2 Operasi yang Bisa Anda Jalani untuk Penyembuhan Kista Ovarium

Operasi ini dilakukan untuk kista ovarium yang tak kunjung hilang.
Jika kista menyebabkan gejala, tumbuh lebih besar, atau tak kunjung hilang, maka dokter akan merekomendasikan operasi.

Ovarium adalah bagian dari sistem reproduksi wanita yang terletak di perut bagian bawah, tepatnya di kedua sisi rahim. Wanita memiliki dua ovarium yang menghasilkan sel telur, hormon estrogen, dan progesteron.

Kista ovarium merupakan kantong atau benjolan berisi cairan di ovarium. Ada berbagai jenis kista ovarium, seperti kista dermoid, kista endometrioma, kistadenomakista denomas, kista folikel, dan kista korpus luteum.

Pemeriksaan medis untuk kista ovarium

Dalam kebanyakan kasus, kista tidak menimbulkan gejala. Akan tetapi, gejala dapat muncul ketika kista tumbuh. Bahkan ada gejala kista ovarium yang parah, hingga membutuhkan pertolongan medis secepatnya.

Bila Anda terkena kista ovarium, maka akan terlihat pembengkakan pada salah satu ovarium Anda. Dokter akan melakukan tes ultrasonografi untuk mengonfirmasi keberadaan kista tersebut.

Tes ultrasonografi adalah tes pencitraan menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar organ internal. Tak hanya itu, tes tersebut juga dilakukan untuk membantu menentukan ukuran, lokasi, bentuk, dan komposisi dari suatu kista.

Alat pencitraan yang digunakan untuk mendiagnosis kista ovarium yaitu CT Scan, MRI, dan ultrasonografiultrasound device. Sebagian besar kista biasanya menghilang dalam hitungan minggu atau bulan.

Oleh sebab itu, dokter tidak akan secepatnya merekomendasikan rencana perawatan. Sebagai gantinya, dokter akan mengulangi tes ultrasound dalam beberapa minggu atau bulan selanjutnya, untuk memeriksa kondisi Anda.

Jika tidak ada perubahan pada kondisi Anda atau jika ukuran kista meningkat, maka dokter mungkin akan menyarankan operasi.

2 Pilihan operasi kista ovarium

Jika kista menyebabkan gejala, tumbuh lebih besar, atau tak kunjung hilang, maka operasi menjadi cara untuk mengecilkan atau menghilangkannya. Operasi juga biasanya direkomendasikan jika ada kekhawatiran kista berkembang menjadi kanker.

Ada dua jenis operasi dengan anestesi umum yang digunakan untuk mengangkat kista ovarium, yaitu sebagai berikut:

1. Laparoskopi

Jika kista ovarium berukuran kecil, dan hasil tes pencitraan menunjukkan bahwa kista ovarium perlu diangkat, maka dokter bedah dapat melakukan operasi laparoskopi untuk mengangkat kista.

Dokter bedah akan membuat sayatan kecil di dekat pusar Anda, dan memasukkan mikroskop kecil berbentuk tabung dengan cahaya di ujungnya (laparoskop). Dengan alat ini, dokter bedah dapat melihat organ dalam Anda.

Dokter bedah kemudian mengangkat kista ovarium melalui sayatan kecil di dekat pusar Anda. Setelah kista diangkat, luka akan ditutup dengan jahitan. Operasi laparoskopi membutuhkan waktu pemulihan yang relatif singkat, dan tidak menyebabkan sakit berlebihan.

2. Laparotomi

Jika memiliki kista ovarium besar atau dapat menjadi kanker, maka operasi laparotomi akan disarankan. Dokter bedah akan membuat sayatan besar di perut Anda untuk memudahkan akses ke kista, kemudian melakukan biopsi langsung.

Seluruh kista ovarium dapat diangkat, dan dikirim ke laboratorium, untuk memeriksa kemungkinan adanya kanker. Jika dokter menemukan kanker, maka Anda mungkin akan menjalani  histerektomi untuk mengangkat ovarium dari rahim.

Perawatan setelah pengangkatan kista ovarium

Setelah kista ovarium diangkat, Anda akan merasakan sakit di perut, meski dalam satu atau dua hari akan membaik. Pemulihan setelah operasi laparoskopi biasanya memakan waktu kurang lebih dua minggu.

Sementara itu, pemulihan setelah laparotomi biasanya memakan waktu lebih lama, yaitu sekitar enam hingga delapan minggu. Setelah operasi kista ovarium, ada kemungkinan Anda terkena infeksi.

Hubungi dokter, jika Anda mengalami gejala-gejala infeksi berikut ini selama masa pemulihan.

Healthline. https://www.healthline.com/health/ovarian-cysts
Diakses pada 20 April 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/ovarian-cyst/treatment/
Diakses pada 20 April 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed