Menopause pada pria menjadi salah satu topik dalam pertanyaan seputar seks dan kesehatan reproduksi yang kerap muncul.
Salah satu pertanyaan tentang seks dan kesehatan reproduksi yang kerap muncul adalah tentang menopause pada pria.

Apakah Anda punya pertanyaan tentang seks dan kesehatan yang ingin ditanyakan? Simak pertanyaan-pertanyaan umum seputar seks dan kesehatan reproduksi di bawah ini. Siapa tahu, Anda bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini ada di kepala.

1. Apakah Pria Mengalami Menopause?

Jawabannya adalah ya, seorang pria juga mengalami menopause tetapi ada di tingkat yang berbeda dari wanita. Menopause adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan akhir masa subur wanita. Secara harfiah, berarti masa berakhirnya menstruasi.

Menopause pria ditandai dengan adanya perubahan dalam produksi hormon. Sementara itu, berbeda dari indung telur wanita, testis pria tidak dapat kehilangan kemampuannya dalam memproduksi hormon.

Dalam kondisi yang sehat, organ reproduksi pria mampu menghasilkan sperma dengan baik, hingga berusia 80 tahun atau lebih. Meski demikian, perubahan kecil pada fungsi testis, dapat terjadi pada usia 45-50 tahun, dan menjadi lebih signifikan pada umur 70 tahun.

Menopause pada pria ini dikenal sebagai kekurangan androgen (testosteron), yang biasanya dialami pria lansia. Namun, menurunnya testosteron ini juga dapat dikaitkan dengan beberapa penyakit, seperti diabetes.

2. Seberapa Sering Wanita Harus Melakukan Pemeriksaan Panggul dan Tes Pap Smear?

Tes pap smear dianjurkan bagi wanita berusia 21 tahun ke atas. American College of Obstetrics and Gynecology merekomendasikan skrining rutin untuk wanita dari usia 21-65 tahun, setiap 2 tahun sekali, untuk menjalani pemeriksaan pap smear.

Tes ini akan lebih sering dilakukan jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya gejala kanker serviks. Menggabungkan tes pap smear dengan tes Human Papillomavirus (HPV), dapat dengan aman memperpanjang interval antara setiap pemeriksaan kanker serviks, dari 3 menjadi 5 tahun, pada wanita berumur 30-65 tahun berdasarkan data U.S Preventive services Task Force (USPSTF).

Mereka juga yakin bahwa pengujian HPV tidak disarankan untuk wanita berusia 20-an. Orang-orang di kelompok usia ini, dapat mengalami infeksi HPV yang akan sembuh tanpa pengobatan. Wanita di atas 65 tahun bisa berhenti melakukan tes pap smear, jika sudah melakukan tiga kali tes dengan hasil negatif secara berturut-turut, atau dua kali tes HPV dengan hasil negatif.

Sebaliknya, wanita yang memiliki hasil tes berupa kelainan prakanker, harus terus melakukan tes setidaknya selama 20 tahun.

3. Apa Risiko dan Manfaat Sunat?

Sunat pada laki-laki yang baru lahir karena alasan medis atau kesehatan adalah masalah yang hingga saat ini diperdebatkan. Pada 2012, American Academy of Pediatrics (AAP) melaporkan bahwa sunat memiliki manfaat dan risiko medis. Bukti ilmiah yang ada, tidak cukup untuk merekomendasikan sunat.

Oleh karena itu, prosedur ini tidak penting untuk kesejahteraan anak. Jadi, keputusan sunat menjadi sebuah keputusan bagi orangtua dan dokter, dengan mempertimbangkan banyak hal termasuk kesehatan, agama, budaya, dan tradisi etnis. Ada pun beberapa manfaat dari sunat, antara lain:

  • Penurunan risiko infeksi saluran kemih
  • Penurunan risiko penyakit menular seksual pada pria
  • Perlindungan terhadap kanker penis dan risiko kanker serviks pada wanita
  • Pencegahan radang kelenjar dan radang kelenjar dan kulup
  • Pencegahan ketidakmampuan untuk menarik kembali kulup
  • Pencegahan ketidakmampuan untuk mengembalikan kulit khatan ke tempat asalnya

Sementara itu, risiko yang dapat dialami saat sunat adalah:

  • Rasa sakit
  • Pendarahan dan infeksi
  • Iritasi pada kelenjar
  • Peningkatan risiko uretritis
  • Risiko cedera penis

4. Apakah Keputihan Merupakan Kondisi Normal?

Wanita normalnya akan menghasilkan cairan vagina, berupa sebagai cairan bening atau keputihan, tidak menyebabkan iritasi, dan tidak berbau. Selama siklus menstruasi yang normal, jumlah dan konsistensi keputihan dapat bervariasi. Pada suatu periode dalam 1 bulan, mungkin ada sejumlah kecil dari cairan yang sangat tipis serta berair,

Namun di lain waktu, cairan yang banyak dan kental muncul. Semua proses ini dianggap normal. Keputihan yang berbau atau mengiritasi biasanya dianggap tidak normal. Iritasi tersebut dapat berupa rasa gatal, terbakar, atau keduanya. Rasa gatal dapat hadir kapan saja, namun sering kali mengganggu saat malam hari. Oleh karena itu, penting untuk mengonsultasikan perubahan ini pada dokter.

5. Apakah Terapi Pergantian Hormon untuk Menopause Berdampak Buruk bagi Wanita?

Ada banyak perdebatan di kalangan komunitas ilmiah tentang pergantian hormon atau hormone
replacement therapy (HRT) ini. Secara umum, pengobatan hormon diyakini dapat menjaga kesehatan tulang setelah menopause dan dapat menghilangkan gejala menopause.

Namun seperti semua pengobatan, mungkin akan ada beberapa efek samping yang berbahaya, termasuk peningkatan risiko kanker uterus dan kanker payudara. Terapi ini juga tidak cocok untuk semua orang.

6. Bisakah Wanita Hamil saat Menyusui?

Meskipun menyusui dapat menekan atau menunda masa menstruasi, ternyata Anda tetap berpotensi hamil. Ovulasi akan terjadi sebelum Anda mulai mengalami periode menstruasi lagi, jadi ikuti rekomendasi dokter tentang metode kontrasepsi yang tepat untuk digunakan.

7. Dapatkah Histerektomi Menyebabkan Masalah Seksual bagi Wanita?

Beberapa wanita akan mengalami perubahan fungsi seks setelah histerektomi (operasi pengangkatan rahim). Perubahan ini dapat berupa hilangnya keinginan melakukan seks, lubrikasi vagina yang berkurang, dan sensasi genital. Lebih lanjut, operasi dapat merusak saraf dan pembuluh darah yang dianggap penting bagi fungsi seksual wanita.

8. Dapatkah Sifilis Menular?

Sifilis merupakan penyakit menular seksual. Seseorang dengan sifilis dapat menyebarkan infeksi dalam dua tahap penyakit ini. Jika Anda bersentuhan dengan luka terbuka (tahap pertama) atau adanya ruam kulit (tahap kedua), maka Anda dapat terjangkit bakteri yang menyebabkan infeksi. Jika bakteri masuk ke tubuh Anda melalui pembukaan seperti penis, anus, vagina, mulut, atau kulit yang pecah maka Anda dapat tertular sifilis.

9. Bagaimana Cara Seseorang bisa Terinfeksi HIV?

Berikut ini merupakan aktivitas yang bisa meningkatkan risiko infeksi HIV:

  • Berbagi jarum suntik untuk mengambil obat
  • Melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi

Sementara itu, HIV tidak menular saat Anda:

  • Menyentuh atau memeluk seseorang penderita HIV
  • Berbagi kamar mandi umum atau kolam renang dengan penderita
  • Berbagi cangkir, peralatan, ponsel dengan seorang pengidap
  • Digigit serangga

10. Apakah Boleh Menggunakan Vaseline sebagai Pelumas dengan Kondom Lateks?

Jawabannya adalah tidak. Gunakan hanya pelumas yang berbahan air dengan kondom. Bahan dengan berbasis minyak dapat melemahkan kondom dan merusaknya.

Faktor-faktor yang Pengaruhi Kesehatan Reproduksi

Berdasarkan pemetaan Kementerian Kesehatan RI, setidaknya ada 4 faktor yang memengaruhi kesehatan reproduksi, yaitu faktor demografis-ekonomi, budaya dan lingkungan, psikologis, dan biologis.

1. Faktor Demografis-Ekonomi

Tingkat pendidikan dan kesejahteraan, ikut memengaruhi pemahaman tentang perkembangan seksual serta proses reproduksi. Sementara itu, faktor demografis pun berdampak pada akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi.

2. Faktor Budaya dan Lingkungan

Kepercayaan, persepsi masyarakat, dan lokasi tempat tinggal, bisa membawa dampak pada pengetahuan terhadap kesehatan reproduksi. Sebab, masih ada pandangan "banyak anak banyak rezeki" di kalangan masyarakat Indonesia, tanpa disertai dengan pengetahuan memadai tentang kesehatan reproduksi.

3. Faktor Psikologis

Ternyata, rendahnya rasa percaya diri, bisa berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi. Selain itu, adanya akibat kekerasan pun, akan memengaruhi kesehatan reproduksi.

4. Faktor Biologis

Dalam hal ini, yang dimaksud faktor biologis antara lain kecacatan organ reproduksi, gizi buruk, anemia, dan radang panggul. Faktor ini terutama berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi wanita.

WebMD. https://www.webmd.com/sexual-conditions/sexual-health-faq
Diakses pada November 2018


Kementerian Kesehatan RI.
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/Kespro-dan-KB-Komprehensif.pdf
Diakses pada 13 Maret 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed