Konsentrasi dan kesehatan anak antara lain dipengaruhi oleh durasi serta jam tidurnya.
Durasi dan waktu tidur anak memengaruhi kesehatan serta daya konsentrasinya.

Durasi dan waktu tidur anak tentu akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatannya, termasuk daya konsentrasi serta mood sepanjang hari. Selain itu, masih banyak fakta menarik tentang pentingnya menjaga waktu tidur bagi anak. Simak fakta-fakta tersebut dalam artikel berikut ini.

Fakta ke-1 tentang Waktu Tidur Anak: Tidur untuk Tumbuh Kembang

Anda sebaiknya membiasakan anak tidur secara teratur, bukan demi membuatnya tidak rewel. Sebab, anak membutuhkan tidur untuk menunjang pertumbuhan dan kesehatannya. Otot-otot pada tubuh anak, termasuk jantung, akan mengalami perbaikan saat tidur. Tidur juga membantu anak mengontrol sinyal yang memberitahu kondisi lapar atau kenyang. Kemampuan ini menunjang anak dalam menjaga berat badan tetap ideal.

Fakta ke-2: Tidur Meningkatkan Kinerja Otak Anak

Saat tidur, kenangan anak tentang aktivitas di hari tersebut, tersimpan dalam otak. Anak akan mengingatnya di kemudian hari. Hal ini penting dalam proses belajar anak. Oleh sebab itu, anak membutuhkan waktu tidur yang cukup, untuk mendukung kegiatan belajarnya di sekolah. Jika kualitas tidurnya baik, anak akan lebih berkonsentrasi dalam kegiatan-kegiatannya di sekolah.

Fakta ke-3: Anak Butuh hingga 14 Jam Waktu Tidur

Anak-anak membutuhkan waktu istirahat lebih banyak dibandingkan orang dewasa. Berdasarkan Journal of Clinical Sleep Medicine, berikut ini panduan durasi tidur anak dan remaja berdasarkan usianya.

Bayi 4-12 bulan:

12-16 jam per hari

Anak 1-2 tahun:

11-14 jam per hari

Anak 3-5 tahun:

10-13 jam per hari

Anak 6-12 tahun:

9-12 jam per hari

Remaja 13-18 tahun:

8-10 jam per hari

Fakta ke-4: Anak Berhenti Tidur Siang Sejak 5 Tahun

Durasi tidur siang bergantung pada lamanya anak tidur di malam hari. Anak mungkin mendapatkan sebagian besar dari 13 jam tidurnya setelah senja. Kemungkinan lain, anak menghabiskan delapan jam tidur malam, dan mendapatkan sisanya saat tidur siang.

Namun, sebagian besar anak-anak sudah tidak lagi tidur siang sejak mereka berusia 5 tahun. Jika anak Anda masih melakukannya pada usia tersebut, ia mungkin memerlukan waktu tidur lebih awal. Jika anak remaja Anda tidur siang di siang hari, hal ini menandakan kurangnya tidur di malam hari.

Fakta ke-5: Aktivitas Menyenangkan Bisa Bantu Anak Tidur

Membujuk anak untuk tidur, tak harus berakhir menjengkelkan. Kuncinya, tetaplah berpegang pada rutinitas harian, bahkan saat akhir pekan sekalipun. Rencanakan aktivitas yang menyenangkan sebelum tidur. Misalnya membaca buku dengan cahaya redup. Pastikan anak tidur dengan kondisi kamar yang nyaman, sejuk, tenang, dan gelap.

Fakta ke-6: Anak Remaja Bisa Tidur Tepat Waktu

Bukan mustahil untuk meminta anak remaja tidur tepat waktu. Namun hal ini juga bukan perkara mudah. Berbagai aktivitas anak remaja membuatnya tidur larut malam, atau malah tidur di pagi hari. Untuk mengatasinya, redupkan lampu kamar di malam hari dan pastikan suhu tetap sejuk. Jangan lupa meminta anak untuk terbiasa mematikan televisi, ponsel, maupun komputer saat tidur.

Fakta ke-7: Masuk Sekolah Lebih Siang Bisa Berdampak Baik

Masuk sekolah lebih siang memang menjadi isu kontroversial, baik untuk pihak sekolah maupun orangtua. Tidak ada solusi yang mudah. Sebab, kebanyakan bel masuk sekolah sebelum jam 08.00. Kondisi ini bisa membuat anak kurang tidur. Jika jam masuk sekolah dimundurkan menjadi lebih siang, anak-anak berpotensi lebih berprestasi dalam kegiatan akademis. Sebuah studi menunjukkan, anak remaja dengan waktu tidur yang cukup, memiliki nilai akademis termasuk ujian, yang tinggi.

Fakta ke-8: 15 Menit Pertama Penting untuk Jam Tidur Anak

Hal paling mudah mengetahui kualitas tidur anak adalah, jika ia dapat tertidur 15-30 menit setelah memasuki kamarnya. Dengan tidur berkualitas, anak akan bangun dengan mudah di pagi hari. Anda pun tidak harus berkali-kali ke kamarnya untuk memastikan anak bangun dan tidak terlambat ke sekolah.

Fakta ke-9: Anak Bisa Mengalami Gangguan Tidur

Terkadang, ada kondisi medis di balik kesulitan tidur yang dialami anak. Oleh karena itu, perhatikan dengkuran, jeda panjang antara napas, atau kesulitan bernapas selama tidur. Anak mungkin memerlukan pemeriksaan untuk menemukan gejala apnea. Tidur sambil berjalan, mimpi buruk, atau mengompol juga bisa menandakan gangguan tidur. Jika hal ini terjadi, berkonsultasilah dengan dokter.

Fakta ke-10: Tidur Membantu Membunuh Kuman

Selama tidur, tubuh anak (juga orang dewasa), memproduksi protein yang dikenal sebagai sitokine (cytokine). Protein ini berguna dalam melawan kuman penyebab infeksi, penyakit, dan stres. Selain itu, protein ini membuat anak mengantuk. Oleh karena itu, ketika mengalami pilek atau flu, anak merasa sangat kelelahan dan membutuhkan tidur lebih lama. Sebuah penelitian menunjukkan, anak yang tidur dengan cukup di malam hari, jarang mengalami sakit.

WebMd. https://www.webmd.com/children/features/good-sound-sleep-for-children#1
Diakses pada Januari 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health-news/new-guidelines-for-hours-of-sleep-child-needs#2
Diakses pada 26 Februari 2019

Parents.com. https://www.parents.com/health/healthy-happy-kids/the-7-reasons-your-kid-needs-sleep/
Diakses pada 26 Februari 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed