Jenis-jenis Skizofrenia yang Dahulu Menjadi Acuan Para Ahli

Ada beberapa jenis skizofrenia yang dahulu menjadi acuan para ahli, seperti skizofrenia paranoid dan hebefrenik
Halusinasi, seperti mendengarkan suara yang tidak nyata, merupakan gejala yang kerap dialami penderita skizofrenia

Penyakit skizofrenia merupakan gangguan mental yang kompleks. Orang yang menderita kondisi ini, mengalami kesulitan dalam membedakan kenyataan dan khayalan, mengekspresikan emosi, serta berpikir dan berperilaku yang berpengaruh pada fungsi sehari-hari.

Penderita skizofrenia dapat mengalami delusi atau memercayai sesuatu yang tidak nyata. Misalnya, percaya bahwa ada orang ingin menganiayanya, walau sebenarnya tidak ada. Penderitanya juga mengalami kondisi halusinasi, dengan seolah-olah mendengar atau melihat sesuatu yang tidak nyata atau tidak terjadi.

Jenis-jenis skizofrenia yang dulu digunakan sebagai bahan diagnosis

Pada awalnya, terdapat lima jenis skizofrenia yang menjadi acuan bagi para ahli. Namun, pada tahun 2013 dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th edition (DSM-V), para ahli di American Psychiatric Association (APA) memutuskan untuk menghapus jenis skizofrenia tersebut, dan hanya menggunakan satu payung gangguan, yakni skizofrenia.

Penghapusan jenis skizofenia tersebut, didasarkan pada kesimpulan ilmuwan APA, bahwa kesimpulan terdahulu memiliki stabilitas diagnostik yang terbatas, reliabilitas yang rendah, dan validitas yang buruk.

Berikut ini jenis-jenis skizofrenia, yang klasifisinya dahulu dijadikan acuan oleh para ahli.

  • Skizofrenia paranoid

Jenis ini paling sering dialami oleh penderita skizofenia. Beberapa gejala yang akan ditunjukkan oleh penderita skizofrenia jenis paranoid yakni delusi, halusinasi, dan ketidakteraturan berbicara. Penderitanya juga akan sulit berkonsentrasi, mengalami penurunan kemampuan berperilaku, serta memiliki ekspresi yang datar.

Delusi pada jenis skizofrenia paranoid kerap disebut delusi paranoid atau delusi persekusi. Penderitanya meyakini bahwa orang lain akan menyakitinya dan keluarganya. Misalnya, paranoid bahwa pasangannya selingkuh, rekan kerja berusaha meracuninya, atau tetangga berencana menganiaya.

  • Skizofrenia hebefrenik atau skizofrenia disorganized

Skizofrenia hebefrenik adalah jenis skizofrenia, yang menyebabkan penderitanya tidak teratur dalam berperilaku dan berbicara. Individu dengan skizofrenia hebefrenik biasanya tidak mengalami delusi atau halusinasi.

Ketidakteraturan berperilaku dan berbicara pada penderita skizofrenia hebefrenik, meliputi gangguan saat berbicara, berpikir dengan tidak teratur, menunjukkan ekspresi wajah yang tidak sesuai, ekspresi wajah yang datar, hingga kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

  • Skizofrenia residual

Jenis skizofrenia ini merupakan kondisi yang rumit. Seorang pasien dulu disebut menderita skizofrenia residual apabila sudah terdiagnosis skizofrenia, namun tidak menunjukkan gejala yang menonjol. Hal ini terjadi, karena intensitas gejala skizofrenia tersebut sudah berkurang.

Halusinasi atau delusi mungkin masih ada. Hanya saja, manifestasinya berkurang secara signifikan dibandingkan dengan fase akut penyakit ini. Penderita skizofrenia residual juga biasanya menunjukkan lebih banyak gejala negatif, seperti ekspresi yang datar, gangguan psikomotorik, berbicara dengan lambat, dan tidak memedulikan kebersihan diri.

  • Skizofrenia katatonik

Biasanya, penderita skizofenia katatonik menunjukkan gangguan pergerakan (katatonik). Selain itu, orang-orang yang mengalami kondisi ini juga kerap meniru perilaku orang lain, tidak mau berbicara, dan menunjukkan kondisi seperti pingsan.

Saat ini, para ahli telah sepakat bahwa kondisi katatonik tidak hanya dialami oleh penderita skizofrenia. Penderita gangguan mental lainnya, seperti gangguan bipolar juga bisa mengalami skizofrenia katatonik.

  • Skizofrenia tak terinci

Skizofrenia terinci adalah istilah yang dahulu digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang menggambarkan lebih dari satu jenis skizofrenia.

Seseorang dengan perilaku katatonik yang juga memiliki delusi atau halusinasi, dapat didiagnosis menderita skizofrenia tak terinci.

Meskipun jenis skizofrenia di atas tidak lagi digunakan untuk diagnosis, klasifisikasi ini masih dapat membantu sebagai penentu, dalam perencanaan penanganan medis.

Selain itu, memahami informasi tentang jenis dan skizofrenia secara umum, juga dapat membantu Anda dalam mengelola kondisi mental diri sendiri.

Dengan diagnosis yang akurat, rencana perawatan khusus dapat dibuat dan diimplementasikan oleh tim kesehatan Anda.

[[artikel-terkait]]

Penanganan skizofrenia

Penanganan yang sering digunakan untuk penderita skizofrenia, yakni pemberian obat-obatan antipsikotik. Obat-obatan ini diberikan untuk mengikis gejala skizofrenia, seperti delusi dan halusinasi.

Antipsikotik sendiri terbagi atas dua jenis, yakni antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal. Perbedaan keduanya terletak pada periode penemuannya. Antipsikotik tipikal ditemukan terlebih dahulu dibandingkan atipikal, sehingga disebut sebagai antipsikotik generasi pertama.

Konsumsi obat-obatan antipsikotik dapat menimbulkan efek samping, dan kerap menyulitkan untuk berkomitmen pada rencana pengobatan. Apabila orang terdekat harus mengonsumsi antipsikotik, pastikan Anda memberikan dukungan terbaik.

Healthline. https://www.healthline.com/health/schizophrenia-types

Diakses pada 2 September 2019

 

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443

Diakses pada 2 September 2019

 

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/192770.php

Diakses pada 2 September 2019

 

Web MD. https://www.webmd.com/schizophrenia/guide/schizophrenia-paranoia

Diakses pada 2 September 2019

 

Web MD. https://www.webmd.com/schizophrenia/medicines-to-treat-schizophrenia

Diakses pada 2 September 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed