal tersebut, ibu hamil disarankan untuk menjalani tes kehamilan berikut ini.

[[artikel-terkait]]

1. Tes Kehamilan Berupa MSAP

Ketika memasuki trimester kedua, dokter akan menawarkan genetic screening test. Salah satu tes tersebut adalah Maternal Serum Alpha-Fetoprotein (MSAFP), untuk mengukur tingkat alpha-fetoprotein, sebagai protein yang dihasilkan janin. Melalui pemeriksaan ini, ibu hamil bisa mengetahui potensi down syndrome dan mendeteksi keadaan organ fetus.

Di samping MSAFP, biasanya dokter menyarankan substansi lain untuk diperiksa pada trimester ini. Substansi tersebut meliputi kadar hCG, hormon estriol, dan inhibin-A. Saat inhibin-A ditambahkan, inilah yang disebut quad screening.

2. Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT)

NIPT sangat penting untuk mengetahui kesehatan janin yang sedang bertumbuh dan berkembang. Tes dengan sampel darah ini dipercaya mampu mendeteksi potensi down syndrome dan jumlah kromosom janin.

Normalnya, manusia sehat memiliki 23 pasang kromosom. Urutan kromosom terakhir digunakan untuk mengenali jenis kelamin calon bayi. NIPT juga memastikan kelengkapan salinan kromosom.

3. Tes Ultrasound

Memasuki minggu ke-20, ibu hamil biasanya ditawari untuk menjalani tes ultrasound. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui risiko cacat lahir pada fetus.

Gambar janin yang sedang bergerak di rahim bisa dilihat dari segala sisi, dengan alat ultrasound. Bahkan, seluruh bagian tubuhnya ditampilkan secara jelas melalui alat ini. Alat diletakkan di atas perut ibu hamil, dengan ujung yang mengeluarkan gelombang suara. Kemudian, gelombang suara memicu gema untuk ditangkap oleh alat, dan diperlihatkan pada layar.

4. Uji Glukosa

Glucose Challenge Test (GCT) atau uji glukosa dilakukan saat usia kehamilan berusia 24-28 minggu. Dengan menjalani GCT, risiko diabetes gestasional pada ibu hamil bisa dideteksi lebih awal.

Dalam pemeriksaan ini, ibu hamil diminta untuk mengonsumsi cairan glukosa, yang harus dihabiskan selama lima menit. Selang dua jam, ibu hamil akan menjalani pengambilan darah, untuk diperiksa di laboratorium. 

5. Tes Amniosentesis

Jika dokter menemukan risiko gangguan kesehatan kehamilan pada multiple screening, maka ibu hamil dianjurkan menjalani amniocentesis test. Umumnya, tes ini disarankan pada usia kehamilan 15-18 minggu, untuk wanita berumur 35 tahun ke atas.

Pemeriksaan ini membutuhkan sampel cairan ketuban, yang diperoleh melalui jarum yang dimasukkan ke perut ibu. Selanjutnya, cairan ketuban tersebut akan dibawa ke laboratorium. Kerusakan pada cairan ketuban, menandakan adanya masalah kesehatan serius pada janin.

6. Fetal Doppler Ultrasound Test

Doppler Ultrasounds merupakan alat yang bekerja menggunakan gelombang suara. Alat ini berfungsi mendeteksi aliran darah melalui pembuluh. Dengan bantuan USG Doppler, ibu hamil bisa mengetahui kondisi siklus darah ke plasenta.

Doppler Ultrasounds versi mini, yang disebut Fetal Doppler, juga mampu mendeteksi detak jantung janin lebih dini. Dengan lapisan gel sebagai media, batangan Doppler digerakkan untuk dikirim sebagai gelombang suara.

7. Antenatal Care

Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan satu kali pemeriksaan melalui antenatal care (ANC), pada kehamilan trimester kedua. Tes ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental ibu hamil, agar dapat menjalani persalinan, melalui masa nifas, memberikan ASI, dan memulihkan kesehatan organ reproduksi.

Memantau tumbuh kembang janin:

Tes ANC bertujuan memantau perkembangan kehamilan, untuk memastikan ibu dan janin tetap sehat.

Mengantisipasi komplikasi:

Ibu hamil mungkin saja mengalami komplikasi. Apalagi, jika memiliki riwayat dan kondisi kesehatan tertentu.

Mempersiapkan persalinan:

Pemeriksaan ANC akan mempersiapkan ibu menjalani proses persalinan, sehingga mampu melahirkan bayi dengan selamat, sekaligus menekan kemungkinan adanya trauma.

Ibu hamil bisa mendapatkan tes ANC di puskesmas, klinik, maupun rumah sakit. Selain dokter kandungan dan dokter umum, bidan serta perawat juga dapat melakukan pemeriksaan tersebut.

WebMD. https://www.webmd.com/baby/guide/second-trimester-tests#1
November 2018

Kementerian Kesehatan RI. http://promkes.kemkes.go.id/pentingnya-pemeriksaan-kehamilan-anc-di-fasilitas-kesehatan
Diakses pada 27 Februari 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed