5 Wanita Tokoh Kesehatan Indonesia yang Selalu Menginspirasi

Perjuangan tenaga kesehatan di Indonesia untuk memperjuangkan haknya tidak akan pernah usai
Nafsiah Mboi - Dokter Spesialis Anak dan Mantan Menteri Kesehatan

Tenaga kesehatan merupakan profesi yang mulia. Mereka yang bekerja di bidang kesehatan, pastilah sudah menjalani proses yang cukup panjang, untuk bisa tercatat dalam organisasi resmi antarprofesi. Berbeda dari profesi lain, gelar sarjana belum cukup bagi tenaga medis untuk bisa membuka praktik di dunia kesehatan.

Perjuangan mereka belum usai. Tak sedikit tenaga kesehatan yang rela berpindah dari kota ke desa demi mengabdikan demi kesehatan masyarakat. Para tenaga medis tersebut bukan hanya kaum pria, tapi juga wanita. Menjelang peringatan Hari Ibu, berikut ulasan tentang wanita-wanita Indonesia yang berperan penting dalam bidang kesehatan.

1. Nafsiah Mboi, Dokter Spesialis Anak dan Mantan Menteri Kesehatan

Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH adalah dokter spesialis anak yang juga ahli di bidang kesehatan masyarakat. Ia telah mengenyam pendidikan di Indonesia, Eropa dan Amerika Serikat. Nafsiah juga memiliki pengalaman karier yang panjang.

Ia pernah menjabat Ketua Komite PBB untuk Hak-hak Anak (1997-1999), Direktur Department of Gender and Women's Health, WHO, Geneva Switzerland (1999-2002) dan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (2006-sekarang). Nafsiah juga menduduki kursi Anggota DPR/MPR RI untuk periode 1992-1997.

Lebih dari 70 karyanya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris telah dipublikasikan. Sebanyak 20 di antaranya adalah makalah dan artikel.

Nafsiah dikenal sebagai sukarelawan dan pekerja masyarakat sejak masih berstatus sebagai pelajar. Selain itu, Nafsiah pun aktif menyuarakan program keluarga berencana. Ia mendedikasikan diri untuk upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.

Komitmennya dalam hal antidiskriminasi dan kesetaraan di masyarakat, mengarahkan Nafsiah menjadi aktivis untuk hak-hak asasi manusia, dan membawanya sebagai salah satu pendiri Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Indonesia, anggota Komnas HAM, dan Wakil Ketua Komnas Perempuan.

2. Alm. Hasri Ainun Habibie, Pendiri Bank Mata Indonesia

Hasri Ainun Habibie, atau yang lebih dikenal sebagai Ainun Habibie, memang sudah tutup usia pada tahun 2010. Namun jasa besarnya akan selalu dikenang, terutama dalam dunia medis di Indonesia.

Istri Presiden Indonesia Ke-3, B.J. Habibie ini, pernah Ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI) Pusat pada 2010. Ainun memperoleh gelar dokternya pada 1961 dari Universitas Indonesia, dan pernah bekerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Salemba, Jakarta Pusat.

Kehadiran bank mata yang didirikan Ainun, sempat menjadi kontroversi di Tanah Air. Ainun kemudian memperjuangkan lahirnya regulasi untuk donor mata. Fatwa halal bagi donor mata merupakan buah perjuangan Ainun. Sebelum wafat, Ainun berpesan agar kelangsungan kegiatan bank mata dipertahankan. Ia berharap masyarakat menumbuhkan budaya mendonorkan kornea.

Bank Mata telah banyak membantu tunanetra dari keluarga tidak mampu. Para penderita kebutaan akibat kerusakan kornea, pada umumnya berasal dari kelompok masyarakat miskin.

Dalam menjaring pasien yang memang benar-benar membutuhkan donor kornea, Bank Mata bermitra dengan kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM). LSM kemudian akan menghubungkan pasien dengan Bank Mata, untuk selanjutnya dimasukkan dalam daftar tunggu pencangkokan mata. Sejak tahun 2001, Yayasan Dharmais ikut serta dalam membantu Bank Mata dalam menjalankan misinya.

3. Melly Budhiman, Ketua Yayasan Autisma Indonesia

Awalnya tak sengaja, tapi lama-lama justru keterusan. Mungkin istilah itulah yang tepat menggambarkan alasan dr Melly Budhiman SpKJ, seorang psikiater anak, yang kini lebih memfokuskan diri pada anak-anak dengan sindrom autistik.

Dulu, dr. Melly kerap menulis artikel tentang dunia kesehatan Indonesia anak di beberapa media. Selanjutnya pada 1994, ada salah satu kantor media yang memintanya untuk menulis artikel tentang autisme.

Karena saat ini belum banyak informasi yang bisa diperoleh publik mengenai autisme, Melly pun menyetujuinya. Ia biasa merujuk pada teori-teori lama untuk menjelaskan autisme, termasuk gejalanya. Hingga akhirnya pada 1997, Melly dan rekan-rekannya mendirikan Yayasan Autisma Indonesia (YAI).

Tanpa tujuan komersial, yayasan ini melayani kebutuhan anak-anak dengan spektrum autis. Pada 2013, Melly mulai mendapat banyak kunjungan dari pasien autis.

4. Siti Sumiati, Bidan Apung di Kepulauan Seribu

Wanita kelahiran Madiun tahun 1952 ini, memulai tugasnya sebagai bidan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu pada 1971. Dengan keterbatasan fasilitas, Sum, panggilan Siti Sumiati, tetap semangat melayani masyarakat di sana.

Dalam menjalankan profesinya, Sum menggunakan ojek kapal. Tak jarang, ombak harus diterjangnya saat mengunjungi warga. Berkat kegigihannya, tingkat angka kematian ibu melahirkan di Kepulauan Seribu semakin berkurang setiap tahunnya.

Ketangguhan Sum menjalani profesinya, mendapat apresiasi dari World Health Organization (WHO) pada 2008. Di depan Kongres Bidan Sedunia di Glasgow, Skotlandia, Sum menceritakan kisahnya sebagai bidan di Kepulauan Seribu.

5. Nila Moeloek, Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Lahir di Jakarta, 11 April 1949, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek adalah Menteri Kesehatan Indonesia pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Ia juga menjabat Ketua Medical Research Unit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sejak 2007.

Dalam dunia organisasi kesehatan dan medis, Nila menjadi sosok yang sulit dicari padanannya. Selain dipercaya memimpin Dharma Wanita Persatuan (2004-2009), beliau juga memimpin Perhimpunan Dokter Spesialis Mata (Perdami), dan Yayasan Kanker Indonesia (2011-2016).

Posisi sebagai Anggota Dewan The Partnership for Maternal Child and Neonatal Health (PMNCH), lembaga internasional yang melaksanakan inisiatif strategis Sekretaris Jenderal PBB untuk Kesehatan Ibu dan Anak pernah diembannya. Begitu pula dengan suatu sebuah inisiatif global berfokus pada isu pangan, kesehatan, dan keberlangsungannya, yaitu EAT FORUM, sebagai anggota dewan penasehat.

Tak mengherankan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009 meminta Nila menjadi Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Millennium Development Goals, yang bertugas menurunkan kasus HIV-AIDS dan angka kematian ibu dan anak di Indonesia.

Kompasiana. https://www.kompasiana.com/yantigobel/54ffcd84813311235efa702c/hasri-ainun-habibie-donor-mata-dan-penyakit-mata
Diakses pada 19 Desember 2018.

Detik. https://news.detik.com/berita/d-1363265/cinta-ainun-habibie-pada-mata-
Diakses pada 19 Desember 2018.

Kompas. https://lifestyle.kompas.com/read/2016/05/04/170900123/BJ.Habibie.Terdaftar.sebagai.Pendonor.Mata.
Diakses pada 19 Desember 2018.

Detik. https://health.detik.com/doctors-life/d-2372891/dari-menulis-artikel-dr-melly-aktif-bantu-anak-anak-dengan-autisme
Diakses pada 19 Desember 2018.

Kitabasagita. https://kitabasagita.com/siti-sumiyati-bidan-apung-di-kepulauan-seribu/
Diakses pada 19 Desember 2018.

Womensobsession. https://womensobsession.com/profiles/womens-obsession-award/prof-dr-dr-nila-djuwita-f-moeloek-spm-k/
Diakses pada 19 Desember 2018.

Kompas. https://nasional.kompas.com/read/2012/06/13/18473676/Ini.Profil.Menkes.Nafsiah.Mboi
Diakses pada 19 Desember 2018.

Artikel Terkait

Banner Telemed