Bahaya masturbasi yang bisa terjadi, yaitu disfungsi seksual
Kecanduan menjadi salah satu efek bahaya masturbasi

Pernahkah Anda menonton film Don Jon? Film yang satu ini menceritakan tentang seorang lelaki yang ketagihan menonton film porno sambil melakukan masturbasi. Kegiatan ini dilakukan berdasarkan berbagai alasan, seperti mendapat kesenangan seksual dan melepas ketegangan. 

Meski masturbasi tergolong hal yang normal, ada berbagai bahaya yang mengintai jika kegiatan ini dilakukan secara berlebihan. Lantas, apa bahaya masturbasi?

Bahaya masturbasi yang dapat terjadi

Beberapa bahaya masturbasi yang dapat terjadi jika Anda melakukannya secara berlebihan, di antaranya adalah:

  • Infeksi

Terlalu sering bermasturbasi, melakukannya secara agresif, atau menggunakan alat bantu seks yang tidak bersih bisa menimbulkan risiko terkena infeksi. Kulit pada area sensitif Anda juga berpotensi mengalami iritasi dan peradangan. 

Tak hanya pada alat kelamin, iritasi juga bisa terjadi pada tangan Anda. Ketika mengalami infeksi, organ intim Anda bisa menjadi bengkak, gatal, dan terasa panas. Jika hal ini terjadi, tentu Anda harus mendapat penanganan yang tepat dari dokter untuk mencegah berbagai komplikasi.

Melakukan masturbasi dengan pelumas juga dapat menyebabkan reaksi alergi. Jika Anda hipersensitif terhadap kandungan dari pelumas tersebut maka akan menyebabkan kemerahan, bengkak dan panas.

  • Perasaan bersalah mendalam

Melakukan masturbasi bisa menimbulkan perasaan bersalah karena merasa bertentangan dengan kepercayaan agama, budaya, atau spiritual. Anggapan “kotor” dan memalukan jika melakukan aktivitas tersebut bisa menjadi bumerang yang membuat Anda semakin merasa bersalah. 

Hal ini dapat berpengaruh pada psikologis Anda bila dibiarkan berlarut-larut. Untuk menghilangkan perasaan bersalah tersebut, akan lebih baik jika Anda berkonsultasi pada ahli kesehatan atau terapis seksual agar mendapat jalan keluar yang tepat.

  • Kecanduan 

Bukan hanya narkoba, masturbasi juga bisa menyebabkan kecanduan. Ketika sudah kecanduan, Anda akan menghabiskan banyak waktu untuk melakukan masturbasi hingga mengabaikan orang sekitar, sekolah, pekerjaan, maupun lingkungan. Bahkan terlalu banyak masturbasi dapat menurunkan produktivitas dan merusak hubungan yang Anda miliki. 

Cobalah mengurangi masturbasi dengan melakukan aktivitas lain. Jadi, jika keinginan untuk bermasturbasi timbul, pergilah bersama teman-teman, jogging, menulis, atau lakukan kegiatan lain yang Anda senangi. Di samping itu, Anda juga dapat berkonsultasi pada dokter.

  • Sensitivitas sensual menurun

Melakukan masturbasi secara agresif berisiko menurunkan sensitivitas seksual. Hal ini berkaitan dengan teknik masturbasi yang digunakannya. 

Penelitian menunjukkan bahwa pria yang mencengkram penisnya terlalu kuat ketika melakukan masturbasi dapat menurunkan sensasi seksualnya. Pakar kesehatan seksual pun merekomendasikan untuk melakukan perubahan teknik untuk mengembalikan tingkat sensitivitasnya.

Peningkatan stimulasi, seperti menggunakan vibrator, dapat meningkatkan gairah dan fungsi seksual secara keseluruhan baik pada pria maupun wanita. Wanita yang menggunakan vibrator telah melaporkan terjadinya peningkatan fungsi seksual dan pelumasan. Sementara, pada pria mengalami peningkatan fungsi ereksi.

  • Disfungsi seksual

Bentuk-bentuk masturbasi tertentu dapat menyebabkan risiko terjadinya disfungsi seksual. Para ahli memperingatkan bahwa pria yang sering merangsang dirinya sendiri dengan cara yang berbeda dari apa yang dilakukan oleh pasangannya bisa membuat ejakulasi tertunda.

Ini merupakan jenis disfungsi seksual di mana ia akan sulit atau bahkan sama sekali tidak mencapai klimaks ketika berhubungan seks dengan pasangan. Oleh sebab itu, stimulasi pun harus dibuat lebih mirip dengan apa yang dilakukan pasangannya.

  • Kontraksi pada ibu hamil

Perubahan hormon selama kehamilan bisa meningkatkan gairah seksual pada ibu hamil. Masturbasi pun dilakukan untuk melepas ketegangan seksual selama kehamilan, serta untuk memberi kesenangan diri yang dapat membantu mengurangi gejala kehamilan. 

Namun, Anda juga berisiko mengalami kontraksi ringan dan tidak teratur (Braxton-Hicks) selama dan setelah orgasme. Jika kontraksi tersebut tak kunjung hilang hingga terasa menyakitkan, Anda harus segera menghubungi dokter. 

Ibu hamil yang berisiko tinggi sebaiknya tidak melakukan masturbasi saat hamil karena orgasme bisa meningkatkan peluang untuk melahirkan lebih dini.

Risiko bahaya lain yang dikaitkan dengan masturbasi adalah kanker prostat. Ada yang berpendapat jika masturbasi dapat meningkatkan risiko kanker prostat, namun ada pula yang berpendapat justru dapat menurunkan. 

Hal tersebut masih diperdebatkan dan membutuhkan lebih banyak penelitian lagi. Secara umum, masturbasi sebenarnya aman dilakukan asal tidak dilakukan secara berlebihan. 

Healthline. https://www.healthline.com/health/masturbation-side-effects#prostate-cancer
Diakses pada 14 Februari 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320265#health-benefits-of-masturbation
Diakses pada 14 Februari 2020
Medicine Net. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=100371
Diakses pada 14 Februari 2020

Artikel Terkait

Banner Telemed