Selain Sex dan Jarum Suntik, Ini 3 Cara Penularan HIV yang Jarang Didengar

Seseorang dapat terinfeksi virus HIV saat berhubungan seksual dengan penderita HIV
Penularan HIV hanya dapat terjadi jika darah, air mani, cairan dari anus, air susu ibu, atau cairan dari vagina

HIV AIDS adalah penyakit yang cukup ditakuti oleh masyarakat karena belum ada obat untuk menyembuhkannya. Selain itu, HIV juga ditakuti karena gejalanya yang sulit dideteksi. HIV yang tidak dideteksi secara dini dapat berkembang menjadi AIDS.

AIDS merupakan kondisi saat sistem imun sudah terlalu rusak untuk dapat melawan infeksi dan penyakit yang normalnya dapat diatasi dengan mudah pada orang-orang yang sehat. Oleh karena itu, penderita AIDS rentan terhadap infeksi dan penyakit.

Kekhawatiran akan HIV AIDS terkadang membuat informasi mengenai penyakit ini semakin simpang siur. Salah satu hal yang paling sering disalahpahami dalam masyarakat adalah cara penularan HIV.

Penularan HIV

Penularan HIV hanya dapat terjadi jika darah, air mani, cairan dari anus, air susu ibu, atau cairan dari vagina penderita HIV masuk ke dalam tubuh orang lain. Masyarakat umumnya mengetahui penularan HIV melalui jarum suntik dan melakukan hubungan seksual.

Penularan HIV melalui jarum suntik biasanya terjadi di lingkungan pemakai narkotika. Alat-alat yang digunakan untuk menindik ataupun membuat tato yang tidak disterilkan juga dapat menjadi cara penularan HIV.

Selain itu, seseorang juga dapat terinfeksi virus HIV saat berhubungan seksual dengan penderita HIV, terutama jika tidak menggunakan kondom. Bila air mani, cairan dari vagina, atau cairan dari anus penderita HIV masuk ke dalam tubuh saat berhubungan seksual, Anda dapat terinfeksi virus HIV.

Penularan HIV juga dapat terjadi jika seseorang saling berbagi alat-alat yang digunakan saat berhubungan seksual (sex toys). Saat melakukan seks oral, seseorang juga dapat terinfeksi HIV bila terdapat luka di mulutnya.

Tak hanya berbagi jarum suntik dan berhubungan seks dengan penderita HIV, Anda juga dapat tertular HIV melalui cara-cara berikut:

1. Transfusi darah

Penularan HIV dapat terjadi jika seseorang menerima transfusi darah dari penderita HIV. Namun, risiko penularan HIV melalui transfusi darah sangat kecil karena rumah sakit akan selalu memeriksa darah yang didonorkan terlebih dahulu.

2. Kehamilan, melahirkan, dan menyusui anak

Wanita yang menderita HIV dapat menularkan virus HIV ke bayinya saat janin masih di kandungan maupun saat bayi dilahirkan. Penularan HIV ke bayi juga dapat ditularkan melalui ASI.

3. Luka di Kulit

Penularan HIV dapat terjadi melalui kontak luka dengan penderita HIV. Jika seseorang memiliki luka di kulitnya dan tersentuh dengan luka penderita HIV, maka orang tersebut dapat terinfeksi virus HIV.

Perlu diketahui bahwa penularan HIV tidak terjadi saat Anda melakukan sentuhan fisik dengan penderita (seperti berjabat tangan, berpelukan, dan sebagainya), berbagi makanan dan minuman, kamar mandi, handuk, ataupun tempat tidur dengan penderita.

Virus HIV tidak dapat menular melalui udara, air, ataupun gigitan serangga (seperti nyamuk, dan sebagainya).

Penularan HIV juga tidak dapat ditularkan melalui saliva, keringat, maupun air mata penderita, kecuali jika saliva, keringat, dan air mata penderita bercampur dengan darah penderita.

Penularan HIV dapat dicegah dengan mengetahui informasi yang benar mengenai virus HIV. Oleh karena itu, berikan edukasi pada orang-orang di sekitar Anda mengenai penularan HIV agar orang-orang yang Anda sayangi dapat terhindar dari infeksi HIV.

CDC. https://www.cdc.gov/hiv/risk/condoms.html
Diakses pada 05 April 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/hiv-aids#hiv-transmission
Diakses pada 05 April 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiv-aids/symptoms-causes/syc-20373524
Diakses pada 05 April 2019

NHS.
https://www.nhs.uk/conditions/hiv-and-aids/causes/
Diakses pada 05 April 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed