7 Pilihan Alat Kontrasepsi untuk Ibu Menyusui

03 Mei 2019 | Oleh
Pil KB adalah alat kontrasepsi yang paling tepat untuk ibu menyusui
Pil mini menjadi salah satu alat kontrasepsi yang aman selama menyusui.

Anda mungkin pernah mendengar pernyataan bahwa menyusui bisa berperan layaknya alat kontrasepsi, untuk mencegah kehamilan. Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, hanya ibu yang memberikan ASI eksklusif lah, yang bisa mengurangi potensinya terhadap kehamilan selama masa menyusui.

Anda bisa menjalankan metode menyusui sebagai pilihan untuk menjalankan keluarga berencana (KB). Namun, metode ini hanya efektif enam bulan setelah persalinan. Bagaimana caranya agar Anda bisa menggunakan metode menyusui untuk menekan risiko kehamilan?

Menyusui Sebagai Pengganti Alat Kontrasepsi

Supaya metode menyusui sebagai KB efektif, Anda harus menyusui setidaknya setiap empat jam di siang hari, selama enam jam setiap malamnya, dan tidak mengonsumsi suplemen tambahan. Artinya bayi tidak mendapatkan asupan apapun selain ASI.

Ibu menyusui mungkin belum menyadari tentang masa ovulasi setelah persalinan. Sehingga, kembalinya masa menstruasi belum diantisipasi. Oleh karena itu, selalu ada potensi kehamilan selama masa menyusui. Jika belum siap menjalani kehamilan berikutnya, Anda disarankan menjalani program KB.

Pilihan Alat KB untuk Ibu Menyusui

Beberapa hormon dalam pil KB seperti estrogen, bisa mengganggu suplai ASI. Oleh karena itu, berkonsultasikan dengan bidan maupun dokter, sebelum memilih alat kontrasepsi. Berikut ini beberapa pilihan kontasepsi yang bisa Anda pertimbangkan.

1. Intrauterine Device (IUD)/KB Spiral

IUD atau lebih dikenal dengan KB spiral adalah alat kontrasepsi untukjangka panjang. Berbentuk kumparan kecil dengan panjang hingga 3 cm, IUD menggunakan bahan plastik berbentuk huruf T yang aman, dan tidak berbahaya bagi tubuh. IUD menghambat dan mencegah sperma bertemu dengan sel telur, sehingga tidak terjadi pembuahan.

Kontrasepsi spiral ini dipercaya 99 persen efektif mencegah kehamilan, hingga sepuluh tahun. Selain itu, alat ini bisa dilepas sewaktu-waktu, ketika Anda berubah pikiran dan menginginkan kehamilan. Namun, alat ini pun rentan infeksi karena merupakan objek asing yang dimasukkan ke dalam tubuh.

Pengguna kontrasepsi spiral pun bisa menimbulkan beberapa efek samping seperti kram perut, pendarahan, dan bercak-bercak. Efek samping ini bisa terjadi selama enam bulan pemasangan kontrasepsi. Oleh karena itu, Anda disarankan menjalani kontrol rutin, jika menggunakan alat KB selama masa menyusui.

2. Pil KB Progestin (Pil Mini)

Pil KB tradisional terbuat dari kombinasi estrogen dan progestin. Bagi ibu menyusui, pil ini bisa membawa efek samping berupa penurunan suplai ASI serta durasi menyusui. Untuk menghindari hal tersebut, Anda bisa memilih pil KB jenis progestin atau pil mini, yang cukup efektif dan aman untuk ibu menyusui.

Pil mini ini bekerja dengan cara menebalkan lendir serviks, sehingga sperma tidak mampu menembus saluran telur. Satu pak pil KB progestin terdiri dari 28 pil, yang harus Anda konsumsi pada waktu yang sama setiap hari.

Tujuannya, untuk menekan ovulasi pada siklus menstruasi selama menyusui. Jika Anda melewatkan satu jadwal sekalipun, risiko kehamilan akan meningkat atau kembali subur, dalam waktu 24 jam.

3. Kontrasepsi Luar

Kontrasepsi atau proteksi luar sebagai pilihan KB untuk ibu menyusui yang tidak akan mengganggu kinerja atau suplai ASI, antara lain:

  • Kondom, baik bagi wanita ataupun pria
  • Spons atau diafragma

Produk-produk di atas umumnya tersedia secara bebas di pasaran atau apotek. Gunakan sesuai petunjuk, untuk keberhasilan pencegahan kehamilan sebesar 60-98 persen.

4. KB Implan (Susuk)

Alat kontrasepsi yang satu ini berupa tabung plastik kecil, berisi hormon progestin. Dengan tingkat efektivitas hingga 99 persen, tabung ini akan dimasukkan ke dalam kulit lengan atas, dan bertahan hingga tiga sampai empat tahun.

Kandungan hormon berfungsi untuk mencegah pelepasan sel telur, menebalkan lendir serviks dan mencegah sperma mencapai sel telur. Implan bisa dipasang setelah melahirkan, dan dilepaskan saat ibu ingin hamil kembali.

5. Suntik KB

Suntik KB atau depo provera adalah metode kontrasepsi yang dilakukan dengan cara menyuntikkan hormon progestin, untuk mencegah kehamilan. Suntikan ini bertahan hingga tiga bulan, dan harus diulang agar tingkat efektivitasnya mencapai 97 persen. 

Metode kontrasepsi ini menimbulkan beberapa efek samping berupa sakit kepala, sakit perut, hingga kenaikan berat badan. Saat menjalani metode ini, Anda bisa kembali subur dalam waktu sepuluh bulan atau lebih.

6. KB Kalender

KB kalender merupakan metode kontrasepsi alami, yang mengandalkan penghitungan siklus menstruasi ibu menyusui. Anda harus benar-benar memperhatikan siklus menstruasi, serta beberapa tanda yang dialami tubuh.

Misalnya, suhu ketika ovulasi berlangsung, lendir vagina, serta gejala ovulasi lainnya. Efektivitas metode ini sekitar 76 persen dalam mencegah kehamilan, atau lebih rendah dibanding cara lainnya, jika Anda tidak konsisten dalam penghitungan kalender. Selain itu, metode kontrasepsi alami ini kurang cocok bagi wanita dengan siklus haid yang tidak teratur.

7. Sterilisasi

Sterilisasi adalah metode KB permanen untuk mencegah kehamilan. Dalam metode ini, ibu menyusui harus menjalani operasi pengangkatan tuba falopi. Sehingga, ada beberapa efek samping dari obat anestesi berupa mual, muntah, pusing, dan sebagainya.

Pilihan KB permanen ini dianjurkan bagi pasangan yang tidak menginginkan keturunan lagi.

Biasanya, dokter merekomendasikan ibu untuk tidak berhubungan seksual selama enam minggu setelah persalinan. Jadi, Anda mungkin belum membutuhkan alat kontrasepsi sebelum bayi berusia enam minggu.

Referensi

Healhtline. https://www.healthline.com/health/birth-control/birth-control-while-breastfeeding
Diakses pada Oktober 2018

WebMD. https://www.webmd.com/sex/birth-control/birth-control-breastfeeding#1
Diakses pada 4 Maret 2019

Yang juga penting untuk Anda
Baca Juga
Diskusi Terkait:
Lihat pertanyaan lainnya
Back to Top